Mengungkap Makna 5 Ba, Konsep Warna Suku Dayak
- 23 Mar 2024 22:11 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Pemilihan dan penggunaan warna merupakan cerminan dari identitas budaya atau suku di Indonesia. Tak terkecuali masyarakat Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah yang mengenal istilah 'Lime Ba' atau Lima Ba.
Lime (5) Ba merupakan singkatan dari Bahenda, Bahandang, Bahijau, Baputi, dan Babilem, yang seluruhnya merupakan penamaan warna dalam bahasa Suku Dayak Ngaju. Pengelompokkan warna tersebut telah lama diindentifikasi jauh sebelum bangsa Tiongkok mendarat di Kalimantan sekitar abad 12-13 masehi.
Masyarakat Suku Dayak Ngaju mengenal aneka warna dari kain atau tekstil. Rata-rata produk tekstil mereka memakai pewarna alami dari tumbuhan. Berikut adalah warna-warna yang tersebut beserta artinya:
Bahenda
Bahenda merupakan warna kuning. Warna ini dibuat dengan menggunakan tanaman henda atau kunyit yang mengandung makna keberadaan Hatalla atau Tuhan. Bahwa kekuasaan Hatalla sungguh besar tidak ada penguasa lain. Warna ini juga melambangkan kekayaan, keluhuran dan keagungan.
Bahandang
Bahandang adalah warna merah. Warna ini pada awalnya dihasilkan dari buah hutan yaitu jarenang (jernang) dan daun sirih yang dicampur dengan kapur. Memiliki arti sesuatu yang abadi dan tidak pernah luntur yang diilhami oleh batu merah.
Bahijau
Bahijau atau warna hijau. Warna ini dibuat dari daun sirih yang ditumbuk yang memiliki makna kesuburan, rezeki yang limpah ruah, kehidupan, perdamaian dan pembangunan. Warna ini mulanya diilhami oleh warna tanaman yang berada di lingkungan.
Baputi
Baputi tepatnya memiliki arti warna putih. Warna ini mulanya dibuat dengan menggunakan tanah liat putih dan dari kapur sirih yang memiliki makna kesucian, kemurnian dan kesederhanaan.
Babilem
Babilem yaitu warna hitam. Warna ini umumnya dibuat dari arang dan mengandung makna kuasa kegelapan, kesungguhan, roh jahat dan baik, serta sebagai penangkis bahaya atau celaka. Pemaknaan ini muncul dari perasaan dan naluri warna hitam yang identik dengan gelap.