Tahun Baru Imlek Menjunjung Tinggi Falsafah Huma Betang

  • 17 Feb 2026 21:47 WIB
  •  Palangkaraya

‎RRI.CO.ID, Palangka Raya : Reporter : Ya baik pendengar RRI dimanapun anda berada, Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 17 Februari 2026 akan dirayakan oleh warga Tionghoa tidak kecuali di Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangka Raya, dimana persiapan dilakukan oleh umat Tionghoa di Kota Palangka Raya, salah satunya di Wihara Avalokitesvara Palangka Raya dan bagaimana perayaan Tahun Baru Imlek 2026 ini dimaknai oleh warga Tionghoa yang ada di Wihara ini dan juga hubungannya dengan keberagaman di Kalimantan Tengah, saat ini saya akan mewawancarai penjaga dari Wihara Avalokitesvara di Jalan Tjilik Riwut Km 10, Bang Franky. Selamat berjumpa Bang Franky.

‎Narasumber : Salam sehat selalu dan salam sejahtera untuk semua.

‎Reporter : Ya baik Bang Franky, bagaimana menurut abang makna dari perayaan Tahun Baru Imlek saat ini bang.

‎Narasumber : Untuk saat ini dalam rangka memperingati Tahun Baru Imlek yang ke-2577 Kongzili atau tahun 2026 penanggalan lunar nasional, kita di sini ingin bersama-sama mengajak seluruh masyarakat di mana saja berada agar selalu tetap rukun, saling hormat-menghormati. Juga beberapa bagian juga ada kami dengan bagian seni budaya yang terutama di sini yaitu Barongsai Singamas dan juga tahun ini jatuh pada Tahun Kuda Api. Ada beberapa juga kalau dari orang Tionghoa itu yang dibilangnya ciol juga ada ciong, jadi istilahnya itu ada beberapa kemalangan, terdiri dari beberapa ciong. Nah, oleh sebab itu juga kepada warga Tionghoa khususnya yang mana kena ciong, di sini juga ada tempat peribadatan untuk sembahyang, di tempat Dewa Macan atau Ciangkong dengan persembahan bisa berupa tahu, telur atau kentang hijau. Tapi kebiasaan kalau dari warga Konghucu itu mereka ada tambah daging gitu.

‎Reporter : Ya baik, Bang Franky, menurut abang bagaimana perayaan Imlek dapat mencerminkan nilai-nilai moderasi atau toleransi beragama di Kalimantan Tengah, di Kota Palangka Raya khususnya, bang.

‎Narasumber : Nah kita disini khususnya di Palangka Raya, seperti sudah ada Falsafah Huma Betang, jadi walaupun berbeda keyakinan kita tetap bersatu dalam satu rumah dan satu tujuan saling menjaga kerukunan. Kami disini juga bukan cuma umat Buddha saja, juga ada umat Konghucu dan sebagian yang masih menganut Tridharma dan juga dalam rangka Tahun Baru Imlek dan Cap Gomeh bersama dalam dua tahun ini kita juga bersama-sama mengadakan acaranya. Jadi disini uma bukan cuma beragama Buddha, Konghucu dan Tridharma tetapi juga ada yang Kristen. ‎Ada juga yang Muslim tapi untuk khusus makanan yang Muslim kita adakan yang khusus halal yang non halal, kita bedakan jadi tempatnya juga dipisah dan tempat piring makan minumnya juga kita pisahkan. Jadi karena kita sudah tahu bahwa bagi yang Muslim tidak boleh kena yang non halal. Nah jadi kita disini tetap merajut kebersamaan. Dari warga khususnya Palangka Raya ini kebanyakan dari Suku Dayak juga sebagian ada.

‎Nah juga kalau itu juga kadang-kadang bisa ada gabung sama FKUB dari kepolisian dan lain-lainnya. Jadi kita tetap melaksanakan itu karena istilahnya itu di orang Tionghoa itu satu rumah itu juga sama. Seperti falsafah disini Rumah Betang itu tetap rukun bersatu. Jadi biasanya juga kita sebelum menyambut malam Tahun Baru Imlek itu sudah sekitar jam 7 malam itu kumpul keluarga besar di rumah, mengadakan makan bersama terdiri dari ayah, ibu atau kakek, nenek kalau yang masih hidup. Kalau bagi orang tua yang sudah tiada, otomatis berkumpul dengan saudara tua yang lebih utama dan saudara kandung yang lainnya. Nah untuk nantinya sekitar jam 10 malam itu baru mereka pergi ke tempat ibadah dan melaksanakan ibadah masing-masing menurut kepercayaannya. Karena ada yang menganut Buddha otomatis untuk acara di Wihara kita mengadakannya ada dua sesi. Jadi khusus untuk keagamaan Buddha, kita mengadakan acaranya jam 21.30 WIB.

‎Reporter : Ya baik, ini pertanyaan terakhir bang. Harapan abang dan juga keluarga, sebagai warga Tionghoa untuk merayakan Tahun Baru Imlek di tahun yang baru nanti. Apa bang.

‎Narasumber : Pertama-tama harapannya itu semoga selalu diberikan kesehatan, umur panjang, kekuatan dalam mengarungi kehidupan, apalagi kami yang berumah tangga dan juga kepada anak-anak kami yang masih bersekolah.

‎Semoga mereka bisa menjadikan kebanggaan orang tua, mendapatkan nilai yang bagus dan bagi yang sudah berkeluarga, semoga keluarga mereka selalu rukun makmur, selalu saling kasih mengasihi, sayang menyayangi.

‎Dan juga kepada khususnya masyarakat di Kalimantan Tengah ini dan secara nasional, kami juga berharap agar kita bersama-sama selalu menjaga toleransi.

‎Antara umat beragama dan juga kalau sekarang kebanyakan itu sudah masuk ke zaman moderasi, jadi apapun itu keyakinan masing-masing kita jalankan berdasarkan keyakinannya masing-masing dan juga semoga tahun ini perayaan Imlek di Kota Palangka Raya bisa berjalan kondusif, aman, damai dan semoga juga pada malamnya ini tidak ada hujan. Jadi acaranya bisa lebih semarak karena Barongsai kalau hujan otomatis basah lantaran terbuat dari kertas. Jadi ya harapannya itu saja dan juga semoga tempat ini selalu dikunjungi, bukan cuma khusus untuk keagamaan saja, juga bisa untuk wisata religi. Demikian terima kasih.

‎Reporter : Ya baik itu tadi pendengar RRI dimanapun anda berada, wawancara saya bersama Bang Franky yang adalah penjaga dari Wihara Avalokitesvara. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....