Menguak Rahasia Paras "Oriental" Suku Dayak

  • 28 Mar 2026 10:25 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Suasana sore di salah satu titik tongkrongan anak muda di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya menjadi saksi diskusi hangat mengenai keberagaman identitas suku di Kalimantan. Di tengah obrolan santai, muncul fenomena menarik tentang paras masyarakat suku Dayak yang sering kali dinilai memiliki kemiripan fisik dengan etnis Tionghoa (Chinese). Hal ini memicu rasa penasaran publik mengenai akar sejarah dan genetika yang melatarbelakangi keunikan visual masyarakat asli Borneo tersebut.

Salah satu anak muda Dayak, Winey, berbagi pengalamannya mengenai identitas aslinya yang kerap mengundang salah paham, terutama saat ia berada di luar daerah. Ia mengungkapkan bahwa setiap kali berkunjung ke luar Pulau Kalimantan, banyak orang yang secara spontan mengira dirinya sebagai keturunan China. Winey menegaskan bahwa karakteristik fisik yang ia miliki adalah murni warisan leluhur asli dari pedalaman Kalimantan.

"Setiap saya berkunjung ke luar pulau Kalimantan, saya sering dikira keturunan China, padahal saya Dayak asli," ujar Winey di sela-sela obrolan santainya. Sabtu, 28 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa ungkapan tersebut sudah menjadi hal yang biasa, namun ia selalu bangga menjelaskan bahwa kulit cerah dan mata sipit tersebut merupakan bagian dari keragaman genetik suku Dayak yang telah terjaga selama ribuan tahun.

Kesan serupa juga disampaikan oleh rekan Winey, Mustofa, yang berasal dari Kalimantan Selatan. Saat pertama kali bertemu, ia mengaku sempat terkecoh dengan penampilan Winey karena terbiasa dengan lingkungan suku Banjar di daerah asalnya.

"Pertama kali melihat Winey, saya mengira dia Chinese karena memang saya di Kalimantan Selatan tidak sering bertemu orang Dayak asli, di sana kan kebanyakan suku Banjar," ujar Mustofa dengan nada akrab.

Secara antropologis, fenomena yang dialami Winey dan Mustofa ini memiliki penjelasan ilmiah yang kuat terkait migrasi bangsa Austronesia sekitar 3.000 hingga 1.500 tahun sebelum Masehi. Nenek moyang suku Dayak diketahui berasal dari wilayah Asia Timur, seperti Taiwan dan Tiongkok Selatan, yang bermigrasi menuju Nusantara. Jejak genetik inilah yang mewariskan pigmentasi kulit terang dan struktur wajah khas yang tetap bertahan secara alami pada beberapa sub-suku Dayak hingga saat ini.

Selain faktor migrasi purba, isolasi geografis di hutan-hutan rimbun Kalimantan juga berperan penting dalam menjaga kemurnian ciri fisik tersebut. Lindungan tajuk hutan yang lebat dari paparan matahari ekstrem membuat pigmen kulit cerah yang dibawa dari daratan Asia Timur tidak mengalami perubahan drastis. Hal ini menjadikan masyarakat Dayak sebagai salah satu kelompok yang tetap mempertahankan karakteristik fisik "Mongoloid" asli di tengah keberagaman etnis di Indonesia.

Diskusi santai di Bundaran Besar ini menjadi pengingat penting bagi generasi muda bahwa perbedaan visual antar-suku adalah kekayaan nasional yang luar biasa. Winey dan Mustofa berharap agar masyarakat luas semakin memahami bahwa kecantikan "oriental" di jantung Borneo adalah bukti nyata kemajemukan bangsa. Identitas asli suku Dayak yang mempesona ini merupakan harmoni sejarah panjang yang patut dirayakan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....