Fenomena Burnout di Kalangan Pekerja Muda

  • 25 Okt 2025 16:52 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Fenomena burnout atau kelelahan mental kini semakin banyak dialami oleh pekerja muda, terutama generasi milenial dan Gen Z.

Tekanan kerja tinggi, tuntutan produktivitas, serta budaya “hustle” di dunia profesional modern membuat banyak anak muda merasa jenuh dan kehilangan motivasi.

Berdasarkan survei World Health Organization (WHO) tahun 2025, lebih dari 60 persen pekerja muda mengaku pernah mengalami gejala burnout seperti stres berat, sulit tidur, dan kehilangan semangat bekerja.

Ada berbagai faktor yang memicu burnout, mulai dari jam kerja panjang, kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, hingga ekspektasi tinggi dari lingkungan profesional.

Di era digital, pekerja muda juga kerap terjebak dalam tekanan sosial media yang menampilkan keberhasilan orang lain sebagai standar.

Kita hidup di zaman di mana produktivitas sering dijadikan ukuran nilai diri. Ini membuat banyak anak muda bekerja tanpa batas hingga akhirnya kelelahan.

Jika dibiarkan, burnout dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik. Gejalanya meliputi kecemasan berlebih, gangguan tidur, sakit kepala, bahkan depresi.

Menurut studi dari Harvard Business Review, pekerja yang mengalami burnout memiliki risiko dua kali lebih tinggi terkena penyakit jantung dibanding mereka yang mampu menjaga keseimbangan kerja dan istirahat. Selain menurunkan performa, burnout juga bisa menyebabkan turnover tinggi di perusahaan.

Mengatasi burnout memerlukan kesadaran diri dan perubahan pola kerja. Langkah awal yang disarankan para ahli adalah menetapkan batas waktu kerja yang jelas, memperbanyak waktu istirahat, serta melakukan aktivitas relaksasi seperti meditasi atau olahraga ringan.

Selain itu, perusahaan diharapkan lebih peduli dengan kesehatan mental karyawan melalui program well-being atau fleksibilitas kerja. Dukungan sosial dari rekan kerja dan keluarga juga berperan besar dalam proses pemulihan.

Fenomena burnout menjadi pengingat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesuksesan karier. Pekerja muda perlu belajar menyeimbangkan ambisi dengan waktu istirahat agar tetap produktif tanpa kehilangan kebahagiaan.

Dengan kesadaran individu dan dukungan dari lingkungan kerja, burnout bukan lagi akhir dari semangat, tetapi awal dari perubahan menuju gaya hidup profesional yang lebih sehat, sadar, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....