Melepas Penat di Ruang Terbuka, Oase Murah Masyarakat Urban Palangka Raya

  • 31 Mei 2026 01:37 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di tengah padatnya ritme aktivitas perkotaan, meluangkan waktu di ruang terbuka publik kini menjadi pilihan favorit warga Kota Palangka Raya untuk melepas penat. Berbagai fasilitas publik seperti taman kota hingga kawasan tepian sungai (waterfront) mulai dipadati masyarakat saat jarum jam beranjak sore hingga malam hari.

Bukan tanpa alasan, area hijau seperti Taman Pasuk Kameloh, Taman Yos Sudarso, hingga kawasan dermaga Flamboyan bawah kerap menjadi tujuan utama. Warga datang berbondong-bondong untuk sekadar duduk santai, menikmati semilir angin, atau berbincang hangat bersama keluarga dan sejawat. Aktivitas sederhana ini dinilai ampuh mengusir kejenuhan setelah seharian terjebak dalam rutinitas kerja maupun perkuliahan.

Selain menawarkan panorama visual yang menyegarkan mata, ruang publik terbuka ini dipilih karena menyajikan sirkulasi udara alami yang bersih. Kondisi ini menjadi penawar dahaga bagi masyarakat urban yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan ber-AC yang kaku.

Tidak sekadar duduk diam, sebagian warga juga memanfaatkan momentum sore hari untuk berolahraga ringan, mulai dari jalan santai (jogging) hingga bersepeda bersama komunitas. Keindahan tata ruang yang dipadukan dengan lampu kota (city light) saat malam tiba juga memicu para pengunjung untuk berswafoto demi pemenuhan konten estetis di media sosial. Saat akhir pekan tiba, geliat di ruang-ruang terbuka ini semakin memuncak sebagai opsi rekreasi murah meriah tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Perspektif Riset & Kesehatan Mental Mayarakat Perkotaan

Manfaat psikologis dari kebiasaan beraktivitas di ruang terbuka ini didukung erat oleh konsep Nature Pill yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada tahun 2019. Riset tersebut membuktikan secara medis bahwa menghabiskan waktu minimal 20 hingga 30 hari dalam seminggu di lingkungan yang menyajikan elemen alam—meskipun di tengah kota—dapat menurunkan kadar hormon kortisol (pemicu stres) secara signifikan. Interaksi dengan ruang terbuka hijau menjadi stimulasi alami bagi otak untuk memulihkan kelelahan mental akibat beban kerja digital.

Lebih lanjut, dari sudut pandang sosiologi perkotaan, studi yang dirilis oleh World Health Organization (WHO) Regional Eropa pada tahun 2016 mengenai ruang terbuka hijau perkotaan (Urban Green Spaces) menegaskan bahwa ketersediaan tempat publik yang aksesibel sangat krusial bagi kohesi sosial. Keberadaan taman kota bukan sekadar hiasan tata ruang, melainkan investasi kesehatan publik yang berfungsi memfasilitasi interaksi sosial yang inklusif, menurunkan tingkat kecemasan masyarakat, serta meningkatkan indeks kebahagiaan warga kota secara kolektif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....