Kisah Pengrajin Mandau Generasi ke-4 yang Menolak Punah

  • 14 Jun 2026 10:46 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Ariniawati (37) tidak memedulikan peluh yang keluar di pelipisnya. Matanya sedikit menyipit saat jemarinya yang legam berusaha mengampelas guratan ujung kayu, membentuk gagang mandau, senjata tradisional khas suku Dayak.

Di sebelahnya, sang adik, Raymond (26), sedang memeriksa kelurusan bilah mandau yang terbuat dari baja. Ia mengangkat lempengan itu setinggi mata, membidiknya ke arah cahaya sembari menyapukan ibu jari di sepanjang tepian yang tajam.

Bagi keduanya, bengkel kerja di Jalan Mendawai, Kota Palangka Raya itu bukan sekadar tempat mengais rezeki. Di ruang itulah, tradisi membuat mandau tumbuh menjadi warisan empat generasi yang dirawat agar tak hilang ditelan zaman.

Guratan nama para pendahulu terukir samar pada dinding papan tempat mereka bersandar: kakek buyut Penyang Sidar sang perintis, kakek Arun Sawung sang penerus, hingga Agon Arun Sawung sang ayah. Namun sejak 2014, estafet kepemimpinan itu berpindah ke pundak Ariniawati, yang kemudian ia beri nama Huma Mandau.

"Setelah papa meninggal, kami berdua yang melanjutkan. Ini kan sebuah budaya yang harus dilestarikan," kata perempuan yang akrab disapa Arin ini, Minggu 7 Juni 2026.

Sejarah pembuatan mandau di keluarganya begitu panjang, hingga ia tak ingat pasti kapan sang buyut mulai menempa senjata itu. Namun, waktu mengubah cara kerjanya, jika generasi sebelumnya mengerjakan seluruh proses pembuatan mandau seorang diri, kini di generasinya polanya berbeda.

Di tangan Arin, Huma Mandau tidak sekadar menjadi tempat produksi senjata tradisional, melainkan simbol pelestarian budaya. Dalam merawat warisan tersebut, usaha itu tumbuh di atas prinsip keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

"Mandau merupakan sebuah warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas. Maka dari itu, saya memiliki tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap lestari," ucapnya.

Alih-alih menggunakan material baru, mereka memilih memanfaatkan kembali baja per mobil truk yang sudah tidak terpakai. Baja tersebut ditempa ulang menjadi bilah yang tajam oleh perajin pandai besi warga sekitar.

Tak hanya itu, kakak-beradik itu kerap memanfaatkan sisa-sisa bongkahan kayu berkualitas dari pabrik mebel. Ia menilai, butuh waktu puluhan tahun untuk menumbuhkan sebatang pohon.

"Oleh karena itu, kami lebih memilih memanfaatkan kayu sisa agar tidak ada nilai yang terbuang. Kalaupun terpaksa membeli kayu dan baja baru, kami pastikan semuanya terpakai tanpa sisa," ujarnya.

Ibu tiga anak ini menjelaskan yang tak kalah penting dari mandau adalah sarungnya yang biasanya disebut kumpang. Wadah itu berfungsi sebagai pelindung sekaligus pemegang unsur keindahan.

Ukiran dan anyaman rotan sangat mengambil peran pada sarung mandau. Untuk memasok bahan baku rotan berkualitas, ia merangkul pencari rotan di Desa Sei Gohong.

"Beberapa bahan baku memang semakin sulit diperoleh dibandingkan dahulu. Namun, kami berupaya untuk menghasilkan produk terbaik dengan tetap menjaga kualitas," ujarnya.

Upaya Huma Mandau menembus pasar nasional kian terarah saat mengikuti UMKM Expo Brilianpreneur yang diselenggarakan oleh BRI di Jakarta Convention Center (JCC) pada 2023 silam. Dalam pameran itu, sebilah mandau mereka sukses terjual seharga Rp6 juta.

Rekam jejak Huma Mandau makin gemilang. Arin juga pernah berpartisipasi dalam Apresiasi Kreasi Indonesia (AKI) 2023 dari Kemenparekraf RI dan ia pun sukses menyabet juara ketiga dalam ajang Sahabat IKM Banua 2024.

"Jadi, yang kami jual ini adalah mandau dalam bentuk suvenir. Saat pelanggan membelinya, mereka juga turut merawat cerita dan ketangguhan budaya di dalamnya," kenangnya sambil mengingat momen tersebut.

