Generasi Z Pahami Fakta dan Lawan Stigma HIV bersama RRI dan Prodia

  • 28 Feb 2026 11:53 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Radio Republik Indonesia (RRI) Palangka Raya menggelar Talk Show dengan tema "Remaja Cerdas: Kenal, Cegah, dan Stop Stigma pada HIV/AIDS" pada Jumat, 27 Februari 2026. Acara ini diselenggarakan sebagai respons atas perlunya peningkatan pemahaman generasi muda mengenai mengenai pencegahan virus HIV serta upaya memutus rantai diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kalimantan Tengah.

Dalam program tersebut, dr. Crista Lorensa selaku Dokter Umum Prodia Palangka Raya meluruskan persepsi masyarakat yang selama ini keliru. Ia menegaskan bahwa stigma negatif seringkali muncul karena ketidaktahuan tentang cara penularan virus. Menurutnya, berinteraksi sosial secara normal dengan pengidap HIV sama sekali tidak berisiko menularkan penyakit tersebut.

"berganti pakaian tidak menularkan, bersalaman tidak menularkan, duduk bersama tidak menularkan. Jadi kalau misalnya kita duduk bersama nih, kita ngobrol, kita bersalaman, makan hadap-hadapan dengan orang HIV atau berenang dengan orang HIV di satu kolam renang, itu tidak akan menularkan" ujarnya dengan tegas untuk menepis ketakutan masyarakat.

Selain itu untuk melengkapi perspektif medis, Ibu Winih Ayu Jati, S.F., Apt., selaku Kepala Cabang Prodia Palangka Raya, memberikan ketenangan bagi masyarakat yang ingin melakukan deteksi dini. Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan HIV saat ini sudah sangat modern dan aman, di mana prosedur pemeriksaan telah dirancang khusus dengan pendampingan medis yang ketat untuk menjaga kesehatan mental dan kerahasiaan pasien.

"Kenapa harus didampingi dokter? Karena tidak semua orang siap mental saat melakukan pemeriksaan HIV. Dokter hadir sebagai pemberi dukungan pertama jika pasien memiliki keluhan atau kekhawatiran," kata bu Winih menyakinkan.

Dalam Talk Show tersebut tenaga medis mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berani melakukan skrining kesehatan sedini mungkin guna menjamin kualitas masa depan yang lebih cerah. Mereka menegaskan bahwa pendampingan dokter dalam proses pra-konseling dan pasca-konseling merupakan solusi medis yang tepat untuk menjaga kesiapan mental sekaligus mengedukasi pasien mengenai cara penularan yang benar.

Selain bahasan medis, perwakilan anak muda bernama Gihon juga turut memberikan perspektifnya. Gihon mengajak rekan-rekan mahasiswa dan remaja untuk menjaga gaya hidup agar tidak terjerumus pada perilaku berisiko. Ia menekankan pentingnya menjaga jati diri dan batasan pergaulan agar tetap berada di jalur yang positif.

"Harapannya jati diri kita sebagai anak muda tidak melenceng terlalu jauh, seperti kebiasaan pulang pagi yang tidak jelas tujuannya. Hal-hal seperti itu yang perlu ditekankan agar teman-teman mahasiswa bisa menjadi pribadi yang lebih positif, hidup sehat, dan berumur panjang," ujar Gihon penuh harap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....