Ketangguhan Sigit, Menembus Keterbatasan Netra demi Kemandirian Ekonomi
- 21 Jun 2026 18:56 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Banjarbaru - Aroma serai memenuhi ruangan yang temaram di Jalan Gotong Royong, Banjarbaru. Di atas dipan kayu, jemari Sigit bergerak lincah memijat cekungan tengkuk pelanggannya yang licin oleh minyak urut.
Meski sepasang matanya tak bisa melihat dunia sejak kecil, namun pria berusia 48 tahun itu tidak patah arang. Lewat jemarinya, ia dapat menyambung hidup dengan membuka jasa pijat demi menafkahi keluarga.
"Lemaskan sedikit lehernya ya. Kalau rasanya terlalu sakit, bilang ya, jangan ditahan," katanya kepada pelanggan, Kamis, 18 Juni 2026.
Dunia usaha yang dirintisnya itu kerap kali menyuguhkan kenyataan pahit. Dia pernah menjadi korban penipuan oleh oknum pelanggan yang memanfaatkan keterbatasan penglihatannya demi meraup keuntungan sepihak.
Mantan atlet renang ini bercerita, ada pelanggan nakal yang membayar jasanya dengan nominal yang tidak semestinya. Mereka menyodorkan selembar uang seribu rupiah, tetapi mengaku seratus ribu rupiah hingga meminta uang kembalian.
"Kalau untuk beberapa jumlah saya gak ingat. Tapi sering saya temui kejadian itu," ucapnya.
Ujian hidup kian berat, saat ayah tiga anak ini membuka usaha konter pulsa bersama istrinya pada tahun 2011. Malang tak dapat ditolak, mereka menjadi korban perampasan di Jalan Panglima Batur.
Peristiwa itu terjadi saat mereka hendak menyetorkan uang hasil penjualan pulsa ke sebuah gerai besar. Akibatnya, telepon genggam serta uang setoran Rp20 juta lenyap dalam sekejap.
Tak hanya kehilangan modal, musibah tersebut memukul telak usahanya hingga gulung tikar dan menyisakan trauma mendalam.
Kejadian itu juga membuatnya terpuruk karena harus menanggung kerugian tersebut.
Lewat pengalaman kelam itu, Sigit akhirnya mengubah strategi keuangannya demi faktor keamanan. Ia memilih memanfaatkan jaringan agen BRIlink terdekat untuk menabung hingga mencairkan dana bantuan dari pemerintah.
“Sangat membantu sekali. Saya agak trauma kalau harus membawa uang tunai, apalagi karena pengalaman dirampas dulu,” ujarnya.
Ketangguhan yang dimiliki Sigit tidak tumbuh dalam semalam, melainkan ditempa oleh rentetan babak kehidupan yang panjang dan berliku. Jauh sebelum mahir menata kembali hidupnya, Sigit kecil sudah akrab dengan perjuangan.
Perkenalan Sigit dengan dunia terapi bermula di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Fajar Harapan Martapura semasa sekolah dasar. Ia lalu merantau ke Pemalang, Jawa Tengah, untuk melanjutkan sekolah di Rumah Pelayanan Sosial Dristarasta.
Sayangnya, mimpi untuk menyelesaikan sekolah harus kandas saat menginjak kelas tiga, akibat kondisi ekonomi orang tua yang memburuk. Tak ingin menjadi beban, ia nekat merantau ke Jakarta demi mencari sesuap nasi.
"Saya pada waktu itu pikirnya yang penting saya bisa dapat uang. Karena kondisi yang memaksa demikian," ujarnya.
Kerasnya ibu kota langsung menyambutnya tanpa ampun. Sigit mengenang kembali masa-masa kelam itu, saat dia harus menyusuri trotoar kawasan Batu Sari dengan tongkatnya di bawah terik matahari.
Tanpa uang sepeser pun, ia melangkah dengan lutut gemetar menuju sebuah masjid terdekat. Tepat di depan pancuran, ia meneguk air wudu berkali-kali hanya demi mengganjal perutnya yang keroncongan.
"Untungnya saat itu ada seorang jurnalis yang iba melihat saya. Dia kemudian mengantarkannya ke alamat panti pijat yang sedang dicari. Di sana, saya bekerja selama dua tahun," kenangnya.
Kerinduan pada tanah kelahiran membawanya pulang ke Kalimantan Selatan pada tahun 1997. Ia pun membangun pernikahan dan mengadu nasib di kawasan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu.
