Beralih ke Transaksi 'Cashless', Kiat UMKM Kerajinan Rotan Lawan Peredaran Upal

  • 31 Mei 2026 11:23 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Secarik uang palsu (upal) ditempel oleh Amelia Agustina (41) di balik meja kasir galeri kerajinan rotan Indang Apang, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Tak bosan ia mengingatkan kepada yang melihat, jangan sampai mereka terkecoh seperti dirinya.

Pecahan uang senilai Rp 10 ribu itu sekilas tampak meyakinkan. Namun, saat disandingkan dengan nominal serupa, kertasnya lebih tebal dan warnanya lebih cerah dari yang asli.

Amelia sudah lupa tanggal pastinya. Yang diingat, dirinya kena tipu sekitar setahun lalu, tahun 2025 dan baru sadar ketika menghitung pendapatan harian di sore hari setelah tokonya tutup.

"Saat itu toko sedang ramai dan saya tidak memperhatikan, siapa pelanggan yang bertransaksi dengan uang tunai. Yang jelas uang palsu itu diselipkan di antara yang asli," kata perempuan 41 tahun tersebut kepada RRI Palangka Raya, 30 Mei 2026.

Pengalaman tak mengenakkan tersebut menjadi katalis Indang Apang Galeri ke arah digital yang lebih lengkap. Selain menyediakan akses transfer ke rekening BRI, kini terdapat mesin Electronic Data Capture (EDC) serta QRIS berjejer di meja kasir demi kemudahan pilihan bertransaksi.

"Kami tidak bisa mengubah 100 persen kebiasaan orang bertransaksi. Tapi setelah menyediakan banyak pilihan pembayaran cashless (nontunai), Puji Tuhan, sangat berpengaruh dalam pembukuan kami setiap hari," ucap alumnus Universitas Palangka Raya tersebut.

Ia mengatakan laci kasir tak pernah penuh dengan uang. Amelia juga punya lebih banyak waktu untuk melayani pelanggan alih-alih mengurusi keaslian uang yang keluar masuk hari itu.

"Meski sudah banyak yang beralih ke cashless, uang palsu ini tetap saya tempel di meja kasir biar semuanya lihat 'Oh begini toh bentuknya,' kata Amelia.

Pengalaman Amelia ini dibenarkan oleh pakar ekonomi Universitas Palangka Raya, Miar Peter Bakar. Menurutnya, tempat transaksi yang ramai dan perputaran uang yang cepat sering dimanfaatkan pelaku kejahatan karena tak sempat mengecek uang secara detail.

"Ancaman uang palsu belum sepenuhnya hilang walaupun era cashless terus berkembang. Ruang peredaran uang fisik masih cukup besar di sektor informal dan UMKM," kata Miar.

Ia menegaskan pentingnya perluasan QRIS yang dibarengi dengan edukasi keaslian uang lewat prinsip 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). "Oleh sebab itu, ada dua hal penting yang harus berjalan bersamaan: memperluas transaksi digital seperti QRIS dan meningkatkan edukasi keaslian uang melalui prinsip 3D," ia menambahkan.

Pandangan ekonom lokal ini sejalan dengan upaya Bank Indonesia (BI) dalam memperketat keamanan rupiah. Pasalnya, Bank Indonesia (BI), telah merilis data rasio temuan uang rupiah palsu secara nasional yang terus menurun drastis dalam tiga tahun terakhir.

Dikatakan Deputi Gubernur BI Ricky P Gozali dalam acara Press Statement Penguatan Sinergi Pemberantasan Rupiah Palsu di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, 13 Mei 2026 lalu, BI mencatat uang palsu yang dimusnahkan berjumlah 466.535 lembar yang berasal dari laporan masyarakat, perbankan, penyelenggara jasa pengolahan uang rupiah, dan hasil pengolahan setoran bank kepada Bank Indonesia secara nasional periode 2017-2025.

Jauh sebelum upal sampai di tangan Amelia, banyak suka-duka mengiringi perjalanan usahanya membesarkan galeri produk kerajinan rotan Indang Apang. Lulus sebagai sarjana perikanan, justru ia lebih dulu tercebur ke dalam bisnis asuransi kesehatan.

Indang Apang, yang berarti Ibu-Bapak dalam Bahasa Dayak, bermula dari usaha kecil-kecilan Amelia untuk menjualkan berbagai macam produk milik teman-temannya, seperti pernak-pernik suvenir khas Kalteng, termasuk makanan. Usaha itu ia rintis dari ruang bekas garasi mobil pada 2016 usai mundur sebagai tenaga pemasaran asuransi.

