Dari Jalanan ke Panggung Barber Dunia, Kisah Sukses Mantan Anak Punk Bangun Usaha

  • 18 Jun 2026 21:49 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Kibasan kain poliester oleh Muhammad Andi (37) jatuh menyelimuti tubuh pelanggan yang duduk di atas kursi hidrolik berlapis kulit. Ia mundur selangkah, menakar belahan rambut pria di depannya lewat pantulan cermin setinggi dada.

Sang barber menjumput rambut dengan jarinya. Gunting sasak di tangan kanan pria berkulit sawo matang ini mulai menari dari batas tengkuk hingga bagian atas kepala. Sisir pipih pun ikut menyapu sisa potongan rambut hingga jatuh ke lantai.

“Bagaimana? Segini sudah pas, atau bagian rambut atasnya mau ditipiskan lagi sedikit?” kata Andi saat berbincang kepada pelanggan, Minggu, 14 Juni 2026.

Gunting sasak itu kembali berbunyi, berpadu dengan ketukan drum dari lagu 'Pulang' milik band Seringai yang terdengar samar mengisi ruangan. Suasana terasa kian lengkap dengan deretan poster band punk yang terekat di dinding putih pojok ruangan.

Dari balik poster itulah, masa lalu Andi bicara tentang jalanan, jaket paku-keling, dan rambut mohawk. Kini, semua itu hanya menyisakan sebaris jahitan pada cuping telinganya, usai dirapatkan kembali akibat lubang lebar saat menjadi anak punk.

"Dulu orang tua tidak mampu, saya cuma bisa sekolah sampai sekolah dasar. Kasihan juga kalau dipaksakan," kenangnya.

Kerasnya kehidupan membawanya pada gerakan anti kemapanan itu saat usia 17 tahun, tepatnya pada 2007. Bermodalkan ukulele bersenar nilon, ia mulai menyusuri kawasan ruko dan lampu merah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Mengamen pun menjadi satu-satunya cara bertahan hidup kala itu.

Baginya, menahan rasa lapar sudah menjadi hal biasa. Sering kali, malamnya ditutup dengan mengais sisa makanan di restoran cepat saji yang masih layak telan. Hidup menggelandang membuat tubuhnya saban hari akrab dengan debu jalanan.

Bahkan ia pernah diusir ketika masuk tempat ibadah, saat ingin minum dari air keran. Belum sempat air membasahi kerongkongannya, hardikan kasar dari warga sekitar mengusirnya pergi. Pengalaman tersebut menggoreskan luka pada harga dirinya.

"Awalnya saya sangat menyayangkan kejadian itu terjadi. Namun, ada pelajaran yang dipetik, jika manusia sering kali hanya melihat penampilan," katanya.

Setelah bertahun-tahun hidup di emperan toko, titik balik hidupnya terjadi pada 2013, saat ia meminang gadis yang bernama Lina. Dari sana, keduanya memutuskan merantau dan memulai lembaran baru di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Menyadari status barunya sebagai seorang suami, pria kelahiran Batulicin itu tak lagi bisa mengandalkan petikan ukulele demi sekadar membeli sebungkus nasi. Kehidupan barunya menuntut sebuah pekerjaan yang mampu menghidupi keluarganya.

Setelah sempat bekerja serabutan selama dua tahun, ia akhirnya nekat membuka salon pangkas rambut pada 2015. Bermodal peralatan seadanya, Andi harus berbagi ruang di kios sewaan berukuran 4x5 meter di Pasar Kahayan, separuh ruangan untuk usaha jahit sang istri, Lina, dan separuhnya lagi disulap menjadi salon sederhana milik Andi.

Keahlian mencukur itu didapatkannya secara otodidak sewaktu menjadi anak punk yang kerap menjadi tukang cukur dadakan di komunitasnya. Berbekal pengalaman masa lalu tersebut, Andi pun mencoba mengasah kembali kemampuannya demi menyambung hidup.

“Waktu itu harga cukur masih Rp10 ribu dan pelanggan yang datang sehari paling banyak 3 orang. Akhirnya saya berpikir, kayaknya ada yang salah nih,” kenangnya sambil tersenyum.

