Studi ICCT: Polusi Kendaraan di Indonesia Telan 1 Nyawa Tiap 12 Menit
- 05 Agt 2026 19:12 WIB
- Palangkaraya
Poin Utama
- Laporan terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) mencatat emisi kendaraan di Indonesia menyebabkan 1 kematian dini setiap 12 menit.
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Jakarta - Polusi udara dari sektor transportasi darat di Indonesia berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Laporan terbaru International Council on Clean Transportation (ICCT) mencatat emisi kendaraan di Indonesia menyebabkan 1 kematian dini setiap 12 menit.
Tak hanya itu, paparan emisi gas buang kendaraan juga memicu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit. Riset bertajuk Manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050 ini dirilis secara resmi pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Pada 2024 saja, transportasi darat di Indonesia berkontribusi terhadap 44.700 kematian dini dan lebih dari 19.800 kasus baru asma pada anak. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk kasus asma anak akibat emisi Nitrogen Oksida (NO₂).
Kendaraan berat seperti truk dan bus menjadi penyumbang emisi terbesar. Meski populasinya hanya 2 persen dari total armada transportasi darat di Indonesia, kendaraan berat menyumbang lebih dari separuh emisi NOₓ dan PM2.5.
ICCT menilai transisi cepat menuju kendaraan nol emisi (listrik) menjadi kunci utama untuk meredam krisis kesehatan publik ini.
“Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050, kasus asma pada anak dapat dikurangi sebanyak 150.000 dan kematian dini dapat dikurangi sebanyak 800.000 di Indonesia serta lebih dari 8 juta secara global,” ujar Lingzhi Jin dari ICCT seperti dalam rilis yang diterima RRI Palangka Raya.
Secara global, jika negara-negara menerapkan skenario elektrifikasi ambisius dengan target hampir seluruh penjualan kendaraan baru bebas emisi pada 2045, ketimpangan beban kesehatan antarnegara dapat dipangkas drastis.
Direktur Senior ICCT, Josh Miller, menegaskan percepatan elektrifikasi mampu memutus rantai dampak buruk pertumbuhan armada kendaraan terhadap kesehatan masyarakat.
“Pertumbuhan populasi, populasi dunia yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan yang terus meningkat terhadap beban kesehatan akibat transportasi darat, dan berdasarkan kebijakan saat ini, kekuatan-kekuatan tersebut akan mendominasi. Kajian ini menunjukkan bahwa elektrifikasi yang ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut, mencegah hampir 9 juta kematian dini antara sekarang hingga 2050,” ujar Josh Miller.
| Baca juga: Pernapasan Sehat Berkat Kapulaga |
Pakar kesehatan masyarakat, Prof. Budi Haryanto, turut menyoroti tingginya risiko polusi udara terhadap kelompok rentan seperti anak-anak. Menurutnya, pembenahan harus dilakukan secara terpadu.
“Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan kualitas udara yang lebih baik dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Selain elektrifikasi, ICCT menyarankan langkah pelengkap jangka pendek seperti pengetatan standar emisi, pemakaian bahan bakar bersih, program peremajaan armada lama, hingga penerapan zona rendah emisi di perkotaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....