Kisah Vinawati: Panen Buah Jambu Kristal dari Pekarangan

  • 28 Mei 2026 21:19 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Pulang Pisau - Bagi Vinawati, untuk mengecap segarnya buah jambu kristal tidak perlu merogoh kocek. Ia cukup berjalan sebelas langkah dari bibir pintu rumahnya menuju pekarangan.

Di sana, beberapa pohon jambu kristal berdiri kukuh dengan dahan melengkung. Baginya tanaman itu menjadi penanda: sepetak tanah yang dahulu gersang, kini menjelma menjadi pekarangan yang rindang.

"Awalnya hanya kami diberi bibit dan diminta untuk menanamnya," kata Vinawati saat ditemui di Desa Tanjung Sanggalang Kabupaten Pulang Pisau, Minggu 24 Mei 2026.

Asal usul pohon tersebut bermula tiga tahun lalu, tepatnya 2023. Saat itu, ada program penghijauan lingkungan yang digagas salah satu bank pelat merah di Indonesia. Tujuannya, agar mengubah pekarangan warga yang gersang menjadi lahan hijau dan produktif.

Sejak bibit itu diterimanya, Vinawati merawat dengan penuh ketelatenan. Setiap pagi dan sore, ia menyiramnya dan memberikan pupuk. Baginya, bibit jambu kristal itu bukan sekadar bantuan cuma-cuma, melainkan sebuah amanah.

"Kebetulan saya dikasih tiga bibit yang ditanam di pekarangan rumah. Sampai sekarang pohonya tumbuh dan berbuah lebat," ujarnya.

Dua tahun berselang, pohon itu akhirnya berbuah. Baginya, ada kebahagiaan setiap kali menatap ranum buah yang bergelantungan di dahan dan siap untuk dipetik. Dalam setahun, ia bisa memanen hingga tiga kali masa berbuah.

Ibu enam anak ini kerap memanfaatkan jambu-jambu hasil petikannya menjadi rujak dan dinikmati bersama keluarga di kala senggang. Terkadang, ia juga mengolahnya menjadi jus buah segar, tanpa harus menambah beban pengeluaran dapur.

"Panen buah dari pekarangan rumah memiliki kepuasan tersendiri yang tidak bisa diukur dengan uang. Sebab, di sana ada pengorbanan untuk merawat tanaman tersebut," ujarnya, pelan namun penuh penekanan.

Enggan menikmati keasrian itu seorang diri, ia memilih berbagi dengan mengizinkan warga sekitar mencicipi buah hasil jerih payahnya. Vinawati ingin agar dampak positif dari penghijauan juga dirasakan oleh lingkungan sekitarnya.

"Karena untuk konsumsi pribadi, kami tidak pernah menghitung totalnya berapa kilonya jika panen. Cuman jika ada warga yang mau petik seilahkan saja," ucapnya.

Ketelatenan Vinawati merawat pekarangannya mendapatkan apresiasi dari Sekretaris Desa Tanjung Sanggalang, Johan Yahya. Ia menuturkan keberadaan pohon tersebut tidak sekadar memberikan keuntungan untuk dikonsumsi tetapi juga ekologis.

Yahya menjelaskan bahwa bantuan bibit jambu kristal tersebut berasal dari program BRI Menanam. Pembagian bibit tersebut juga difokuskan sebagai upaya pemberdayaan warga berbasis lingkungan.

Johan menyebut Desa Tanjung Sanggalang berstatus sebagai Desa BRIlian. Predikat ini pun dibuktikan lewat komitmen warga dalam menjaga lingkungan, salah satunya dengan menyulap pekarangan rumah menjadi lahan hijau produktif.

"Waktu itu sekitar 110 bibit jambu kristal dibagikan ke masyarakat untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing sebagai percontohan lingkungan hijau," ujarnya saat memberikan keterangan.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa program BRI Menanam telah digagas sejak 2022. Program itu dirancang sebagai wadah pembangunan berkelanjutan yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR.

"Program ini menjadi wadah untuk mewujudkan praktik pembangunan berkelanjutan dengan tujuan melestarikan lingkungan, menyerap karbon, memberdayakan masyarakat, dan meningkatkan perekonomian," tegas Dhanny.

Menanggapi fenomena ini, akademisi dari Universitas Palangka Raya (UPR), Yuliana, menilai esensi dari program CSR adalah pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu keterlibatan masyarakat sangat penting untuk mengukur keberhasilan program itu.

Keberhasilan itu baru terlihat saat masyarakat mampu menjadi penggerak yang mandiri. Dengan begitu, dampak positif dari investasi sosial perusahaan akan terus berkelanjutan bahkan setelah programnya berakhir.

"CSR yang bagus umumnya berbasis pada kerja-kerja masyarakat. Artinya, masyarakat bukan sekadar menjadi penonton atau objek, melainkan subjek utama dari perubahan itu sendiri," pungkas Yuliana.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....