Fakta Tentang Ketindihan (Sleep Paralysis)
- 18 Okt 2024 16:35 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Ketindihan atau sleep paralysis adalah kondisi di mana seseorang tidak dapat menggerakkan tubuh atau berbicara saat sedang bangun dari tidur atau dalam proses tertidur. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan hanya berlangsung dalam beberapa detik hingga menit.
Menurut The American Sleep Disorder Association (1990), sleep paralysis adalah keadaan transisi yang terjadi ketika seseorang mengalami kelumpuhan sementara untuk bereaksi, bergerak atau berbicara ketika tertidur (hypnagogic) atau saat bangun dari tidur (hypnopompic). Sleep paralysis ditandai dengan ketidakmampuan orang tersebut untuk menggerakan otot saat tidur.
Sleep paralysis atau ketindihan adalah kondisi yang membuat seseorang seperti mengalami kelumpuhan. Mereka sadar akan lingkungan sekitarnya tetapi tidak dapat bergerak atau berbicara. Hal ini terjadi saat seseorang mengalami transisi antara fase tidur dan terjaga.
Saat tidur, tubuh kita mengalami beberapa siklus yang melibatkan tahap-tahap seperti tidur ringan, tidur dalam, dan gerakan mata cepat (REM). Sleep paralysis terjadi ketika seseorang bangun dari tahapan REM tidur dan otot-otot tubuh tetap dalam kondisi relaksasi.
Hal ini disebabkan oleh mekanisme biologis tertentu yang menghentikan gerakan selama tidur agar kita tidak melakukan gerakan yang mungkin berbahaya bagi diri sendiri saat bermimpi.
Umumnya, ketindihan atau sleep paralysis tidak berbahaya dan biasanya berlangsung hanya beberapa detik hingga beberapa menit. Tetapi dalam beberapa kasus, sleep paralysis bisa menjadi tanda narkolepsi, yaitu kondisi gangguan tidur yang membuat seseorang sulit mengendalikan rasa ingin tidur.
Secara medis, sleep paralysis atau ketindihan saat tidur terjadi karena ketidakselarasan antara mekanisme otak dan tubuh. Ketika seseorang tidur, terdapat dua fase yang terjadi, yaitu rapid eye movement (REM) dan non-rapid eye movement (NREM). Fase REM adalah tahap persiapan untuk tidur, di mana tubuh menjadi lebih rileks dan aktivitas detak jantung serta pernapasan lambat.
Sedangkan tahap NREM adalah fase tidur yang paling dalam di mana mimpi mulai muncul. Ketika seseorang sedang bermimpi, sistem saraf parasimparis memberi sinyal kepada otot untuk berhenti berkontraksi. Hal inilah yang membuat tubuh sulut bergerak secara tiba-tiba.
Dikutip dari ciputrahospital.com, beberapa gejala sleep paralysis yang sering dialami biasanya adalah:
1. Intruder Hallucination
Gejala ketindihan bisa berupa intruder hallucination atau pengalaman melihat dan merasakan kehadiran seseorang atau sesuatu di sekitar saat Anda tidak bisa bergerak atau berbicara. Meskipun tidak ada orang atau benda nyata di sana, sensasi ini bisa sangat nyata dan menakutkan.
2. Incubus Hallucination
Incubus Hallucination adalah gejala sleep paralysis berupa perasaan tekanan berat pada dada atau tubuh Anda, seperti ada sesuatu yang menindih. Hal ini sering kali disertai dengan perasaan kekurangan oksigen atau kesulitan bernafas, meskipun secara fisik tidak ada penyebab yang jelas.
3. Halusinasi Vestibular Motorik
Halusinasi vestibular motor melibatkan sensasi gerakan atau sensasi putaran yang tidak nyata atau tidak wajar. Mungkin Anda merasa seperti tubuh berputar, melayang, atau seperti ada sensasi getaran atau goyangan yang tidak dapat dijelaskan.
Setiap orang bisa saja mengalami ketindihan. Bila Anda mengalaminya, jangan panik. Sebab. sensasi panik saat ketidihan justru membuat semakin tertekan. ada beberapa cara mengatasi dan mencegah kondisi ini .
Memastikan Anda mendapatkan jumlah tidur yang cukup setiap malam dan menjaga pola tidur yang teratur dapat membantu mengurangi kemungkinan mengalami ketindihan. Hindari tidur larut malam atau tidur terlalu sedikit.
Hindari minuman berkafein, nikotin, atau minum alkohol beberapa jam sebelum tidur. Hindari juga menggunakan gadget seperti ponsel atau tablet yang dapat merangsang otak dan membuatnya sulit untuk tidur.
Pastikan kamar tidur Anda tenang, gelap, dan sejuk. Gunakan kasur dan bantal yang nyaman untuk memastikan tidur yang berkualitas. Kualitas tidur yang baik bukan hanya bisa mencegah ketindihan, tetapi juga dapat menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Melatih diri dengan teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan yang dapat menyebabkan ketindihan.
Cobalah untuk tidur dalam posisi yang nyaman dan ergonomis. Hindari tidur telentang dengan posisi kepala yang terlalu tinggi atau rendah. Beberapa orang juga menemukan bahwa tidur dalam posisi menyamping dapat membantu mencegah ketindihan.
Bila kamu mengalami sleep paralysis, jangan panik. berusahalah untuk tetap tenang, tarik napas dalam-dalam dan hembuskan dengan sekuat mungkin sebanyak beberapa kali. Kemudian, cobalah paksa tubuhmu untuk bergerak, mulai dari ujung jari tangan atau kaki sebagai bentuk perlawanan. Cara ini bisa membantu kamu untuk benar-benar terjaga dan terbebas dari kelumpuhan tidur tersebut.
Walaupun sleep paralysis dapat membaik seiring berjalannya waktu, namun kamu tetap disarankan untuk menjalankan pola hidup sehat seperti tidur yang cukup, berolahraga secara teratur, berhenti merokok atau minum alkohol, dan cobalah untuk melakukan latihan pernapasan sebelum tidur untuk mencegah sleep paralysis muncul kembali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....