Di tengah kepulan debu hitam wilayah pertambangan, nasibnya sempat membaik. Dompetnya perlahan menebal, hasil dari upah memijat para sopir truk tambang dan buruh kayu yang uratnya menegang setelah seharian bekerja keras.
Namun, roda nasib kembali berputar ke bawah. Badai kehidupan yang lebih besar mengguncang hebat hingga rumah tangganya karam dan berakhir dengan perceraian pada September 2000.
"Karena kondisi terpuruk seperti itu, akhirnya saya memutuskan kembali ke Jakarta. Bukan cuma untuk menyembuhkan luka batin, tapi juga mengalihkan kesedihan dengan memperdalam ilmu pijat meridian asal Tiongkok," ujarnya.
Pencarian ketenangan menuntunnya belajar ilmu agama ke Pesantren Tarbiatul Akhlak, Probolinggo, sebelum menikah dengan Maskanah pada 2005. Dari pernikahan keduanya itu, perlahan ia mampu membangun usaha mandiri dari rumah kontrakan.
Selain membuka jasa pijat, Sigit juga berjualan kerupuk. Tarif pijatnya dibanderol Rp65 ribu per jam, sedangkan kerupuknya dihargai Rp 20 ribu. Dari kedua usaha ini, ia mampu meraup omzet sekitar Rp4 jutaan per bulan.
Kini, rumah kontrakannya itu telah bertransformasi menjadi Sekretariat Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Nusantara (YKTN). Sigit dipercaya mengemban amanah sebagai ketua, sementara Maskanah bertindak sebagai pembina.
Di sana, ia menularkan ilmu pijatnya secara gratis kepada sesama tunanetra. Langkah itu dilakukan demi mengangkat martabat mereka, sekaligus mencetak kemandirian agar tidak ada lagi yang turun ke jalan untuk mengemis.

Dedikasi itu menuai simpati dari konsumennya, Hidayat, yang mengaku tidak hanya datang untuk menyegarkan badan, tetapi juga mencari inspirasi. Di tengah keterbatasan fisik, Sigit tetap mandiri bahkan mampu membantu sesama.
Baginya, setiap rupiah yang dikeluarkannya memiliki nilai yang jauh lebih besar urusan pijat. Ada misi kemanusiaan dan dukungan moral yang ingin ia sampaikan kepada komunitas tunanetra agar tetap berdaya.
"Jadi tidak cuma sehat badannya, tapi pulang dari saya bisa saling membantu teman-teman tunanetra lewat keahlian mereka," ujar Hidayat.
Sementara itu, Nabila, petugas layanan Agen BRILink Naffa, mengatakan bahwa melayani pelanggan seperti Sigit bukan lagi sekadar perkara menyelesaikan pekerjaan. Lebih dari itu, ada kepedulian besar yang ia rasakan setiap kali membantu pria penyandang tunanetra tersebut.
Ia memastikan, agen tempatnya bekerja selalu menempatkan penyandang disabilitas sebagai prioritas utama. Pelayanan yang cepat, ramah, dan nyaman menjadi kunci utama untuk memudahkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
"Umumnya, teman-teman disabilitas datang ke sini untuk mencairkan dana bantuan dari pemerintah," tutur Nabila.
Direktur Bisnis Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengatakan bahwa Agen BRILink memiliki peran strategis sebagai perpanjangan tangan perusahaan dalam menghadirkan layanan keuangan yang inksusif.
"Jumlah Agen BRILink hingga akhir Maret 2026 telah mencapai lebih dari 1,18 juta agen," katanya.
Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Palangka Raya, John Budiman Bancin, mengatakan bahwa semua orang berhak mendapatkan akses layanan perbankan yang merata tanpa memandang status. Sebab jika melihat data, roda perekonomian ternyata juga diisi oleh para pelaku usaha dari kalangan disabilitas.
John menyebutkan, data dari Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada akhir 2025 menunjukkan terdapat 1,3 juta jiwa pelaku usaha disabilitas. Ia menilai, kontribusi mereka memiliki potensi yang sangat besar terhadap perekonomian negeri ini.
"Ini sebenarnya menunjukkan harapan ke depannya jika semua unsur diberikan kesempatan yang sama. Salah satunya, lewat akses perbankan yang luas seperti ini, pemerintah dan sektor finansial dapat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mereka," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....