Kisah Arbainah, Penjahit Disabilitas yang Melawan Kerasnya Kehidupan
- 20 Jun 2026 18:47 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Martapura - Tongkat besi yang bersandar di samping mesin jahit mendadak jatuh dan menghantam lantai. Arbainah (38) tak menoleh, tatapannya fokus mengarahkan kain satin biru agar tak melenceng dari tikaman jarum.
Sementara bawah meja, kaki kanannya tidak menapak, berayun beberapa sentimeter di atas lantai. Penyandang disabilitas itu tetap melanjutkan pekerjaannya menjahit, diiringi komentar warganet dari sisi kiri layar gawai yang bersangga tripod.
“Sejak balita saya menderita polio hingga kaki kanan lumpuh. Ditambah lagi kondisi orang tua yang kurang mampu membuat saya hanya bisa sekolah sampai tingkat dasar,” katanya, Selasa 16 Juni 2026.
Setelah belajar menjahit di panti rehabilitasi dan pusat pelatihan disabilitas di Surakarta, Arbainah sempat bekerja di sebuah rumah jahit sebelum memberanikan diri membuka usaha sendiri pada tahun 2007.
Dua tahun berselang, ia menambatkan hati pada Muhammad Thaher. Ikatan pernikahan itulah yang membawanya pindah ke Desa Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Dia pun menjadi andalan warga yang membutuhkan jasa menjahit. Di sana, jasanya tidak dibayar dengan uang, melainkan menggunakan sistem barter dengan hasil alam.
“Warga desa membayar jasa saya dengan hasil alam mulai dari pisang, padi, singkong dan lain-lain. Sebab, di desa hasil bumi melimpah namun uang sulit didapat,” ujarnya.
Kendati demikian, wanita kelahiran 1988 itu masih mendapatkan rupiah dari hasil mengerjakan pesanan para pelanggannya di kota. Paket-paket kain itu datang dan pergi menumpang mobil seminggu sekali.
Setelah satu dekade, kerinduan pada derap ekonomi kota membuatnya memutuskan kembali mengadu nasib ke Martapura di awal 2020. Bermodalkan uang Rp500 ribu, ia nekat menyewa sebuah toko di Jalan Martapura Lama.
Usaha yang menjadi tumpuannya itu diberi nama Shofa Busana. Nama tersebut sengaja ia petik dari anak pertamanya, sebuah identitas yang bukan sekadar penanda usaha, melainkan wujud cinta seorang ibu.
Setelah tiga bulan berjalan, usahanya dihantam pandemi Covid-19. Sepinya order saat itu, membuatnya menerima bantuan dari pemerintah sebesar Rp2,4 juta yang digunakan untuk menyambung hidup.
Ujian belum selesai. Pada Januari 2021, di tengah situasi pandemi yang belum mereda, banjir merendam tokonya selama dua pekan. Saat air surut, ruang kerjanya penuh dengan lumpur, sementara kain-kain pesanan pelanggan habis hanyut terbawa arus.

Perlahan ia mencoba bangkit, mengumpulkan sisa-sisa semangat dan modal yang ada untuk menata kembali usahanya. Meski tertatih, ia bertanggung jawab penuh atas kain pelanggan yang rusak akibat bencana tersebut.
“Total kerugian waktu itu sekitar Rp10 juta untuk ganti rugi kain pelanggan dan perbaikan mesin. Untungnya, saya diizinkan mencicil dan dibantu oleh teman-teman disabilitas juga,” kenangnya.
Dua tahun berselang, cobaan serupa kembali datang. Hujan deras yang mengguyur Martapura yang membuat air menggenangi tokonya. Akibatnya, mesin jahit yang menjadi alat utamanya mencari nafkah rusak.
Masa sulit itu berhasil terlewati berkat kucuran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp15 juta dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Modal itulah yang menjadi penyelamatnya untuk membeli mesin jahit baru.
Mesin jahit baru itu mempercepat proses kerjanya, hingga omzet bulanan naik dari Rp3 juta menjadi Rp6 juta. Berkat pencapaian tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk kredit rumah di Kompleks Berlian Residence 7, Tungkaran.
“Karena toko sering kebanjiran, saya memindahkan usaha ini ke rumah. Repot kalau harus rugi terus-menerus akibat banjir. Lagipula, jarak dari toko ke rumah hanya sekitar 2 km, jadi pelanggan masih bisa menjangkaunya,” jelasnya.
Dengan memanfaatkan media sosial, ia menjalankan usahanya dari ruang tamu. Pelanggannya pun tidak hanya datang dari sekitar wilayah Kalimantan Selatan, tetapi telah meluas hingga ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meski pasarnya merambah ke luar pulau, ia tetap mempertahankan prinsip harga yang terjangkau. Dirinya mematok tarif jasa menjahit berkisar Rp10 ribu hingga Rp200 ribu tergantung tingkat kesulitan pengerjaan.
“Untuk memudahkan pelanggan dari luar daerah, kami menyiapkan metode pembayaran menggunakan QRIS,” ujarnya.
Namun, seiring berkembang usaha, cobaan kembali menerpa rumah tangganya pada Januari 2025. Pengadilan Agama Martapura mengetuk palu putusan yang mengubah status tunggalnya menjadi tulang punggung keluarga.
Kini, setiap kali jarum jam dinding bergeser melewati pukul dua dini hari dan mesin jahitnya masih terus berbunyi, Arbainah sesekali menengok ke balik tirai pembatas ruang kerjanya. Di dalam kamar, ketiga buah hatinya tengah tertidur pulas.
"Saya masih harus berjuang untuk masa depan mereka. Kalau bukan saya yang berusaha, siapa lagi?" katanya.
Sementara itu, pelanggan asal Kalimantan Tengah, Nana, mengatakan, selalu kagum dengan ketekunan dan kerapian jahitan Arbainah. Baginya, jarak yang jauh tidak menjadi masalah karena hasilnya tidak pernah mengecewakan.
"Jahitannya sangat rapi dan selalu tepat waktu. Di balik keterbatasannya, ada semangat kerja yang justru jauh lebih luar biasa. Itu alasan saya selalu kembali menjahit baju di sana," ujarnya lewat sambungan telepon.
Ketekunan Arbainah turut menarik perhatian Evi Nurleni, pengamat sosial dari Universitas Palangka Raya. Ia menilai, pemerintah dan masyarakat harus menyediakan ruang yang inklusif agar para penyandang disabilitas semakin mandiri.
Menurut Evi, hal ini krusial mengingat tantangan ke depan akan semakin kompleks, terutama di sektor ekonomi dan lapangan pekerjaan. Tanpa adanya ekosistem pendukung seperti kemudahan akses modal dan pelatihan, kelompok tersebut akan kesulitan bersaing secara mandiri di tengah perubahan zaman.
"Arbainah menjadi salah satu contoh. Dia membuktikan dengan adanya akses modal dan pelatihan, penyandang disabilitas bisa keluar dari stigma ketergantungan dan mandiri secara ekonomi," ujarnya.
Senada dengan hal itu, Corporate Secretary BRI, Dhanny, mengungkapkan bahwa pemberdayaan menjadi salah satu kunci untuk memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, dukungan berupa fasilitas dan peningkatan keterampilan sangat dibutuhkan agar kelompok tersebut dapat hidup mandiri.
"Kami meyakini bahwa setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan, termasuk para penyandang disabilitas," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....