Dari Reruntuhan Kelas, Harapan Pelajar SDN Teluk Tiram 5 Bangkit

  • 26 Jun 2026 21:44 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Aroma tanah basah yang menyengat hidung, seketika melempar ingatan Sri Helmiati ke sebuah bulan kelabu di penghujung tahun 2024. Saat itu, langit Banjarmasin menumpahkan air selama seminggu.

Dalam hitungan detik, atap dua ruang kelas mendadak luluh lantak, ambruk "berkalang tanah". Lantai yang semula datar berubah miring. Fondasi kayu ulin yang menjadi penopang, menyerah pada keasaman tanah gambut.

Beruntung saat peristiwa, ruang kelas kosong melompong. Lonceng sekolah yang menggantung di sudut selasar tak ikut berdentang, sebab para siswa sedang menikmati liburan semester.

“Usai kejadian, kami langsung memasang seutas tali rafia pada bangunan tersebut agar tidak ada yang melintas. Saya juga mengumpulkan para guru untuk mengadakan pertemuan mendadak,” kata Sri selaku Kepala SDN Teluk Tiram 5, Rabu, 17 Juni 2026.

Di ruang yang tersisa para guru duduk melingkar, mereka menyusun laporan dengan jemari sedikit gemetar. Lembaran kronologi dan foto reruntuhan itu pun dikirim ke dinas pendidikan setempat.

Demi menyelamatkan kegiatan belajar, Sri mengambil keputusan dengan menyatukan dua kelas dalam satu ruangan. Siswa kelas II harus berbagi atap dengan kelas IV, sementara ruang sebelahnya menampung kelas III dan kelas V.

"Dari total 73 siswa, sebanyak 45 siswa harus berbagi ruangan," katanya.

Kondisi itu menjadi pemandangan sehari-hari yang harus ditelan oleh para guru dan siswa selama sepuluh bulan. Tidak ada tembok yang membatasi ruangan, hanya ada papan tulis yang dipaksa berdiri di tengah sebagai pembatas.

Di satu sisi, guru menerangkan rumus geometri dasar, sementara di sisi lain siswa mengeja huruf-huruf permulaan. Suara itu saling beradu di udara, menciptakan dengung yang membuat konsentrasi belajar terkadang buyar.

Suasana riuh itu mendadak kikuk saat guru kelas V menyalakan pengeras suara untuk memutar materi pelajaran. Seketika itu pula, anak-anak kelas III di sebrangnya terdiam dan memendam tanya.

"Harap tenang dulu ya Nak. Kakak kalian yang kelas V mau mendengarkan materi pelajaran," kata Sri, sembari menempelkan telunjuk di bibir, menirukan seorang guru yang menenangkan para murid kelas II.

Potret ruang kelas itulah yang menggerakkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mengulurkan tangan. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), pihaknya hadir membawa kabar baik.

Bagi Sri, momentum itu adalah kado paling manis yang pernah ia terima. Air matanya menitik tepat di bulan ulang tahunnya, menyadari bahwa penderitaan anak didiknya akan segera berakhir.

Tak berselang lama, halaman sekolah berubah menjadi palagan gotong-royong yang riuh oleh dentang martil dan deru mesin pengaduk semen. Para pekerja sibuk mengukur kedalaman tanah gambut, memastikan tiang-tiang pancang tertanam kokoh.

Penantian panjang itu berbuah manis pada awal Desember 2025. Para siswa mulai menikmati fasilitas baru berupa dua ruang kelas, toilet, dan gerbang sekolah. Melalui bantuan senilai Rp500 juta itu membuat kegiatan belajar menjadi jauh lebih layak.

"Kalau saya bilangnya bantuan ini tangan ajaib, sebab kami sebelumnya tak menduga. Tahu-tahu pihak BRI datang ke sekolah," katanya.

Tak hanya itu, seluruh pelajar juga mendapatkan bantuan alat tulis. Bank berkode emiten BBRI tersebut turut memberikan beasiswa pendidikan sebesar Rp2,5 juta kepada 20 siswa, yang disalurkan langsung ke rekening tabungan masing-masing

Salah seorang wali murid, Ayu, mengungkapkan bantuan pendidikan yang diterima anaknya sangat meringankan beban ekonomi keluarga. Terlebih, suaminya hanya bekerja sebagai buruh bongkar muat barang.

"Dana beasiswa itu digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah seperti seragam, buku, tas, dan sepatu. Saya pun tidak khawatir lagi soal atap sekolah dan bisa melepas anak-anak belajar dengan tenang," ucapnya.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat, Mohammad Yamin, mengatakan tanggung jawab pendidikan bukan semata dari negara, melainkan semua lapisan masyarakat, termasuk perusahaan lewat program sosialnya.

Ia menilai dukungan pendanaan pendidikan dapat menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul, sebab pendidikan merupakan kunci memutus rantai kemiskinan sekaligus mendorong kemajuan bangsa.

“Bisa disebut sekolah, ketika siswa dan guru dapat menjalankan kegiatan belajar mengajar. Maka infrastruktur dan sumber daya manusia dalam dunia pendidikan menjadi modal penting yang harus diperhatikan,” ungkapnya.

Untuk menjawab tantangan pemenuhan infrastruktur tersebut, sektor korporasi ikut mengambil peran nyata. Hingga akhir Mei 2026, program BRI Peduli "Ini Sekolahku" telah menjangkau 68 sekolah di Indonesia.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa program itu tidak hanya memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga menyalurkan 264 fasilitas dan membangun 4.666 unit sarana pendukung belajar.

“Ini adalah wujud nyata kepedulian bagi kemajuan pendidikan di Indonesia yang tentunya selalu kami upayakan adaptif terhadap perkembangan zaman serta kebutuhan masa depan generasi muda,” ungkapnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....