Cap Go Meh, Perayaan Budaya Sarat Makna dan Toleransi
- 04 Mar 2026 20:24 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Perayaan Cap Go Meh menjadi tradisi yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa setiap tahunnya. Momen ini menjadi puncak sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek yang dirayakan pada malam ke-15.
Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Tengah, Frans Martinus, mengatakan perayaan Cap Go Meh di Indonesia bukan lagi soal agama, melainkan tradisi yang harus terus dijaga. Menurutnya, perayaan ini merupakan warisan leluhur yang sarat makna kebersamaan dan rasa syukur.
"Kalau bagi keturunan Tionghoa, agama apapun, suku apapun, selama dia punya marga wajib ikut merayakan itu. Karena ini bukan konteks agama, karena budaya tradisi yang warisan leluhur berurusan dengan alam semesta," katanya saat mengisi program Dialog Kalteng Menyapa di Pro 1 RRI Palangka Raya, Selasa, 3 Maret 2026.
Warga keturunan Tionghoa Palangka Raya, Novita Chandra atau Ling Ling, mengatakan perayaan Cap Go Meh bukan hanya milik masyarakat Tionghoa saja. Ia menyebut, tradisi ini juga menjadi hiburan budaya yang dapat dinikmati masyarakat luas.
"Mereka lebih suka sih ngelihatin karena ini kan jadi hal yang unik, kalau setiap ada perayaan seperti ini kan barongsai, nah ini yang jarang mereka lihat. Jadi semuanya masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa itu antusias untuk bisa ngelihat, untuk bisa dokumentasikan gitu," katanya.
Dalam perayaannya, masyarakat biasanya menggelar doa bersama dan makan malam sebagai bentuk syukuran. Festival budaya seperti barongsai dan lampion turut memeriahkan suasana, sekaligus menjadi simbol harapan agar tahun yang baru membawa rezeki dan keberuntungan.
Melalui perayaan Cap Go Meh, nilai kebersamaan dan toleransi antarwarga semakin terasa. Tradisi ini pun diharapkan terus lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang beragam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....