Kisah Agen BRILink Terkepung Sawit dan Sinyal yang Terjepit
- 29 Jun 2026 11:28 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Gunung Mas - Sarbani (31) menjulurkan tangan, menerima kartu debit dari pelanggan yang ujung permukaannya mengelupas. Tak menunggu lama, jemari ayah dua anak itu menekan deretan angka di mesin EDC.
Suara dari perangkat itu meredup, kalah nyaring oleh deru truk bermuatan sawit yang melintas. Sebab, di Manuhing, Gunung Mas, untuk menemukan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) jauh lebih sulit ketimbang sawit.
“Untuk ATM terdekat dari sini jaraknya sekitar 60 kilometer, karena itulah saya membuka BRILink,” ujarnya, Sabtu, 27 Juni 2026.
Perjuangan menghadirkan layanan itu ke wilayahnya tidaklah mudah. Sejak bergabung pada 2021, kendala yang dihadapi adalah infrastruktur telekomunikasi. Ia kerap mengangkat EDC-nya ke udara demi mendapatkan sinyal meskipun berujung sia-sia.
Tak hanya itu, keamanan digital juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Ia pernah menyaksikan kepolosan seseorang dieksploitasi oleh sindikat penipuan digital. Beruntung, berbekal pelatihan keamanan digital dari BRI, dia mampu menangkalnya.
Perantau asal Kapuas itu pernah menyelamatkan konsumennya yang nyaris jadi korban penipuan berkedok pengundian hadiah pada tahun 2024. Hal itu diketahui usai melihat beberapa kejanggalan terkait tujuan transaksi.
Beruntung, ia tidak langsung memproses permintaan itu. Naluri perbankannya berdering kencang ketika melihat nomor rekening tujuan transfer merupakan nama pribadi, bukan rekening instansi resmi.
Dia menunggu, tak langsung menasihati, sebab seseorang yang sedang terbuai oleh iming-iming tidaklah mudah. Edukasi literasi keuangan digital yang minim membuat korban sering kali mempercayai narasi manis para penipu.
"Saya tunggu dulu, karena nominalnya cukup besar, yaitu Rp5 juta," ungkapnya.
Di tengah situasi krusial itu, kendala klasik wilayah justru menjadi penyelamat, jaringan internet mendadak lenyap. Layar mesin EDC miliknya tidak dapat menangkap sinyal.
Dia memanfaatkan waktu jeda itu untuk membalikkan logika pelanggan. Ia membuka aplikasi pelacak nomor digital di ponselnya. Begitu nomor pelaku dimasukkan, layar menunjukkan nama kontak: penipu.
“Modusnya dengan memenangkan undian berupa kendaraan, kemudian meminta transfer untuk pembayaran pajak hadiahnya,” ungkapnya.
Kasus yang ditemui Sarbani bukanlah kejadian tunggal. Modus serupa masih marak terjadi di berbagai daerah. Data OJK mencatat ada sebanyak 579.459 laporan penipuan dari masyarakat sepanjang 22 November 2024 hingga 31 Mei 2026.
Sikapnya yang peduli itu membuat agennya semakin dipercaya. Setiap hari, ia rata-rata melayani 20 hingga 50 transaksi, mulai dari tarik tunai, transfer uang, pembelian pulsa, paket data, hingga berbagai macam pembayaran.
"Kalau bukan kita yang saling menjaga dan saling mengingatkan, siapa lagi? kata Sarbani.

Bagi para pekerja sawit di wilayah itu, akses layanan perbankan kini tak lagi menuntut perjalanan ke pusat kota. Keberadaan Agen BRILink milik Sarbani, mulai mengisi celah pemenuhan kebutuhan transaksi.
Salah satu pekerja sawit, Andi, menyebutkan sistem pengupahan nontunai dari perusahaannya sempat menjadi kendala tersendiri karena minimnya fasilitas ATM di sekitar area kerja. Namun hal tersebut kini bisa diatasi berkat layanan mitra perbankan.
"Upah saya masuk ke rekening bank. Begitu gajian, saya langsung tarik tunai di sini karena dekat dari tempat kerja dan menghemat waktu," ujar Andi.
Fasilitas itu tidak hanya dimanfaatkan untuk penarikan dana. Bagi Agus, pekerja yang masih menerima upah bulanan secara tunai, keberadaan agen perbankan membantu mengamankan penghasilannya melalui tabungan.
"Begitu terima upah, saya langsung setor agar uangnya aman. Selain melayani transaksi, pemilik agen juga beberapa kali memberikan edukasi agar kami waspada terhadap modus penipuan lewat SMS atau telepon," kata Agus.
Sementara itu, Akademisi Universitas Palangka Raya, Quratul Ain, mengatakan kekuatan agen BRILink bukan hanya pada kemudahan transaksi, tetapi juga pada unsur manusianya. Agen harusnya dapat memberikan rasa aman dan memberikan pendampingan.
"Karena pada akhirnya transformasi digital yang baik bukan berarti menghilangkan peran manusia, tetapi menggabungkan teknologi dengan pendampingan yang tepat," katanya.
Ia juga menilai, para agen menjadi jembatan bagi masyarakat yang literasi digitalnya masih terbatas. Sebab, banyak kasus penipuan melalui telepon, tautan palsu, permintaan transfer yang memanfaatkan kurangnya pemahaman pengguna.
"Di situ harusnya keberadaan mereka ujung tombak untuk menjadi tempat masyarakat bertanya dan melakukan pengecekan sebelum mengambil keputusan dalam transaksi," katanya.
Hal senada dikatakan Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengimbau masyarakat untuk tidak mengakses tautan yang tidak resmi, tidak memberikan data rahasia seperti PIN, kata sandi, maupun kode OTP.
“Kami terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat terkait literasi keuangan dan kewaspadaan terhadap berbagai modus kejahatan digital,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....