Perbedaan Risiko Medis atau Malpraktik

  • 14 Feb 2026 13:45 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Dua istilah yang sering membingungkan masyarakat saat hasil tindakan medis tidak sesuai harapan kini mendapat penjelasan gamblang dari dunia medis. Risiko medis dan malpraktik, meski kerap dianggap sama, ternyata memiliki perbedaan mendasar yang perlu dipahami publik.

Dikutip dari tulisan diakun media sosialnya, Sabtu, 14 Februari 2026. Plt. Direktur RSUD Doris Sylvanus, Suyuti Syamsul, memberikan informasi penting terkait kedua istilah yang acap kali rancu digunakan ini. Menurutnya, perbedaan utama terletak pada kepatuhan terhadap Standar Prosedur Operasional (SPO) dan ada tidaknya unsur kelalaian.

Risiko Medis: Konsekuensi yang Melekat pada Tindakan Medis

Risiko medis, menurut Suyuti, adalah dampak yang mungkin terjadi meskipun tindakan medis telah dilakukan sesuai SPO. "Ini adalah konsekuensi melekat yang mungkin terjadi pada tindakan medis, meskipun SPO telah diikuti dengan benar," katanya.

Beberapa faktor yang menyebabkan risiko medis antara lain kondisi setiap pasien yang berbeda-beda, reaksi tubuh terhadap obat yang bervariasi, atau efek samping yang tidak terduga. Dalam kasus risiko medis, dokter tidak dapat dituntut secara hukum jika telah mengikuti SPO dan mendapatkan informed consent dari pasien.

Contoh konkretnya adalah pasien yang mengalami reaksi berat seperti Syndrome Stephen Johnson akibat penggunaan obat tertentu. Meskipun obat telah diberikan sesuai prosedur, reaksi tubuh pasien yang berbeda dapat memicu komplikasi yang tidak terduga.

Malpraktik: Ketika Kelalaian Menyebabkan Kerugian

Berbeda dengan risiko medis, malpraktik adalah kesalahan atau kelalaian profesional yang menyimpang dari SPO sehingga menyebabkan kerugian atau cedera pada pasien. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kelalaian, ketidakkompetenan, hingga ketidakpatuhan terhadap SPO.

"Dalam kasus malpraktik, dokter dapat dituntut secara hukum maupun administratif karena terbukti ada unsur kelalaian atau pelanggaran prosedur," kata Suyuti, menegaskan.

Salah satu contoh nyata malpraktik adalah kesalahan lokasi operasi, di mana dokter melakukan pembedahan pada bagian tubuh yang salah. Kasus seperti ini jelas menunjukkan adanya kelalaian dan pelanggaran terhadap protokol medis yang seharusnya dijalankan.

Kesimpulan yang Perlu Dipahami Masyarakat

Suyuti Syamsul menegaskan, malpraktik terjadi ketika dokter tidak menggunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim digunakan dalam praktik medis, sehingga menyebabkan cedera pada pasien. Sementara risiko medis adalah kejadian tidak diharapkan yang bisa terjadi meskipun dokter telah bertindak sesuai standar.

Pemahaman yang jelas tentang perbedaan ini penting agar masyarakat tidak salah dalam menilai hasil tindakan medis dan tenaga kesehatan pun terlindungi dari tuduhan yang tidak berdasar ketika telah menjalankan tugasnya sesuai prosedur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....