'The Little Prince', Melihat Dunia dari Sudut Pandang Anak-anak

  • 21 Apr 2024 22:09 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: "Lebih sulit menilai diri sendiri dari pada menilai orang lain. Kalau kamu berhasil menilai diri sendiri, artinya kamu seorang yang bijaksana."

Itulah salah satu kutipan inspiratif dari buku Le Petit Prince, karya seorang penerbang sekaligus penulis berkebangsaan Prancis, Antoine-Marie-Roger de Saint-Exupéry. Bukunya yang lahir pada masa Perang Dunia II dan menjadi salah satu buku berbahasa Prancis yang paling banyak diterjemahkan.

Buku ini mengisahkan seorang pilot yang mendarat di gurun Sahara dan bertemu seorang anak laki-laki yang menyebut dirinya sebagai The Little Prince atau Pangeran Cilik. Melalui percakapan mereka, Little Prince menceritakan perjalanan spiritualnya dari planet ke planet, termasuk planetnya sendiri yang memiliki mawar kecil yang dia cintai.

Pangeran Cilik berasal dari planet kecil yang dihuni hanya dirinya sendiri dan mawar kecilnya. Dia meninggalkan planet karena dia ingin belajar tentang cinta dan arti penting dari cinta tersebut. Melalui keluguan Pangeran Cilik, kehidupan orang dewasa dikritik karena terlampau sibuk dengan rutinitas dan ambisinya tetapi melupakan makna hidup itu sendiri.

Dalam pengembaraannya, Pangeran Cilik singgah di sebuah planet yang hanya dihuni oleh seorang yang menganggap dirinya raja. Pangeran Cilik merasa janggal. Bagaimana mungkin seseorang menganggap dirinya raja jika tidak ada rakyat yang diperintah.

Raja itu ingin selalu disanjung dan tidak ingin dibantah. Sehingga segalanya harus menuruti perintahnya. Akan tetapi rupanya ambisi raja yang ingin selalu disanjung dan dipatuhi membuat kontradiktif.

Contoh lainnya adalah perjumpaan Pangeran Cilik dengan seorang pemabuk di sebuah planet kecil. Ia penasaran, terhadap pemabuk yang tidak pernah berhenti minum hingga mengajukan pertanyaan kepada pemabuk itu.

Namun uniknya, jawaban pemabuk amat membingungkan. Pemabuk itu rupanya terus-terusan minum agar lupa bahwa dirinya mabuk. Benar-benar absurd bukan?

Hal menarik lain dari novel ini tampak pada pandangan Saint-Exupéry soal cinta melalui perjumpaan tokoh rubah dan Pangeran Cilik. Dalam pengembaraannya mencari manusia, Pangeran Cilik bertemu seekor rubah.

Pangeran Cilik yang kesepian dan sedih mengajak rubah bermain. Rubah menolaknya karena belum dijinakkan. Pada bagian ini, melalui tokoh rubah, Saint-Exupéry memperkenalkan konsep penjinakan. Menjinakkan berarti membuat pertalian atau hubungan.

Dalam novel dikatakan bahwa jika rubah dijinakkan Pangeran Cilik, mereka akan saling membutuhkan. Rubah itu akan menjadi satu-satunya bagi Pangeran Cilik di dunia ini dan Pangeran Cilik akan menjadi satu-satunya bagi rubah itu di dunia ini.

Untuk menjinakkan rubah, Pangeran Cilik harus datang di tempat dan waktu yang sama. Ia akan duduk lebih dekat dengan rubah setiap harinya. Dengan begitu akan terjalin hubungan antara rubah dan Pangeran Cilik.

Dari penjinakan itu Pangeran Cilik teringat pada sekuntum bunga mawar yang tumbuh di planet kecilnya. Mawar itu telah menjinakkan Pangeran Cilik. Mawar itu menjadi satu-satunya bagi Pangeran Cilik meskipun ada begitu banyak mawar di dunia ini.

Pesan Moral

"Le Petit Prince" adalah sebuah kisah yang menggambarkan kejeniusan penulisnya, Antoine de Saint-Exupéry, dalam memadukan cerita fiksi dengan filosofi yang mendalam. Melalui petualangan Little Prince, Saint-Exupéry mengajak pembacanya untuk merenungkan makna kehidupan, cinta, pertemanan, dan tanggung jawab.

Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, buku ini telah menjadi salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah. Di tengah kesibukan dan kehidupan modern yang kadang-kadang terlalu rumit, "Le Petit Prince" mengingatkan kita untuk mempertahankan sisi sederhana dan otentik dari diri kita sendiri.

Buku ini tidak hanya disukai oleh anak-anak, tetapi juga oleh pembaca dewasa yang akan menemukan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Sayang, kejadian tragis menimpa penulis novel Pangeran Cilik. Tidak lama setelah terbitnya buku itu, Antoine de Saint-Exupéry hilang selepas menerbangkan pesawat di Mediterania.

Dipenuhi dengan kebijaksanaan universal yang dapat dinikmati oleh semua generasi, buku ini telah menjadi bagian penting dari warisan sastra dunia. Karyanya akan terus dikenang dan dihargai selama bertahun-tahun meskipun Antoine de Saint-Exupéry telah tiada.

Temukan cerita inspiratif dan kisah menghibur lainnya dalam Esensi Buku, program terbaru di Radio Republik Indonesia yang merupakan ringkasan buku-buku terkenal atau best seller dari dalam maupun luar negeri. Esensi Buku disiarkan setiap hari, Senin hingga Minggu antara pukul 23.00-24.00 WIB di Programa 1 dan setiap hari pukul 21.00 - 22.00 WIB di Pro 2 RRI Palangka Raya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....