Kisah Petani Jamur Penyintas Stroke Merdeka dari Jerat Rentenir
- 19 Mei 2026 11:38 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Pulang Pisau - Langkah kaki Anggung tertatih saat menyusuri lorong kumbung yang lembab di Desa Tanjung Sanggalang, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Tangan kanannya gemetar ketika memetik jamur tiram yang merekah di rak kayu.
Ujian kehidupan menghempaskannya tanpa ampun ketika ia dua kali terkena stroke yang merenggut kekuatan fisiknya. Dari bilik beraroma serbuk kayu itulah, ayah dua anak ini memilih untuk bangkit dari ranjang pesakitan.
Petaka kesehatan pertama menghantamnya pada Januari 2001 silam. Dua dekade berselang, Mei 2022 'tamu' tak diundang itu kembali menyergap tubuhnya. Belasan tahun ia bergelut dengan proses pemulihan yang menguras kesabaran.
"Ini sudah kedua kalinya kena stroke. Semua obat sudah saya minum, mulai dari herbal hingga obat dokter yang penting harus sembuh," kata Anggung, sambil menghela napas, Sabtu, 2 Mei 2026.
Berbekal sedikit ilmu, Anggung memberanikan diri untuk memulai budidaya jamur pada 2013. Baginya, menjadi petani jamur tidak membutuhkan kerja fisik yang terlalu berat seperti sebelumnya sebagai buruh pikul.
Ironisnya, keterbatasan modal kala itu membuatnya meminjam ke rentenir. "Memang dulu pernah meminjam (rentenir) karena persyaratan bank saat itu tidak begitu mudah. Susah mencari segala jaminannya, entah sertifikat atau apa pun itu," ujarnya.
Sistem rentenir yang menjanjikan pencairan dana cepat, rupanya menjadi solusi instan yang justru menjerat usahanya. Bunga pinjaman yang tinggi membuat hasil panennya habis untuk membayar cicilan. "Udah begitu nagihnya setiap hari pula," kata pria berusia 57 tahun ini.
Titik terang muncul saat ia mendapatkan pinjaman modal sebesar Rp20 juta melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan memperbaiki fasilitas produksinya. “Rasanya saya sudah tiga kali pinjam di BRI," kenangnya.
Keputusan itu membuahkan hasil. Dari jamur tiram yang dibudidayakannya, Anggung mampu memanen hingga 60 kg untuk sekali petik dengan omzet Rp1,8 juta. Jamur ini mulai dipanen pada usia tiga bulan dengan total delapan kali masa produksi.
"Per kilogram kami jual seharga Rp30 ribu. Biasanya ada menjemput ke rumah untuk dijual kembali ke pasar-pasar," katanya, sambil menunjukkan rumpun jamur tiram putih yang mekar sempurna.

Keteguhannya Anggung dalam bertani, perlahan membuahkan hasil dengan lunasnya seluruh utang. Ia mengatakan, walaupun usahanya belum berskala besar, namun ketenangan batin yang kini dirasakannya jauh melebihi kemewahan materi.
Meski telah lepas dari jerat utang, pria ini tak lantas memutus hubungan dengan dunia perbankan. Baginya, layanan bank saat ini ia digunakan sebagai sarana menyimpan laba panen dan transaksi keuangan digital.
Di pelataran rumahnya, petani penyintas stroke ini berhasil membuktikan bahwa kemerdekaan sejati berawal dari piring makan yang tidak lagi disandera oleh utang. "Kalau saat ini, sudah tidak ada utang," ucapnya, dengan senyum terbuka lebar.
Memutus Rentenir di Akar Rumput
Kisah Anggung bukan kasus tunggal. Banyak petani di daerah dengan modal kecil masih bergantung pada rentenir karena sulit mengakses pembiayaan formal.
Kondisi inilah yang membuat pemerintah akan memperluas akses permodalan bagi para petani. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto secara tegas menyebut praktik rentenir sebagai bentuk ketimpangan yang harus segera dihentikan.
"Ini adalah penindasan manusia ke manusia. Masak dikenakan satu persen (bunga) sehari?" kata Prabowo Subianto, dilansir melalui kanal di YouTube resminya.
Pakar ekonomi dari Universitas Palangka Raya, Fitria Husnatarina, menilai pola yang digunakan rentenir cukup klasik, yakni menawarkan pencairan kilat tanpa agunan. Hal ini membuat korbannya terlena tanpa memperhitungkan risikonya.
Menurutnya, fenomena ini berakar pada rendahnya literasi keuangan. Saat tekanan ekonomi mendesak, kecepatan rentenir dianggap sebagai solusi, padahal itu adalah awal dari siklus utang yang tak berujung.
"Berbagai skema pembiayaan pemerintah seperti KUR, seharusnya mampu memutus ketergantungan pada rentenir. Syaratnya, harus dibarengi edukasi finansial agar mereka tak jatuh ke lubang yang sama," ujar Fitria.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebut KUR sebagai instrumen penting penguat ekonomi agraria. Sektor pertanian pun menjadi pilar utama dengan nilai pembiayaan Rp80,09 triliun, atau 44,97 persen dari total penyaluran sepanjang 2025.
“BRI tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM dan petani dapat tumbuh secara berkelanjutan,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....