Kabut Asap Mengancam Kesehatan Manusia dan Satwa Liar di Palangka Raya
- 07 Sep 2026 19:30 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya — Kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya tidak hanya berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa liar dan ekosistem hutan. Asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan dapat mengganggu habitat satwa, mempersempit ruang hidup, serta memaksa sejumlah hewan berpindah ke kawasan yang lebih aman, termasuk mendekati permukiman manusia.
Koordinator Hutan dan Satwa Liar WWF Indonesia, Frankie Wirada, mengatakan kebakaran menjadi salah satu tekanan besar terhadap habitat orangutan dan satwa liar lainnya. Berdasarkan kajian yang disampaikannya dalam program Green Radio RRI, sebagian kejadian kebakaran bahkan terjadi pada kawasan yang beririsan dengan habitat orangutan. Kondisi tersebut semakin memperbesar risiko hilangnya habitat dan terganggunya keberlangsungan populasi satwa.
“Kalau kita membaca dokumen Kompas, mungkin lebih dari 50 persen kejadian kebakaran saat ini juga beririsan dengan habitat orangutan,” ujar Frankie Wirada.
Dampak kabut asap terhadap satwa tidak hanya berupa hilangnya habitat akibat terbakar. Asap juga dapat mengganggu aktivitas satwa, termasuk navigasi burung dan kemampuan berbagai jenis hewan untuk mencari makanan maupun berpindah tempat. Ketika habitat semakin terfragmentasi akibat kebakaran dan perubahan tutupan lahan, satwa berpotensi kehilangan jalur alami untuk menuju habitat lainnya.
Koordinator Humas dan Kerja Sama Balai Taman Nasional Sebangau, Novianti Nugraheni, menyebut kondisi kawasan Taman Nasional Sebangau relatif masih terjaga dari kebakaran besar. Namun, upaya pencegahan tetap menjadi penting karena pemulihan kawasan yang telah rusak membutuhkan waktu panjang dan biaya besar.
“Jangan sampai merusak atau membakar, karena untuk memulihkannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Memulihkan suatu kawasan tidak mudah dan membutuhkan waktu serta biaya yang besar,” kata Novianti Nugraheni.
Selain mencegah kebakaran, pemulihan ekosistem juga menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak kabut asap. Di kawasan gambut seperti Sebangau, restorasi dilakukan antara lain melalui pembasahan kembali lahan atau rewetting, pembangunan sekat kanal, penanaman kembali vegetasi, serta pemberdayaan masyarakat. Upaya tersebut diperlukan agar habitat satwa dapat kembali berfungsi dan populasi orangutan maupun satwa lainnya tetap memiliki ruang hidup dalam jangka panjang. Dengan demikian, penanganan kabut asap di Palangka Raya tidak hanya perlu dilihat sebagai persoalan kesehatan manusia, tetapi juga sebagai persoalan perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....