Dengan kondisi tersebut, ia memutuskan untuk memperoleh akses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) senilai Rp7,5 juta. Lewat modal itulah, Andi membeli beberapa kursi, mesin clipper profesional, dan mempercantik tampilan tokonya.

Ia juga membuat area khusus untuk cuci rambut pelanggan dan sofa ruang tunggu yang nyaman. Selain itu, Andi juga menyediakan pendingin udara di ruangan agar pelanggan makin betah.

"Saya sering ke Banjarmasin untuk ikut pelatihan dari beberapa barber top di sana," kata pemilik motor Vespa kuning tersebut.

Kemampuannya mencukurnya kian matang, hingga ia sukses memenangkan ajang internasional Bali Barber Expo pada Juli 2025. Di panggung internasional itu, ia mengalahkan peserta dari Malaysia, Thailand, hingga Mongolia.

Ketika itu, dia mengusung konsep kedaerahan. Salah satu karya ikoniknya adalah model rambut yang menyerupai paruh burung Enggang, satwa endemik khas Kalimantan.

“Waktu itu diikuti sekitar 10 negara dengan total peserta 50 orang. Alhamdulillah saya mendapatkan juara pertama,” ucapnya.

Penghargaan itu berlanjut pada Januari 2026, ayah dua anak itu berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Ia mencukur rambut sebanyak 377 orang dengan waktu selama 11 jam 40 menit nonstop.

Prestasi tersebut membawa usahanya berkembang pesat hingga memiliki tujuh cabang dengan total 16 karyawan. Dengan tarif pangkas rambut sebesar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu, ia kini mampu mengantongi keuntungan bersih dari semula hanya Rp300 ribu menjadi Rp15 juta.

"Nominal tersebut merupakan laba bersih setelah dipotong berbagai biaya mulai dari sewa tempat, perbaikan alat, bayar listrik, dan pegawai," ucapnya.

Tak ingin sukses sendirian, Andi memilih untuk membuka jalan bagi orang lain dengan membagikan ilmu secara cuma-cuma. Baginya, keberhasilan sejati adalah ketika ia mampu membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.

“Saat ini kami juga merekrut anak-anak muda yang putus sekolah untuk dilatih secara gratis hingga menjadi pemangkas rambut profesional,” ujarnya.

Upaya itu mendapatkan sambutan hangat dari pelanggannya, Amin. Ia mengaku selalu terkesan setiap kali berinteraksi dengan karyawan Barber Bee karena rasa kekeluargaan yang terasa erat.

"Setiap kali saya potong rambut di sini, hasilnya tidak pernah mengecewakan. Namun, yang lebih penting, ketika pemiliknya langsung mau membagikan ilmunya secara gratis, itu sangat luar biasa," kata Amin.

Dari kacamata sosiologi, pengamat Evi Nurleni, mengatakan aksi nyata yang ditunjukkan oleh pemilik usaha Barber Bee adalah sebuah bentuk intervensi sosial yang sangat efektif dalam merespons isu-isu struktural di masyarakat.

Dosen Universitas Palangka Raya tersebut juga melihat langkah untuk merekrut dan melatih anak muda yang putus sekolah secara gratis adalah strategi yang tepat sasaran.

"Tantangan terbesar saat ini adalah stigma sosial. Dengan memberikan mereka keterampilan pangkas rambut, nantinya akan menjadikan mereka lebih mandiri," ungkap Evi.

Kisah sukses Andi dan kemandirian ekonomi berbasis komunitas ini sejalan dengan komitmen BRI dalam mendukung ekosistem usaha kerakyatan melalui pembiayaan yang tepat.

Direktur Bisnis Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa pihak perbankan akan terus mendorong produktivitas masyarakat bawah melalui KUR.

Pada periode Januari hingga Mei 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp84,36 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 46,87 persen dari total alokasi KUR BRI yang mencapai Rp180 triliun pada tahun ini.

“Mayoritas penyaluran KUR diarahkan ke sektor-sektor produktif yang memiliki dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Akhmad.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....