Pegadaian, Solusi Keuangan Cepat dan Aman untuk Semua

  • 29 Jun 2025 02:07 WIB
  •  Palangkaraya

KBRN, Palangka Raya: Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), layanan Pegadaian hadir sebagai salah satu solusi keuangan yang cepat, aman, dan mudah diakses. Salah satu kisah inspiratif datang dari Deviana, seorang pelaku usaha fotokopi di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang memanfaatkan layanan Pegadaian untuk mendukung usahanya.

Sejak 2019, Deviana memutuskan untuk menabung emas di Pegadaian atas ajakan temannya yang sudah lebih dulu merasakan manfaat investasi logam mulia tersebut. Bagi Deviana, menabung emas bukan hanya menjadi sarana untuk menyimpan aset, tetapi juga sebagai bentuk kesiapan finansial ketika kebutuhan mendesak muncul.

Dan benar saja, beberapa tahun setelahnya, ia membutuhkan tambahan dana untuk pengembangan usahanya. Di saat itu, tabungan emasnya menjadi penyelamat.

“Waktu itu saya butuh dana untuk keperluan usaha. Lalu saya ingat saya punya saldo Tabungan Emas di Pegadaian. Jadi saya langsung datang ke kantor Pegadaiannya,” ucapnya, Sabtu (28/6/2025).

Deviana memilih layanan Gadai Tabungan Emas. Ia datang langsung ke kantor Pegadaian dan menyampaikan kebutuhannya kepada petugas. Prosesnya berlangsung singkat. Setelah menyebutkan jumlah dana yang dibutuhkan dan berapa gram emas yang akan digadaikan, dana tunai pun segera dicairkan.

“Saya utarakan keperluan saya, petugas langsung menanyakan berapa gram yang mau digadaikan dan berapa nominal yang dibutuhkan. Prosesnya sangat cepat dan saya langsung menerima uangnya,” ujar Deviana.

Sebagai ibu dari dua anak dan pelaku usaha mandiri, kemudahan layanan ini menjadi sangat penting baginya. Menurutnya, layanan Pegadaian sangat membantu, terutama karena tidak harus melalui proses panjang.

Yang terpenting baginya adalah adanya jaminan bahwa emas yang digadaikan tidak akan hilang. Nilai aset tersebut hanya dibekukan sementara hingga pinjaman dilunasi.

Selain bunga pinjaman yang relatif kecil, proses yang tidak berbelit-belit juga membuat layanan ini sangat cocok untuk para pengusaha mikro seperti dirinya. Menurut Deviana, Pegadaian telah menjadi solusi nyata dalam menjaga kelangsungan usahanya.

Lembaga Keuangan Tertua di Indonesia

Di sisi lain, dari perspektif akademisi dan pengamat ekonomi, keberadaan Pegadaian sebagai lembaga keuangan mikro memiliki nilai historis dan peran signifikan dalam perekonomian masyarakat. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (UPR), Dr. Miar, S.E., M.Si menjelaskan bahwa Pegadaian merupakan salah satu lembaga keuangan non-bank tertua di Indonesia. Pegadaian negara pertama kali didirikan pada tanggal 1 April 1901, dan hingga kini terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Menurut Dr. Miar, salah satu kekuatan layanan gadai adalah kemampuannya untuk memberikan akses dana tunai secara cepat tanpa proses birokrasi yang panjang. Ini menjadi alternatif penting, terutama di tengah terbatasnya akses pelaku UMKM terhadap pinjaman perbankan.

Pegadaian dianggap sebagai solusi pembiayaan mikro yang tidak hanya cepat dan mudah, tetapi juga sesuai dengan kultur masyarakat yang sudah mengenal konsep gadai sejak lama. “Di tengah keterbatasan akses UMKM terhadap kredit perbankan, gadai menjadi solusi pembiayaan mikro yang cepat, mudah dan akrab secara budaya,” ucapnya.

Lebih jauh, Dr. Miar menilai bahwa layanan Pegadaian sangat relevan untuk masyarakat menengah ke bawah karena sifatnya yang terjangkau dan berbasis kebutuhan. Dalam pandangannya, keberadaan Pegadaian sebagai lembaga keuangan formal turut mendukung inklusi keuangan yang berkualitas.

Dr. Miar menjelaskan bahwa inklusi keuangan adalah kondisi di mana setiap individu memiliki akses terhadap layanan keuangan formal yang sesuai kebutuhan, mulai dari tabungan, pinjaman, asuransi, hingga layanan gadai. “Di negara berkembang seperti Indonesia, inklusi keuangan menjadi strategi penting dalam mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi,” kata Dr. Miar. Dengan makin banyak masyarakat yang mengakses layanan keuangan formal, maka makin besar pula potensi peningkatan taraf hidup secara menyeluruh.

