Manfaatkan Digitalisasi, Mantan Guru Bimbel Sukses Kembangkan Bisnis Aksesori

  • 24 Mei 2026 21:31 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Jemari Siti Muslichatun (39) bergerak lincah, menyulap jalinan kawat yang kaku menjadi seuntai aksesori bernilai seni tinggi. Di hadapannya, sebuah gawai menyala, menampilkan keindahan karya-karyanya dalam etalase digital.

"Demi bumi yang lebih hijau, kami tidak pakai katalog kertas. Lagipula kan tren aksesori selalu bergeser, jadi sayang sekali kalau harus terus cetak baru," tutur perempuan yang akrab disapa Mus ini, Sabtu 23 Mei 2026.

Melalui kriya inilah, Mus ingin mengajak masyarakat merawat alam melalui seni. Langkah konkretnya itu dimulai dengan mengurangi penggunaan kertas dalam setiap produknya.

Sebagai gantinya, ia memanfaatkan barcode atau QR code yang akan mengarahkan pelanggan ke katalog digital. Karya-karya eloknya itu dibanderol dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp7.000 hingga Rp275.000.

"Kami menjual produk aksesori berupa gelang, bros, kalung, anting yang dipadukan batu alam Khas Kalimantan," ucap perempuan berzodiak Cancer ini.

Tak hanya itu, jika sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan plastik sebagai wadah pembungkus, Mus memilih jalan yang berbeda. Ia menggunakan kain spunbond sebagai pembungkus ramah lingkungan.

"Selain ramah lingkungan, wadah kain ini jauh lebih awet dan bisa digunakan berulang kali oleh konsumen untuk dijadikan dompet koin atau keperluan lain," ujar penggemar warna merah muda ini.

Perjalanannya membangun usaha tidaklah semulus kilau tembaga buatannya. Merantau dari Magelang ke Palangka Raya pada 2015, sarjana pendidikan matematika memulai kariernya sebagai guru bimbingan belajar.

Dia kemudian banting stir menjadi perajut pada 2019. Namun, keputusan itu menuai cemooh dan banyak yang menganggapnya sebagai kemunduran. "Awalnya banyak yang meremehkan, bilang produknya jelek. Tapi dari sana saya belajar," kenang Mus.

Momentum pembuktian itu tiba saat pandemi. Lulusan Universitas Negeri Semarang ini mulai fokus penuh berkarya dari rumah berkat dukungan sang suami. Hingga akhirnya, pada Juli 2022 ia memutuskan untuk mendirikan Omah Mus.

Titik balik terjadi pada tahun 2023. Guna mengatasi keterbatasan modal, ia mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp10 juta. Suntikan modal tersebut digunakannya untuk memoles gerai fisik di Kawasan Marina Permai dan meningkatkan produksi.

Dalam proses produksi, ia memperoleh bahan baku dari warga lokal berupa mutiara air tawar dan batu alam. Ide briliannya juga muncul saat memanfaatkan sisa-sisa kawat yang kusut dan tak terpakai menjadi bros yang unik.

"Ada beberapa produk yang merupakan hasil daur ulang dan memanfaatkan sisa-sisa kawat misalnya seperti bros. Material sisa pun kami manfaatkan," ucapnya.

Kerja kerasnya berbuah manis. Produknya berhasil nangkring di Gerai Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Palangka Raya. Belum puas dengan capaian tersebut, ia juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produknya.

"Alhamdulillah berkat digitalisasi, produk kami terjual hingga luar daerah seperti Aceh, Batam, Jawa dan Bali. Untuk omzet rata-rata Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan," ujar pencinta kuliner bakso ini.

Guna melengkapi konsep ramah lingkungannya, Mus juga mendigitalisasi sistem pembukuan keuangannya. Sebagai nasabah BRI, ia memanfaatkan aplikasi BRImo dan menyediakan QRIS untuk mempermudah transaksi.

Kemudahan ini turut dirasakan oleh salah satu pembeli, Sri (50). Ia terpukau ketika menjajal pengalaman melihat-lihat produk lewat katalog digital di ponsel sebelum berencana untuk membelinya.

“Katalog digital bisa dibaca sembari santai, kalau brosur mungkin sudah berceceran kemana-mana dan akhirnya jadi sampah,” kata PNS di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalteng itu.

Pengamat ekonomi di Palangka Raya, Muhammad Jailani, menyebut apa yang dilakukan Omah Mus adalah contoh nyata dari konsep green economy (ekonomi hijau) di tingkat tapak yang harus dicontoh oleh pelaku UMKM lainnya.

Selain menghemat biaya promosi, Jailani menilai langkah Omah Mus juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Pengurangan penggunaan katalog fisik berbasis kertas secara langsung ikut menekan jejak karbon dari rantai produksi.

“Pertama bagi pelaku usaha dengan pergeseran seperti ini sangat diperlukan karena bisa mengurangi cost untuk iklan dan promosi sehingga bisa menekan harga jual, kata Dosen Fakultas Bisnis dan Informatika Universitas Muhammadiyah Palangka Raya tersebut.

Kepiawaian ekosistem digital yang ditunjukkan Omah Mus selaras dengan komitmen BRI terhadap pemberdayaan pelaku usaha berbasis environmental, social, and governance (ESG). Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu, mengatakan program itu kini menjadi fokus utama perseroan.

“Aspek keberlanjutan menjadi pilar utama penciptaan nilai jangka panjang, di mana pemberdayaan ekonomi rakyat dan pelestarian lingkungan telah menjadi bagian dari strategi BRI,” tutupnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....