Rumah Betang Bintang Patendu, untuk Kekayaan Budaya Dayak

  • 28 Apr 2024 19:11 WIB
  •  Palangkaraya
KBRN Palangka Raya: Rumah Betang adalah rumah besar khas Dayak yang dihuni oleh banyak sekali orang. Rumah yang bentuknya memanjang ini terbuat dari kayu ulin. ada banyak sekali jenis rumah betang, seperti yang terdapat di katingan Desa Tumbang Manggu ada Rumah Betang Bintang Patendu. Rumah Betang Bintang Patendu di Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Katingan, didirikan pada tahun 2002/2005 oleh Syaer Sua. Beliau adalah Tokoh Seniman. Arti kata dari Bintang Patendu adalah 3 bintang terang di Rasi Orion, yang menandakan waktu untuk mengerjakan ladang.

Rumah betang biasanya dihuni oleh keluarga besar. Saat ini sudah tidak banyak lagi orang yang tinggal di rumah betang. Penduduk kota lebih banyak tinggal di rumah beton yang dihuni oleh keluarga kecil. Akibatnya rumah betang di kota pun makin lama makin menghilang.

Bentuk rumah betang di kota besar biasanya digunakan sebagai gedung pertemuan atau pusat kebudayaan. Risky Abdul Rahman seorang sejarawan muda bersuku asli dayak yang bermukim di Katingan, Desa Tumbang Samba mengaku pernah berkunjung ke Rumah betang Bintang Patendu ini, dia menjelaskan letaknya jauh di luar kota. Perlu waktu tempuh sekitar 1 jam dari Desa Tumbang Samba dan 3-4 jam melalui jalur darat dari Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah, untuk mencapainya.

Foto Risky Abdul Rahman Di Rumah Betang Bintang Patandu, Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Katingan
"Selain seperti Betang pada umumnya sebenarnya ada keunikan tersendiri kalau kita di Betang itu, misalnya beberapa bagian Betang yang sudah menggunakan kaca di bagian jendela dimana hal ini cukup menarik karena Betang itu sendiri sudah dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal unik kedua sebenarnya sesuai pesan atau amanat dari pendiriannya, Betang ini sampai sekarang masih terbuka akses nya bagi setiap orang yang mau belajar tentang bangunan khas suku Dayak Kalteng tersebut. Artinya dari pihak keluarga sendiri tak pernah keberatan jika ibarat kata rumah pribadinya dikunjungi tamu dari berbagai kalangan yang mau belajar tentang rumah Betang tersebut." Ucap Risky, Sejarawan. Minggu (28/4/2024).

Dijelaskan Offeny A Ibrahim seorang Civitas Akademika Universitas Palangka Raya dalam karyanya, yang berjudul Rumah Adat. Bentuk dan besar rumah Betang ini bervariasi, itu tergantung seberapa besar dan banyak keluarga mereka. Kaluarga besar suku Dayak biasanya tinggal dalam satu atap / satu rumah, oleh karena itu ada rumah Betang yang bisa mempunyai panjang mencapai 150 meter dan lebar hingga 30 meter bahkan ada yang lebih. Umumnya rumah Betang di bangun dalam bentuk panggung dengan ketinggian tiga sampai lima meter dari permukaan tanah. Tujuan dari rumah panggung tersebut untuk mengantisipasi datangnya banjir pada musim penghujan karena sering sungai meluap dan terjadi di daerah-daerah hulu sungai di Kalimantan.

Dalam karya tersebut dijelaskan juga struktur Rumah Huma Betang Offeny A Ibrahim, rumah panjang yang memanjang seperti sungai, menjadi tempat tinggal asli suku Dayak. Dibangun di sekitar hulu sungai, rumah ini memiliki bentuk panggung yang tinggi, bertujuan untuk melindungi penghuninya dari banjir. Tangga utama, yang disebut hejot atau hejan, mengarahkan orang menuju pintu masuk. Di halaman depan, terdapat balai tempat menjamu tamu dan mengadakan pertemuan. Sapundu, patung berukir berbentuk manusia, berdiri kokoh sebagai simbol pengikat dan tempat menancapkan binatang kurban saat tiwah. Pasha patahu, sebuah rumah terpisah, didedikasikan untuk pemujaan. Di halaman belakang, terdapat tukau, gudang untuk alat pertanian, serta bawong yang menyimpan senjata. Sandung atau tambak, tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal setelah melaksanakan tiwah, bisa ditempatkan di halaman depan atau belakang.

Selain sebagai jantung kehidupan, Kalimantan juga identik dengan sungai. Suku Dayak mengarahkan orientasi tata ruang menuju sungai. Sungai bukan hanya halaman depan, tetapi juga tempat mandi, mencuci, dan MCK (Mandi, Cuci, dan Kakus). Di atas batang talian (batang tepian), terdapat jamban (kakus).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....