Bangkit dari Duka, Siti Ubah Tulang Ikan Jadi Cemilan Bergizi

  • 29 Jun 2026 23:30 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Martapura — Mesin blender itu menderu keras, menggetarkan permukaan meja. Tulang ikan gabus di dalamnya ikut berputar hebat, berhantaman, dan lumat menjadi tepung. Namun, sang pemilik, Siti Nurul Hidayah, mengabaikan bising suara itu.

Langkah kakinya yang mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu, membuat tatapannya sesekali terpikat pada senyum pria di dalam bingkai kaca. Sosok itu Abdul Rahim, sang suami yang tak pernah lagi bersuara sejak 2020.

"Itu foto suami saya, orangnya sudah meninggal ketika musim Covid-19," kata perempuan yang akrab disapa Siti, di Martapura, Kalimantan Selatan, Minggu, 28 Juni 2026.

Selepas kepergian suami, ia mulai memikul tanggung jawab penuh atas keempat anaknya. Di kepalanya tidak ada lagi daftar keinginan pribadi, yang ada hanyalah biaya sekolah dan perkuliahan yang harus dibayar sebelum tanggal lima setiap bulannya.

Didorong tekad untuk mandiri, ide usahanya lahir setelah ia menonton proses pembuatan tepung tulang ikan di media sosial. Tak ingin peluang itu menguap, ia segera berburu tulang ikan gabus untuk dikeringkan dan dihaluskan.

Bahan baku tersebut, dia dapatkan dari para pelaku usaha kuliner di sekitar Kalimantan Selatan, yang menggunakan bahan dasar ikan gabus mulai dari pembuat kerupuk, stik, abon, amplang dan penjual bakso.

Dia pun mulai meracik bahan baku itu menjadi kue bangkit khas Kalimantan Selatan. Berbekal hobinya memasak, Siti berhasil memadukan karakter asli kue itu: rapuh, kering, dan lumer dengan tepung tulang ikan menjadi camilan.

Setelah berhasil memproduksi kue tersebut, ia awalnya terkendala pemasaran. Sebab, kala itu pembatasan aktivitas akibat COVID-19 membuat pameran, bazar dan pasar jajanan khas Kalsel tidak beroperasi.

Namun, upaya itu menemukan titik terang usai Rumah BUMN BRI dan Pemerintah Kabupaten Banjar membimbingnya. Dia diberikan pengetahuan mulai dari manajemen keuangan, pengemasan, hingga perluasan akses pasar melalui pemasaran digital.

"Awalnya saya coba pasarkan lewat grup Whatsapp dan media sosial. Alhamdulillah hasilnya banyak yang suka," ungkapnya.

Tidak hanya itu, melalui program pendampingan tersebut, Siti juga difasilitasi untuk mengurus legalitas usahanya secara gratis, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), izin edar, hingga sertifikasi halal.

Tak puas sampai di sana, produknya juga dibawa ke Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Banjarbaru dan Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk dilakukan pengujian.

Hasil dari kedua lembaga tersebut menyatakan kuenya aman untuk dikonsumsi dan memiliki kandungan nutrisi yang baik. Hal itu membuat kue buatannya semakin dipercaya konsumen.

"Alhamdulillah, berkat hal tersebut jalan rezeki saya terbuka," ungkapnya

Kini, produknya bertengger di gerai toko oleh-oleh Bandara Internasional Syamsudin Noor, dan jaringan ritel modern di Kabupaten Banjar. Berkat hal itu produksinya mengalami peningkatan, dari 2,5 kg menjadi 10 kg per bulan.

Pendapatannya pun ikut terkerek naik, dari semula Rp2 juta perbulan menjadi Rp8 juta perbulan. Untuk kuenya dibanderol dengan harga Rp15 ribu hingga Rp35 ribu.

"Untuk produksi masih sendiri. Paling jika banyak order dibantu oleh anak," ungkapnya.

Seiring meluasnya jangkauan pasar ke ranah modern, ia pun mulai memanfaatkan aplikasi BRImo dan sistem pembayaran nontunai QRIS. Lewat ekosistem digital tersebut, ia dapat memantau arus kas usahanya dengan mudah.

"Semua toko yang saya titipi itu bayarnya pakai transfer. Selain itu, saya juga untuk membeli bahan baku lewat transfer. Semua sistemnya sudah seperti itu, jadi harus bisa mengikuti," ungkapnya.

Kemudahan yang dirasakan Siti merupakan wujud dari transformasi digital perbankan. Terkait hal itu, Direktur Information Technology BRI, Saladin Dharma Nugraha Effendi, menegaskan akan terus mendorong inovasi layanan digital yang relevan bagi masyarakat, sebagaimana tercermin dari laporan transaksi pada Triwulan I tahun 2026.

“Transaksi QRIS BRI pada Triwulan I tahun 2026 sebesar Rp30,5 triliun dari 253 miliar transaksi. Selain itu, untuk transaksi BRImo menyentuh angka Rp2.042,2 triliun,” ungkapnya.

Di luar urusan transaksi digital, daya pikat utama kue bangkit buatan Siti ini juga terletak pada kreativitas produknya. Bentuk produk yang menarik rupanya menjadi daya tawar tersendiri di mata pembeli.

Salah satu pelanggannya, Isma, yang mengatakan tertarik membeli kue tersebut karena wujudnya yang tidak biasa dibanding kue bangkit pada umumnya.

"Saya beli kue ini buat camilan keluarga. Kebetulan anak-anak juga suka. Bentuknya lucu, unik menyerupai ikan,” ungkap Isma.

Namun, di balik wujudnya yang menggemaskan, inovasi kue itu menyimpan manfaat kesehatan bagi tumbuh kembang anak. Dosen Ahli Gizi dari Poltekkes Palangka Raya, Yetti Wira Citerawati, mengatakan tulang ikan gabus mengandung sumber nutrisi yang baik untuk pencegahan tengkes.

“Ini inovasi tulang ikan menjadi kue itu sangat bagus karena mempermudah masyarakat mendapatkan alternatif sumber gizi. Tulang ikan juga sangat bagus karena mengandung kalsium, fosfor, protein, dan kolagen,” ucap Yetti.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....