Hari Demam Berdarah Sedunia, Waspadai Ancaman Nyamuk DBD

  • 15 Jun 2025 16:34 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Tanggal 15 Juni diperingati sebagai Hari Demam Berdarah Sedunia. Peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran global terhadap bahaya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), terutama di negara tropis seperti Indonesia.

Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang aktif pada pagi dan sore hari. Setelah menggigit seseorang yang terinfeksi, nyamuk ini dapat menularkan virus ke orang lain.

Perawat di Puskesmas Lemo, Kabupaten Barito Utara, Syan, mengatakan penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah, transplantasi organ, atau dari ibu ke bayi saat kehamilan atau persalinan.

“Namun ini sangat langka. Penularan lain bisa terjadi lewat transfusi darah dari pendonor yang terinfeksi virus, atau transplantasi organ dari orang yang terinfeksi, bahkan dari ibu ke bayi saat kehamilan atau proses melahirkan,” ujarnya.

Syan menjelaskan bahwa gejala umum DBD antara lain demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, muncul bintik merah, dan mual. Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut, serta menjaga asupan cairan karena DBD bisa menyebabkan kebocoran plasma darah, dehidrasi, bahkan syok.

“Gunakan antipiretik atau penurun panas, tapi hindari aspirin atau ibuprofen karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Istirahat total, pantau gejala bahaya seperti perdarahan dan nyeri hebat, serta lakukan pemeriksaan laboratorium seperti kadar trombosit dan hematokrit,” katanya, Minggu (15/6/2025).

Salah satu warga yang pernah terjangkit DBD, Estika, mengaku mengalami berbagai gejala yang khas, seperti demam tinggi, nyeri kepala di belakang mata, badan lemas, ruam kulit, dan kehilangan nafsu makan. “Demam tinggi saya terjadi antara hari ketiga sampai kelima. Setelah itu masuk fase kritis, trombosit saya turun drastis,” ucapnya.

Ia pun segera menjalani perawatan inap di rumah sakit agar kondisi tubuhnya dapat terus dipantau tenaga medis. Dokter menyarankan konsumsi cairan yang cukup, istirahat penuh, serta pemeriksaan darah secara rutin.

Karena sifatnya yang mematikan bila tidak ditangani dengan tepat, Estika mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, khususnya dengan memberantas sarang nyamuk di sekitar rumah.

Syan juga mengingatkan pentingnya gerakan 3M untuk mencegah DBD, yakni menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup rapat tempat air, dan mendaur ulang atau mengubur barang bekas. Masyarakat juga dianjurkan menaburkan larvasida (abate), menggunakan kelambu atau lotion anti nyamuk, memasang kawat nyamuk di jendela dan ventilasi, serta menanam tanaman pengusir nyamuk. Masyarakat juga diingatkan untuk melakukan gotong royong membersihkan lingkungan secara rutin. (Saputri Nakalelu)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....