Tantangan Pegadaian, Kurangnya Literasi Keuangan Masyarakat

Namun, meski memiliki banyak peluang, Pegadaian juga menghadapi berbagai tantangan. Menurut Dr. Miar, tantangan utama yang masih harus dihadapi adalah keterbatasan literasi keuangan di masyarakat. Masih banyak orang yang belum paham bagaimana menggunakan produk-produk keuangan dengan bijak. Ditambah lagi, masih ada stigma negatif terhadap praktik gadai yang dianggap sebagai indikator kesulitan ekonomi, padahal pada kenyataannya bisa menjadi strategi keuangan yang rasional.

Selain itu, layanan Pegadaian juga masih belum menjangkau secara optimal wilayah-wilayah terpencil. Akses yang terbatas ini menyulitkan masyarakat pedesaan untuk menikmati layanan yang sama seperti mereka yang tinggal di perkotaan.

Dr. Miar juga menyebut pentingnya integrasi Pegadaian dengan sistem keuangan lainnya agar mampu memberikan pelayanan yang lebih efisien dan menyeluruh. “Meskipun menghadapi tantangan berupa keterbatasan literasi, akses, dan persepsi, namun peluang transformasi digital, diversifikasi produk dan integrasi dengan inklusi keuangan yang sangat pesat, serta dengan pendekatan yang inklusif dan kolaboratif, gadai bisa menjadi mitra utama dalam penguatan ekonomi rakyat,” ucapnya.

Pegadaian Dukung Upaya Peningkatan Literasi Keuangan

Dalam mendukung peningkatan literasi keuangan, Pegadaian tidak berjalan sendiri. Mereka menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui berbagai program edukasi masyarakat, seperti Goes to School dan Goes to Campus.

Kepala Cabang Pegadaian Palangka Raya, Hermin Pongtuluran, mengatakan melalui program ini, Pegadaian mengajak pelajar dan mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dunia keuangan sejak dini, termasuk bagaimana cara menabung emas dan memanfaatkan layanan keuangan secara bertanggung jawab. Program “Mengemaskan Indonesia” menjadi salah satu kampanye yang dikembangkan untuk membiasakan masyarakat menabung emas sejak usia muda.

Menariknya, kalangan mahasiswa, khususnya dari generasi Z, menunjukkan ketertarikan tinggi terhadap layanan digital dari Pegadaian. Generasi muda yang sudah sangat akrab dengan teknologi merasa dimudahkan dengan adanya aplikasi yang memungkinkan transaksi finansial hanya dalam genggaman.

Pegadaian Palangka Raya juga menjalin kerja sama dengan sejumlah universitas seperti Universitas Palangka Raya (UPR), Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya, dan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR). Mahasiswa dari kampus-kampus tersebut mengikuti program praktik kerja industri di Pegadaian untuk belajar langsung tentang layanan keuangan digital dan manajemen pelanggan.

“Jadi kita bersama SPI (Satuan Pengawas Intern) mengajar mahasiswa bagaimana mempraktikkan layanan digital khususnya yang ada di Pegadaian. Ternyata sangat diminati mahasiswa karena sangat gampang mengaksesnya,” ucapnya.

Dengan adanya aplikasi digital dan pendekatan pendidikan yang inklusif, Pegadaian mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, pekerja, hingga masyarakat di daerah yang jauh dari pusat kota.

Pegadaian Cabang Palangka Raya telah memiliki unit pelayanan di berbagai kabupaten seperti Katingan, Gunung Mas, dan Pulang Pisau. Unit-unit ini juga aktif menggelar sosialisasi untuk memperluas pengetahuan masyarakat tentang manfaat dan penggunaan layanan Pegadaian. “Di situ kami berupaya bisa meningkatkan literasi masyarakat. Kami bekerja sama dengan instansi pemerintahan. Kami pun memanfaatkan media sosial sebagai upaya sosialisasi,” ucap Hermin.

Transformasi Pegadaian

Transformasi Pegadaian sendiri secara resmi dimulai pada 1 Oktober 2018. Dalam upaya untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat modern, Pegadaian melakukan restrukturisasi organisasi dan penguatan budaya kerja. Hermin Pongtuluran menyebutkan bahwa kini proses bisnis Pegadaian menjadi lebih ramping dan efisien.

