Desa Karang Bunga Sulap Rawa Jadi Sentra Jeruk Siam

  • 26 Jun 2026 22:12 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Barito Kuala - Empat dekade lalu, lumpur hitam di Desa Karang Bunga, Barito Kuala, membenamkan tubuh Karjiono hingga sebatas dada. Jemari bocah itu mencengkeram erat tangan ayahnya, berebut tumpuan untuk bangkit sambil menatap pekatnya semak belukar.

Kini, di titik yang sama, tanah itu memadat dan tertutup rapat oleh area persawahan serta pepohonan. Pria berusia 48 tahun tersebut tak menyangka bahwa desanya telah menjelma menjadi sentra penghasil jeruk siam sekaligus padi.

Perjuangan mengolah lahan rawa pasang surut tidaklah mudah. Penanaman jeruk yang dimulai sejak 1995, sering kali mengalami kegagalan akibat kondisi tanah yang asam dengan kadar pH 3,5 sampai 4,5.

“Awalnya sempat gagal, tetapi saya coba lagi. Saya cangkul lagi, sembari menaburkan kapur dan pupuk untuk mengatasi tingkat keasaman tanah di rawa pasang surut,” ungkapnya, Jumat, 19 Juni 2026.

Butuh lima tahun bagi pria asal Madiun itu untuk menjinakkan lahan dan memanen perdana. Namun, tantangan kembali muncul usai panen yaitu pemasaran. Selama belasan tahun, hasil usahanya dihargai murah oleh tengkulak.

Demi memutus rantai tengkulak, Karjiono mengangkut hasil panennya sendiri menggunakan sepeda motor menuju pasar di Banjarmasin. Langkah itu menjadi jalan pembuka agar jeruk siam kian dikenal masyarakat luas.

Roda nasibnya pun kian berputar seiring perbaikan akses dan masuknya program Desa BRILiaN pada 2018. Melalui program itu, ia diberi berbagai pelatihan, mulai dari pemasaran digital hingga pemanfaatan jeruk siam.

“Berkat hal itu, pemasaran jeruk siam saya tidak lagi terbatas di wilayah Kalimantan Selatan, tetapi kini juga Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur,” ungkapnya.

Dari lahan seluas satu hektare yang dikelolanya, ia mampu memaksimalkan produksi jeruk siam sekitar 10 ton per tahun dengan omzet mencapai Rp60 juta. Sementara untuk jeruknya dijual dengan harga Rp6 ribu per kilonya.

Tak jauh dari kebun Karjiono, seorang petani memanggul alat penyemprot elektrik di sela-sela barisan pohon jeruk. Pria itu bernama Panti (59) yang merupakan transmigran asal Jombang, Jawa Timur.

Pahit getir mengolah lahan rawa pasang surut sudah kenyang dirasakan. Saat merintis pada awal tahun 1990-an, tanamannya gagal diserang hama. Akibat kejadian itu, ia pun rajin melakukan penyemprotan dan pemberian nutrisi pada tanaman.

“Bertani di lahan seperti ini banyak tantangannya. Awal-awal merintis, bukan hanya soal tanahnya yang sulit ditanami tetapi juga serangan hama,” ucapnya.

Mengelola lahan seluas dua hektare sempat menjadi tantangan tersendiri seiring bertambah usia. Apalagi, jika dia harus mengitari persawahan sembari menggendong alat semprot manual yang menguras tenaga.

Beruntung, beban itu berkurang berkat adanya bantuan alat semprot elektrik otomatis pada tahun 2023 dari BRI. Selain hemat tenaga, semburannya lebih merata dan efektif untuk membasmi hama sekaligus menyalurkan nutrisi tanaman.

“Jika dulu, menyemprot tanaman dengan alat manual. Sudah berat menggendong, tangan juga harus memompa agar semburannya kencang, tetapi jika menggunakan elektrik tinggal semprot,” keluhnya.

Berkat hal itu, lahan yang dikelolanya dapat menghasilkan padi 4 ton per tahun dengan pendapatan Rp30 jutaan. Hasil itu belum termasuk dari komoditas jeruk yang mampu menyumbang omzet Rp42 juta per tahun dengan estimasi produksi sekitar 7 ton.

