Melawan Stroke, Syamsul Bangkit Jadi Juragan Burung Berkicau

  • 24 Jun 2026 06:33 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Banjarbaru – Belasan murai saling melempar kicauan di langit-langit kios Jalan Budi Waluyo, Banjarbaru. Di bawah riuhnya suara itu, jemari Syamsul (65) bergerak lincah, menyisipkan pakan dari sela-sela jeruji sangkar.

Siapa sangka, jemari yang kini begitu cekatan, dulunya lumpuh akibat serangan stroke selama dua tahun. Demi bisa melatih otot-ototnya kembali, ia harus menguras tabungan ke meja pengobatan.

"Dulu pas sakit, saya pakai kursi roda. Aktivitas setiap hari hanya minum obat, berjemur, dan mendengarkan kicauan burung di pelataran rumah," kata pria asal Banyuwangi itu, Sabtu, 20 Juni 2026.

Di kala sakit, kicauan murai dan kolibri bukan lagi sekadar hiburan pengusir sepi. Suara-suara itu adalah penenang jiwa, yang setia mengiringi usahanya dalam melawan kekakuan tubuh.

Rasa tenang yang dialami Syamsul bukanlah mitos. Berdasarkan penelitian dari Max Planck Institute for Human Development pada 2022, mendengarkan kicauan burung terbukti dapat mengurangi tingkat kecemasan manusia.

“Kuncinya ada di pikiran. Pokoknya jangan sampai stres. Jika stres kan tekanan darah bisa naik. Yang penting waktu itu saya berdoa dan minum obat agar bisa sembuh,” ungkapnya.

Setelah dinyatakan sembuh, setahun kemudian dia merantau ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, untuk membuka bengkel sepeda dan usaha burung berkicau. Namun, ujian kembali menerpanya.

Tokonya dijarah pencuri. Mereka mengambil seluruh isi toko termasuk burung-burung andalannya. Total kerugian yang dialami mencapai Rp15 juta dan membuat usahanya tutup selama sebulan.

Beruntung, ia tidak dibiarkan jatuh terlalu dalam. Joko, seorang mantri BRI yang kerap mampir sebagai pelanggan, datang membawa solusi permodalan lewat Program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"Waktu itu dia (Joko) bertanya, kok tidak berdagang lagi? Saya jawab tokonya dijarah maling. Kemudian dari situ, menawarkan KUR. Alhamdulillah, tiga hari proses langsung cair," ujarnya.

Pinjaman senilai Rp10 juta diterima Syamsul dan digunakan untuk membeli anakan burung ke Pasar Hewan Barabai, Kalimantan Selatan. Jarak itu ditempuhnya sekitar 3 jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari Banjarbaru.

Kardus-kardus berlubang berisi anakan Murai, Cucak Hijau, hingga Kolibri terikat erat di jok motornya untuk dibawa pulang dan dilatih. Kejeliannya memilih burung terasah sejak sekolah dasar.

"Pokoknya beli anakan, kemudian saya pelihara dan latih hingga bisa berkicau. Setelah itu baru dijual," ungkapnya.

Burung-burung itu ia latih di pelataran kontrakannya yang berlantai semen. Setiap pagi, sebelum matahari memanaskan atap seng, Syamsul sibuk menjepit ulat dengan pinset besi, menyuapkannya ke paruh-paruh mungil yang menganga.

Di dekat sangkar anakan, dia menggantung sangkar burung dewasa yang berkicau merdu dengan harapan menurunkan jurus-jurus cengkok terbaiknya. Tak hanya itu, pemutar suara portabel bertenaga baterai juga diputar di tiang jemuran.

Anakan murai yang badannya masih dipenuhi bulu ikut memiringkan kepala. Burung kecil itu mencengkeram ranting pohon mangga di dalam sangkar sambil membalas dengan getaran pita suara yang masih serak.

“Akhirnya banyak penggemar burung kenal saya. Mereka sering menyebutnya Pakde Burung dan itu saya jadikan nama toko,” katanya.

Berkat hal itu, perlahan Syamsul mampu bangkit dan menata keuangannya. Jejak pembayarannya yang bagus membuatnya mendapatkan akses permodalan kedua sebesar Rp25 juta pada tahun 2018.

Suntikan modal tersebut diputarnya untuk mempercantik penampilan tokonya. Dia juga melengkapi barang dagangnya mulai dari deretan sangkar berbagai ukuran, aksesori pelengkap, hingga beragam pakan ternak.

Usahanya pun kian berkembang saat pandemi Covid-19. Saat itu, bisnis burung berkicau mulai digandrungi karena masyarakat yang menghabiskan waktu di rumah akibat kebijakan pembatasan sosial membutuhkan hiburan.

"Saat banyak usaha yang tutup ketika pandemi Covid-19, saya malah sedang berkembang. Bahkan, saat itu saya bisa membeli rumah," ujarnya.

Dari usaha itu, ia mampu mengantongi pendapatan rata-rata Rp8 juta per bulan. Burung asuhannya pun dibanderol mulai dari Rp300 ribu hingga Rp5 juta per ekor, tergantung pada jenis dan kualitas kicauannya.

Kesuksesan Syamsul tidak lepas dari sokongan modal dan pendampingan mantri yang jeli melihat potensi usaha mikro. Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengatakan peran mantri tidak hanya sebagai penyalur KUR, tetapi juga mengedukasi keuangan dan pembinaan.

“Mantri bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi juga mengawal usaha nasabah hingga berkembang,” tegas Akhmad.

Sementara itu, Asmuni, salah satu pelanggan, mengaku kagum dengan semangat Syamsul. Menurutnya, meski usianya sudah senja, dia memiliki etos kerja pantang menyerah dan ramah kepada pembeli.

"Enaknya beli di sini tuh barangnya lengkap dan pemilik toko sering kasih motivasi soal kehidupan di luar urusan belanja," katanya.

Pekerja kantoran tersebut mengaku mulai menggeluti hobi burung kicau sejak pandemi Covid-19. Menurutnya, mendengarkan kicauan burung ampuh menenangkan pikiran setelah seharian bekerja.

Secara ilmiah, psikolog Nurhasanah menjelaskan bahwa stimulasi suara alam seperti kicauan burung bekerja melalui mekanisme neurologis tertentu. Proses itu memicu aktivasi sistem saraf parasimpatis yang berfungsi menenangkan tubuh.

Akibatnya, tekanan darah dan denyut jantung menjadi lebih stabil, ketegangan otot mereda, serta tubuh masuk ke dalam fase relaksasi. Secara biologis, kondisi ini efektif menekan pelepasan hormon kortisol.

"Karena kan kondisi stres yang banyak tekanan itu memicu adrenalin. Nah, dengan mendengarkan hal-hal yang sifatnya ritmis, itu akan lebih menenangkan dan menyenangkan," tutupnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....