"Dulu bisa belum fokus ke kerajinan rotan, pokoknya apa aja saya jual mulai dari pernak pernik dan kelengkapan rumah tangga. Yang penting bisa makan," katanya.

Perempuan berdarah Dayak ini mulai menjajal kerajinan rotan pada 2019 setelah melihat lembaran anyaman rotan milik mendiang ayahnya yang tergeletak di rumah. Amelia mendapat inspirasi untuk menjadikannya produk seperti tas, dompet, dan aksesori lainnya.

"Dulu kalau ada mina (tante, sebutan perempuan paruh baya dalam bahasa Dayak) dari kampung yang datang menawarkan anyaman rotan, pasti dibelinya karena kasihan. Akhirnya menumpuk di rumah," ujar Amelia mengenang sang ayah.

Berbekal warisan orang tua dan keinginan untuk serius membesarkan nama Indang Apang, ia mulai fokus pada produk kerajinan rotan. Termasuk memberdayakan perajin lokal di luar daerah dari Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas dan Barito Utara.

"Saya keluar-masuk desa mencari bahan baku anyaman sesuai kualitas yang saya inginkan. Sekarang berkat teknologi, tinggal WhatsApp saja ke perajin di kampung, saya butuh berapa lembar rotan," ia menambahkan.

Pukulan keras diterima pelaku UMKM seperti Amelia ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Bisnisnya mandek bahkan terpaksa menghentikan pasokan bahan baku yang hendak dikirimkan.

"Mereka di kampung bilang butuh untuk makan, tapi produk saya juga menumpuk di toko tidak ada yang membeli. Saya terpaksa tega karena harus menolong diri saya sendiri dulu, baru menolong orang lain," kata sulung dari tiga bersaudara itu.

Selepas pandemi, untuk menyokong permintaan pasar yang meningkat Amelia memperoleh dukungan permodalan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada 2022 senilai Rp 75juta. Pinjaman itu ia manfaatkan untuk meningkatkan kemampuan produksi dagangannya yang kian dikenal.

Indang Apang kemudian berkembang pesat dengan menyerap tujuh (7) orang karyawan yang bekerja di bidang pemasaran, keuangan, QC (quality control), sampai logistik. Amelia juga meresmikan bangunan galeri seluas 36 meter persegi yang berdiri tepat di samping toko lama, alias bekas garasi rumahnya.

Galeri yang berlokasi di Gang Bethel, Jalan Tjilik Riwut Km. 8,5, Kota Palangka Raya itu telah menjadi salah satu pilihan destinasi pelancong dari luar daerah. Bahkan, pada Desember 2025 lalu, Kementerian UMKM bersama Komisi VII DPR RI sempat melawat ke Indang Apang dalam kunjungan kerja mereka.

Di tahun yang sama, usaha Amelia juga menyabet beberapa penghargaan seperti Juara 2 Dekranas Award tahun 2025, Juara 2 PaDi Academy 2025, Nominasi 20 Besar Indonesia Marketing Award 2025 dan Juara 1 Paritrana Award 2025. Sebagai UMKM binaan BRI, Indang Apang juga mewakili Kalimantan Tengah dalam pameran internasional BRI UMKM EXPO(RT) 2025 yang dilaksanakan di BSD Tangerang.

Berkat kemajuan teknologi pula, produk Indang Apang sudah diekspor hingga ke Malaysia, Australia, Jepang, hingga Chile. Alhasil, omzet yang diraih Amelia pun tak main-main, mencapai Rp100 juta hingga Rp 150 juta per bulan.

"Puji Tuhan ada pembeli luar negeri yang nyangkut dari Live TikTok atau mendapat kontak kami di internet," ucapnya.

Mimpi Amelia Agustina terus berlanjut. Satu hal yang mengganjal di hatinya ialah bagaimana keterampilan mengayam rotan, atau yang biasa disebut penduduk lokal keahlian menjawet, tak berhenti di generasinya. Dia melakukan kalkulasi bisnis dan memutuskan untuk mengajukan KUR BRI selanjutnya senilai Rp 50 juta, demi membuat ruang pelatihan untuk anak muda Kalteng.

"Saya ingin lingkungan rumah saya ini seperti pusat wisata edukasi. Pengunjung tidak cuma beli oleh-oleh kerajinan khas Kalteg, tapi bisa belajar menjawet," ujarnya tulus.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....