Kesiapan Mental Dinilai Penting Mencegah Perceraian
- 09 Mei 2026 08:22 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya – Perceraian tidak hanya berdampak pada pasangan suami istri, tetapi juga anak, keluarga besar, hingga lingkungan sosial. Banyak kasus perceraian terjadi akibat konflik kecil yang terus menumpuk tanpa penyelesaian yang baik.
Kurangnya komunikasi, perbedaan latar belakang, serta ketidakmampuan mengelola emosi sering menjadi pemicu retaknya hubungan rumah tangga. Karena itu, pernikahan dinilai bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Psikolog, Gerry Olvina Faz, mengatakan kesiapan mental sebelum menikah tidak cukup hanya berdasarkan perasaan siap semata. Menurutnya, kesiapan psikologis perlu dibangun melalui pemahaman nyata mengenai kehidupan rumah tangga.
“Kesiapan menikah harus dibarengi pemahaman tentang tanggung jawab rumah tangga, mulai dari kebutuhan sehari-hari, administrasi, hingga tanggung jawab finansial,” ujarnya, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menilai pemahaman tersebut penting agar seseorang memiliki ekspektasi yang realistis terhadap kehidupan pernikahan dan tidak terjebak pada gambaran ideal semata. Selain itu, kesiapan mental juga berkaitan dengan kemampuan menghadapi perbedaan dan potensi konflik dalam rumah tangga. Menurut Gerry, dua individu dengan latar belakang berbeda sangat mungkin mengalami gesekan dalam kebiasaan, gaya hidup, maupun pola pikir.
Karena itu, kemampuan komunikasi, pengelolaan emosi, dan toleransi terhadap pasangan perlu terus dilatih agar konflik tidak mudah berujung pada perceraian.
“Setiap orang harus memahami batas penerimaan terhadap pasangan, sejauh mana bisa memaklumi kesalahan, dan bagaimana mencari solusi bersama dalam menghadapi masalah,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga besar dalam kehidupan rumah tangga, terutama dalam budaya masyarakat Indonesia yang masih memiliki keterikatan kuat dengan orang tua dan keluarga.
Menurutnya, dukungan serta nasihat dari pihak keluarga dapat menjadi penguat dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Pada akhirnya, pernikahan membutuhkan usaha dari kedua belah pihak dan tidak bisa dijalani hanya oleh satu orang.
Dengan kesiapan mental yang matang, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk saling memahami dan memperbaiki diri, konflik rumah tangga diharapkan dapat dihadapi dengan lebih bijak sehingga perceraian tidak menjadi solusi utama. (Nor Saen Miftah Tariq)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....