Riset Taksonomi Perkuat Perlindungan Flora Rawa Gambut Kalteng
- 30 Sep 2026 06:25 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pentingnya ilmu taksonomi tumbuhan kembali mengemuka dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan Tengah, khususnya di ekosistem rawa gambut. Melalui ilmu ini, keanekaragaman flora lokal—mulai dari tumbuhan konsumsi harian hingga spesies unik—dapat dipetakan status endemik, tingkat ancaman, hingga pola persebarannya secara ilmiah. Salah satu bukti konkret pentingnya taksonomi adalah identifikasi terbaru terong asam lokal Kalimantan yang kini resmi diberi nama ilmiah Solanum kalimantanense.
Keanekaragaman flora yang melimpah di kawasan rawa gambut Kalteng menjadi perhatian utama para akademisi dan pengelola kawasan konservasi. Dosen Taksonomi Tumbuhan Universitas Palangka Raya, Ria Windi Lestari, menekankan bahwa peran taksonomi tumbuhan jauh melampaui sekadar pemberian nama latin atau penghafalan jenis tanaman.
"Sebenarnya jauh lebih dalam mengenai taksonomi tumbuhan itu kita bisa memetakan apakah tumbuhan ini statusnya endemik, terancam, atau persebarannya ada di Kalimantan saja maupun kawasan Malesiana. Jadi bukan hanya sekedar memberi nama, tapi lebih luas lagi," ujar Ria Windi Lestari saat mengisi Program GREEN RADIO di RRI Palangka Raya pada Sabtu, 26 September 2026.
Selain mengenali tumbuhan asli, taksonomi juga berperan penting dalam mengidentifikasi ancaman masuknya spesies asing invasif (invasive alien species) yang berpotensi merusak keseimbangan ekosistem rawa gambut. Pengasreachan dan pemantauan terhadap keberadaan flora asing seperti Akasia terus dilakukan guna mencegah hilangnya keanekaragaman hayati lokal yang kalah bersaing dalam perebutan nutrisi lahan.
Sementara itu, Taman Nasional Sebangau yang memiliki luas sekitar setengah juta hektar mencatatkan sedikitnya 807 spesies tumbuhan yang menjadi benteng perlindungan flora khas Kalteng. Koordinator Humas Kerja Sama Balai Taman Nasional Sebangau, Nopi Nugraheni, memaparkan bagaimana ekosistem gambut yang ekstrem dan berasama tinggi menjadi rumah bagi berbagai tanaman unik, termasuk kayu Ramin (Gonystylus bancanus) yang pernah terancam punah.
"Di Taman Nasional Sebangau sendiri kita ada sekitar 807 spesies tumbuhan. Dulu kayu Ramin sempat langka karena eksploitasi tinggi, dan setelah jadi taman nasional, kita mereintroduksi kembali tanaman tersebut ke dalam kawasan," ujar Nopi Nugraheni.
Melalui sinergi antara riset akademis, pemetaan taksonomi, dan program edukasi ke masyarakat seperti Visit to School, diharapkan kepedulian generasi muda terhadap kelestarian flora lokal Kalimantan Tengah terus meningkat. Perlindungan terhadap ekosistem rawa gambut bukan hanya menjaga kekayaan kehati, tetapi juga mempertahankan fungsi ekologis penting bagi stabilitas lingkungan global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....