Tren "Kaya Cepat" Marak di Media Sosial, Anak Muda Perlu Tingkatkan Literasi Keuangan

  • 22 Agt 2026 12:28 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Maraknya konten media sosial yang menawarkan kesuksesan dan keuntungan dalam waktu singkat dinilai dapat memengaruhi cara anak muda mengambil keputusan keuangan. Di tengah kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital, pemahaman mengenai risiko dan pengelolaan keuangan menjadi semakin penting.

Founder MindYourMoney, Muhammad Rani, mengatakan kemudahan akses terhadap berbagai instrumen keuangan belum selalu diikuti tingkat literasi yang memadai. Kondisi tersebut tercermin dari adanya kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

"Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), tingkat literasi keuangan mencapai 69,57 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih ada masyarakat yang telah menggunakan produk atau layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami instrumen yang digunakan," ujarnya, Jumat, 21 Agustus 2026.

Muhammad Rani menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama ketika anak muda banyak terpapar konten media sosial yang menawarkan keuntungan dari aktivitas trading maupun investasi. Konten yang hanya menampilkan keberhasilan dan gaya hidup mewah dapat membentuk persepsi bahwa kekayaan dapat diperoleh secara cepat tanpa proses dan risiko.

Menurutnya, anak muda yang tertarik dengan trading perlu memahami dasar-dasar aktivitas tersebut, termasuk analisis teknikal dan fundamental. Keputusan investasi juga sebaiknya tidak hanya didasarkan pada sinyal atau rekomendasi dari influencer karena setiap instrumen keuangan memiliki risiko yang perlu dipahami dan diperhitungkan.

Founder MindYourMoney ini juga mengingatkan anak muda untuk membedakan antara risiko yang dapat diperhitungkan dan ketidakpastian. Pemahaman tersebut penting agar keputusan finansial tidak diambil secara impulsif hanya karena tergiur tawaran keuntungan dalam waktu singkat.

Sementara itu, pemuda Palangka Raya, Ridho Haikal, menilai tren “kaya cepat” di media sosial perlu disikapi secara kritis. Menurutnya, konten yang beredar lebih sering menampilkan hasil akhir berupa penghasilan besar atau gaya hidup mewah, sementara proses, risiko, dan kegagalan jarang diperlihatkan.

“Masalahnya bukan karena keinginan untuk sukses, tetapi ketika kesuksesan itu seolah-olah bisa didapat secara instan tanpa risiko dan tanpa proses,” ujarnya. Ia menilai ketertarikan terhadap peluang bisnis maupun investasi tetap perlu disertai riset agar keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan pengalaman orang lain yang terlihat berhasil.

Fenomena tren “kaya cepat” di media sosial menjadi pengingat bagi anak muda untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan finansial. Pemahaman terhadap risiko, riset, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi bagian penting dalam mengelola keuangan di era digital. (Enjang Dwi Hapsari)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....