“Kita punya prinsip bahwa 15 menit cair. Sesederhana mungkin nasabah datang kita layani dengan cepat. Dengan mereka membawa identitas yang lengkap, kita upayakan 15 menit uang nasabah bisa cair,” katanya.

Selain itu, berbagai inovasi produk dan layanan juga dikembangkan dengan prinsip berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Salah satu produk yang sangat populer adalah aplikasi Pegadaian Digital, yang memungkinkan nasabah untuk menabung emas, melakukan gadai, membayar angsuran, hingga memantau transaksi secara mandiri melalui gawai. Transformasi digital ini membawa Pegadaian menjadi lembaga keuangan yang tidak hanya adaptif, tapi juga berdaya saing global.

Pegadaian Palangka Raya kini menyediakan tidak kurang dari 23 jenis produk dan layanan keuangan. Jika dulu Pegadaian hanya dikenal sebagai tempat gadai, kini masyarakat dapat mengakses layanan seperti Tabungan Emas, Deposito Emas, Arrum Haji, pembiayaan kendaraan melalui produk Amanah, dan Kredit Cepat Aman (KCA).

Produk KCA menjadi salah satu yang paling diminati di Kalimantan Tengah karena prosesnya yang cepat dan fleksibel. Layanan pembiayaan kendaraan pun banyak diminati karena membantu masyarakat yang ingin memiliki kendaraan namun belum memiliki dana tunai penuh.

Pengalaman serupa dirasakan oleh Noor Rafiqa, seorang Pegawai Negeri Sipil di Palangka Raya. Pada pertengahan tahun 2023, ia memanfaatkan layanan pembiayaan kendaraan bermotor dari Pegadaian.

Setelah itu, ia ditawari petugas Pegadaian untuk menabung emas melalui aplikasi digital. “Alasan saya tertarik menabung emas karena cukup stabil dan nilainya cenderung naik untuk jangka panjang. Selain itu aman dari inflasi juga,” ujar Rafiqa.

Cepat, Mudah, Aman untuk Semua Kalangan

Rafiqa merasa sangat terbantu dengan kemudahan menabung melalui aplikasi Pegadaian Digital, tanpa perlu datang langsung ke kantor cabang. Menurutnya, ini sangat cocok bagi masyarakat yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu.

Baginya, Tabungan Emas merupakan instrumen investasi yang sederhana namun efektif. Ia bisa menabung dengan nominal kecil sekalipun, dan karena digitalisasi, seluruh transaksi bisa dilakukan dari ponsel. “Saya jadi punya aset dalam bentuk emas yang bisa jadi dana darurat kapan saja,” ujarnya.

Keamanan juga menjadi salah satu alasan utama Rafiqa mempercayai Pegadaian. Karena terdaftar dan diawasi OJK, ia yakin dana dan investasinya terlindungi. Bahkan, Rafiqa mengaku telah mengajak kerabat dan teman dekatnya untuk ikut menabung emas setelah merasakan manfaatnya secara langsung. Hal ini menjadi cerminan nyata bagaimana nasabah yang puas bisa menjadi agen perubahan dalam meningkatkan inklusi keuangan.

Dari sisi keamanan, Pegadaian tidak perlu diragukan. Lembaga ini telah beroperasi lebih dari 124 tahun dan terdaftar serta diawasi langsung oleh OJK. Dengan pengalaman panjang dan rekam jejak yang solid, Pegadaian kini tidak hanya menjadi penyedia layanan keuangan, tetapi juga mitra strategis dalam penguatan ekonomi rakyat.

“Kami akui tantangan Pegadaian belum terlalu maksimal menjangkau desa-desa. Selain itu, munculnya gerai-gerai swasta juga menjadi pesaing kami. Tapi sejauh ini masyarakat mengenal luas Pegadaian karena usianya sudah satu abad lebih,” ujar Kepala Cabang Pegadaian Palangka Raya.

Transformasi yang dilakukan membuktikan komitmen Pegadaian untuk tetap relevan di era digital sekaligus inklusif dalam menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Layanan Pegadaian terus menunjukkan peran strategisnya dalam memenuhi kebutuhan keuangan masyarakat secara cepat, aman, dan mudah diakses. Bagi sebagian orang, Pegadaian mungkin masih identik dengan tempat untuk menjaminkan barang saat mengalami kesulitan keuangan.

Namun, seiring waktu, citra tersebut telah bergeser. Pegadaian kini hadir sebagai lembaga keuangan modern yang mampu memberi solusi keuangan cerdas, bahkan untuk perencanaan jangka panjang seperti investasi dan pembiayaan produktif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....