Bahkan untuk memperluas penetrasi pasar, alumnus SMKN 2 Palangka Raya ini mulai merambah ke ekosistem digital. Di sudut bengkel kerjanya, terdapat kamera ponsel yang merekam video proses pembuatan mandau.

Rekaman itu kemudian diedit menjadi video cerita berdurasi 60 detik untuk dipublikasikan ke jagat maya. Ia ingin menunjukkan kepada calon konsumen bahwa sebilah mandau bernilai jutaan rupiah lahir dari proses panjang yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi.

Ia menilai tantangan yang dihadapi adalah mengenalkan mandau dengan cara yang lebih relevan bagi generasi muda. Menurutnya, saat mereka memahami nilai budaya dan sejarah, banyak yang justru tertarik dan bangga terhadap warisan leluhurnya.

“Kami menjual mandau dari harga Rp1,2 juta hingga Rp7,5 juta, tergantung motif dan ukuran. Sementara pangsa pasarnya, 80 persen justru terjual ke wilayah luar Kalimantan, seperti Pulau Jawa dan Sumatra,” ucapnya dengan senyum sumringah.

Untuk memudahkan transaksi pembayaran, Arin mengadopsi teknologi QRIS dan aplikasi BRImo. Melalui ekosistem digital tersebut, dia sukses membukukan omzet hingga Rp20 juta per bulan.

Kemudahan ekosistem digital itu bukan sekadar catatan di atas kertas, melainkan turut dirasakan oleh para konsumennya. Salah satunya adalah Abdul Khair, seorang kolektor asal Jakarta yang turut merasakan kemudahan bertransaksi.

Berkat digitalisasi, Abdul Khair tidak perlu ke Kalimantan hanya untuk mengecek mandau buatan Huma Mandau. Ia cukup memantau detail produk lewat video pendek yang dikirimkan, lalu menuntaskan pembayaran dalam hitungan detik menggunakan QRIS.

"Awalnya ada rasa khawatir, karena membeli barang bernilai jutaan rupiah dari jarak yang sangat jauh. Tapi begitu tahu pembayarannya bisa pakai QRIS dan tokonya tepercaya, rasa ragu itu langsung hilang," ujar Abdul saat dihubungi.

Kehadiran Huma Mandau juga dirasakan manfaatnya oleh seorang pemasok rotan asal Desa Sei Gohong, Tiwun. Ia mengatakan bahwa kerja sama yang terjalin selama ini telah mengubah roda perekonomian keluarganya. Sebelumnya, rotan hasil panennya sering kali dihargai murah oleh tengkulak.

"Arin selalu bilang kalau mandau ini mau dipasarkan ke luar Pulau Kalimantan, makanya butuh rotan yang berkualitas. Hal itu juga membuat kami bangga dan merasa ikut menjaga budaya pada mandau tersebut," ujarnya di ujung telepon.

Huma Mandau adalah potret nyata dari pelaku UMKM daerah yang mampu memanfaatkan pemberdayaan warga lokal dan digitalisasi untuk mengikis batas geografis. Berkat digitalisasi, produk lokal mampu mandiri secara ekonomi di pasar nasional.

Kepiawaian ekosistem digital yang ditunjukkan Huma Mandau selaras dengan komitmen BRI terhadap pemberdayaan pelaku usaha berbasis environmental, social, and governance (ESG). Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu, mengatakan program itu kini menjadi fokus utama perseroan.

“Aspek keberlanjutan menjadi pilar utama, di mana pemberdayaan ekonomi rakyat dan pelestarian lingkungan telah menjadi bagian dari strategi BRI,” katanya.

Keberhasilan Huma Mandau mendapat sorotan dari akademisi Universitas Palangka Raya, Miar Piter Bakar. Menurutnya, dengan memanfaatkan teknologi, usaha kerajinan lokal mampu menembus pasar nasional. Selain itu, penggunaan transaksi digital seperti QRIS dan mobile banking juga membuat transaksi menjadi lebih efisien.

"Digitalisasi mendorong peningkatan ekonomi sehingga informasi produk menjadi transparan, transaksi lebih cepat, dan persaingan usaha menjadi lebih terbuka. Namun demikian, transformasi digital juga harus dibarengi dengan peningkatan literasi digital masyarakat," tutupnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....