Lawan Keterbatasan Fisik, Azmi Rintis Kemandirian Ekonomi dari Toko Plastik

  • 24 Jun 2026 06:38 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Jemari Azmi, meleset tiga kali saat membidik ikon aplikasi di layar gawainya. Ia pun menarik napas dalam-dalam, untuk meregangkan tubuhnya yang sempat tegang, akibat menderita gangguan motorik atau cerebral palsy.

Pada ketukan keempat, layar gawainya berhasil menampilkan baris menu transaksi. Senyum pria 34 tahun itu sumringah, saat melihat saldo rekeningnya bertambah, hasil dari penjualan kantong kresek.

“Sudah masuk ya kak, uangnya pas sesuai dengan harganya,” kata Azmi, kepada pelanggan yang berbelanja di tokonya, Pahandut, Kota Palangka Raya, Minggu, 21 Juni 2026.

Baginya, menghitung lembaran uang, dan mencari koin kembalian sering kali menjadi tantangan besar. Namun, berkat stiker putih dengan kode matriks, dia tak perlu lagi menguras energi untuk urusan uang kembalian.

Selain faktor fisik, keterbatasan modal kerap menjadi kendala utama dalam menjalankan usahanya. Kondisi itu kian pelik saat data pribadinya disalahgunakan oleh pihak lain hingga berujung pada riwayat kredit macet.

"Data saya digunakan orang lain, akibatnya saya sulit untuk mengajukan pinjaman," ujarnya.

Pengalaman pahit itu membuat Azmi semakin memahami pentingnya menjaga data pribadi dan keamanan digital. Ketertarikan itulah yang membawanya menjadi mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi di Politeknik Sampit.

Berbekal ilmu yang diperolehnya, Azmi berupaya memaksimalkan teknologi untuk menyiasati keterbatasan modal. Langkah itu terbukti efektif, berkat hadirnya aplikasi BRImo dan QRIS.

Melalui aplikasi tersebut, ia dapat memantau transaksi keuangan sekaligus mengirim paket tanpa harus repot datang ke agen ekspedisi. Cukup dengan beberapa ketukan di layar gawai, kurir akan langsung datang menjemput paket di tokonya.

"Fitur untuk mengirim paket sangat membantu sekali, terutama untuk penyandang disabilitas seperti saya," ungkapnya.

Selain itu, kehadiran jasa pengiriman sangat mempermudah Azmi dalam menyuplai barang dagangan. Ia tidak perlu lagi merepotkan sang ayah untuk berbelanja ke pasar grosir.

Berkat kemajuan teknologi, usaha yang dirintisnya sejak Januari 2026, mampu mengantongi omset sekitar Rp1 juta-an setiap bulannya. Sementara untuk produk plastiknya dijual dari harga Rp4 ribu hingga Rp40 ribu tergantung jenis dan ukuran.

“Bukan soal omsetnya sih, tetapi lebih ingin mandiri saja. Sekalian belajar berdagang,” katanya.

Salah satu pelanggannya, Hidayat, mengatakan membeli plastik di toko milik Azmi karena merasa kagum dengan kegigihannya. Di tengah keterbatasan, ia mau mandiri dengan membuka usaha.

"Dia tidak gengsi, justru memilih jalur mandiri untuk belajar berbisnis. Untuk mendukung niat baik itu, saya membeli dagangannya," ungkap Hidayat.

Peringkat Delapan

Permasalahan yang menimpa Azmi bukanlah kasus tunggal di Indonesia. Data Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) pada Januari tahun 2024, mencatat ada 668 juta data pribadi tersebar dari enam platform digital di tanah air. Hal itu mencakup nomor identitas, nomor kartu keluarga, riwayat transaksi, dan data biometrik.

Tak hanya itu, berdasarkan data Surfshark, perusahaan virtual private network (VPN) asal Belanda, menunjukkan sepanjang Januari 2020-Januari 2024, Indonesia menjadi negara dengan kebocoran data terbanyak ke-8 di dunia, dengan estimasi 94,22 juta akun.

Menanggapi hal itu, Akademisi Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Quratul Ain mengatakan keamanan data menjadi permasalahan serius seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi digital.

Menurutnya, pendampingan bagi penyandang disabilitas dan masyarakat dengan literasi digital yang rendah sangatlah krusial. Mereka harus diberikan pemahaman terkait perlindungan data pribadi, keamanan akun, serta kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan.

“Inklusi digital bukan hanya memberikan akses terhadap teknologi, tetapi juga memastikan setiap orang memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk menggunakan teknologi tersebut secara aman,” katanya.

Hal senada dikatakan oleh Corporate Secretary BRI, Dhanny. Ia mengimbau nasabah untuk waspada terhadap pesan mencurigakan, tidak membagikan data rahasia, dan rutin mengganti kata sandi yang kuat.

“Keamanan dan kenyamanan nasabah merupakan prioritas. Namun kami juga mengajak seluruh nasabah untuk selalu berhati-hati terhadap pesan atau tautan mencurigakan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalteng, Primandanu Febriyan Aziz, meminta masyarakat untuk segera melapor ke pihaknya maupun ke perusahaan penerbit kredit, jika menemukan adanya penyalahgunaan data pribadi.

“Apabila nantinya terdapat unsur pidana, korban juga dapat melaporkannya ke kepolisian untuk proses hukum,” ujarnya.

Di sisi lain, OJK juga menerima laporan dari Satgas Pasti Kalteng periode Januari hingga 31 Mei 2026, tercatat 184 aduan entitas ilegal. Itu terdiri dari 167 aduan pinjaman online ilegal, 14 aduan investasi ilegal, dan 3 aduan gadai ilegal.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....