Kurangi Protein Bisa Bantu Perlambat Efek Penuaan, Ketahui Faktanya

  • 24 Agt 2026 11:21 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengurangi asupan protein, terutama beberapa jenis asam amino tertentu, berpotensi mendukung proses penuaan yang lebih sehat dan memperpanjang usia. Dilansir dari laman Healthline, temuan ini berasal dari tinjauan yang menganalisis lebih dari 350 penelitian laboratorium dan hewan mengenai hubungan antara protein, metabolisme, dan penuaan.

Dalam penelitian tersebut, pembatasan protein dalam jumlah sedang dikaitkan dengan peningkatan metabolisme, penurunan peradangan, serta berkurangnya kerusakan pada sel. Namun, manfaat tersebut belum dapat diartikan bahwa setiap orang harus mengurangi protein dalam pola makan sehari-hari.

Para peneliti juga menyoroti tiga asam amino, yaitu metionin, isoleusin, dan valin, yang diduga berperan dalam proses biologis terkait pertumbuhan dan penuaan. Pada penelitian terhadap hewan pengerat, pembatasan asam amino tertentu bahkan dikaitkan dengan peningkatan usia hidup, meskipun hasil serupa belum terbukti secara langsung pada manusia.

Salah satu mekanisme yang mungkin menjelaskan manfaat tersebut adalah peningkatan kadar FGF21, hormon yang dapat membantu mengatur metabolisme dan mengurangi peradangan. Pembatasan protein juga dapat memengaruhi jalur pengatur nutrisi di dalam sel sehingga mendorong autofagi, yaitu proses alami tubuh untuk membersihkan komponen sel yang rusak.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa pembatasan protein berpotensi memperbaiki fungsi mitokondria dan mengurangi stres oksidatif yang dapat merusak jaringan tubuh. Meski demikian, sebagian besar bukti mengenai efek tersebut masih berasal dari penelitian pada hewan sehingga penelitian jangka panjang pada manusia masih diperlukan.

Temuan ini juga tidak berarti bahwa protein merupakan nutrisi yang harus dihindari, karena kebutuhan setiap orang berbeda berdasarkan usia, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Orang lanjut usia, anak-anak, remaja, ibu hamil, atlet, serta mereka yang sedang memulihkan diri dari penyakit atau cedera justru dapat membutuhkan asupan protein lebih tinggi.

Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dipahami sebagai dorongan untuk mengonsumsi protein secara seimbang, bukan mengikuti pola makan rendah protein secara ekstrem. Sebelum mengubah pola makan secara signifikan, terutama dengan mengurangi protein, sebaiknya seseorang berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi agar kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....