“Kalau untuk padi kami menggunakan varietas padi unggul IR 42 dan padi lokal. Panennya setahun dua kali,” ungkapnya.

Melihat pencapaian warganya, Sekretaris Desa Karang Bunga, Agus Supriadi, menegaskan bahwa produktivitas tersebut berasal dari hasil kerja keras selama puluhan tahun. Menurutnya, wilayahnya sudah dibuka sejak tahun 1983 oleh para transmigran.

Transformasi desa kian dipercepat setelah bergabung dalam Program Desa BRILiaN pada 2018. Melalui berbagai pendampingan dan dukungan permodalan, BUMDes mulai mengembangkan usaha olahan jeruk hingga merintis agrowisata.

Jeruk tersebut diolah menjadi jus, sirup, dan es krim. Untuk harga dibanderol Rp3 ribu hingga Rp15 ribu. Sementara untuk kapasitas produksinya mampu menampung 250 kemasan untuk setiap pesanan.

“Kami produksi saat ada pesanan, misalnya ada hajatan, kegiatan pameran, dan tamu. Umumnya yang paling laris es krim," ucapnya.

Unit usaha desa itu kian lengkap dengan kehadiran koperasi simpan pinjam, penyedia air bersih, pasar desa, hingga jasa agrowisata. Jika ditotal, pendapatan BUMDes berkisar Rp30 juta per tahun.

Dukungan teknologi juga mulai hadir. Sebanyak 60 petani memperoleh alat semprot elektrik yang membuat pekerjaan mereka jauh lebih ringan dan efisien.

Ketekunan itu pun akhirnya berbuah manis dengan diraihnya penghargaan Desa Aman Pangan Tingkat Nasional tahun 2023. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa tanah rawa pasang surut yang dulunya masam telah berubah menjadi berkah.

Keberhasilan warga Desa Karang Bunga dalam mengelola lahan, menarik perhatian Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hikma Ellya. Ia menilai para petani setempat telah berhasil menjinakkan karakteristik lahan dengan pH rendah tersebut.

Hikma menjelaskan bahwa kandungan zat asam pada lahan rawa pasang surut umumnya disebabkan oleh oksidasi pirit. Untuk mengatasi itu, umumnya para petani di desa tersebut menggunakan kapur.

"Kondisi pH rendah itu biasanya akibat dari oksidasi pirit. Karena itu, perlu ada penyesuaian dalam pengolahan lahan dan tata kelola airnya," jelasnya.

Di sisi lain, ia menilai kawasan tersebut berprospek besar sebagai destinasi agrowisata karena memiliki diversifikasi tanaman pangan, hortikultura, dan lanskap pertanian surjan.

"Konsep pertanian surjan merupakan kearifan lokal yang umumnya digunakan masyarakat Jawa. Mereka menggabungkan tanaman padi dengan tanaman lainnya bisa dalam bentuk palawija maupun hortikultura," katanya.

Potensi itu pula yang memikat Eko Prasetyo, tenaga pendidik dari SMP Dhammasoka Banjarmasin. Ia kerap memboyong para siswanya saat libur semester untuk merasakan langsung atmosfer belajar di alam terbuka tentang pertanian.

"Tentunya kegiatan tersebut sangat edukatif dan menyenangkan. Para murid punya pengalaman belajar langsung tentang pertanian dan pengolahan hasil alam," kata Eko.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan program Desa BRILiaN dirancang untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lokal desa melalui empat aspek utama: penguatan BUMDesa, digitalisasi, keberlanjutan, dan inovasi.

"Desa BRILiaN merupakan salah satu bukti nyata BRI dalam membangun ekonomi yang lebih merata dan berkeadilan," ujar Hery.

Hingga akhir Maret 2026, Program Desa BRILiaN telah diikuti oleh 5.245 desa di Indonesia, yang berfokus pada sektor pariwisata, jasa, industri pengolahan, perdagangan, serta pertanian dan peternakan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....