Kerusakan Lahan Mengganggu Kehidupan Satwa di Kalimantan Tengah

  • 07 Sep 2026 19:31 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya— Fragmentasi habitat menjadi salah satu ancaman serius terhadap kelangsungan satwa liar di Kalimantan Tengah. Perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan, permukiman, pertanian, serta pembangunan infrastruktur seperti jalan raya menyebabkan kawasan hutan yang sebelumnya terhubung berubah menjadi bagian-bagian kecil yang terisolasi. Kondisi tersebut berdampak terhadap ruang gerak satwa dalam mencari makanan, berkembang biak, berlindung, dan berpindah antarkawasan.

Saat Mengisi program GREEN RADIO di RRI Palangka Raya , Koordinator Hutan dan Satwa Liar WWF Indonesia, Frankie Wirada, mengatakan fragmentasi tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya luas hutan, tetapi juga terputusnya hubungan antarkawasan habitat. Kondisi tersebut dapat menghambat pergerakan satwa dan mengganggu proses ekologis yang berlangsung di dalam ekosistem.

“Fragmentasi adalah proses hutan yang menyusut dan terpisah menjadi unit-unit yang lebih kecil, yang sangat mungkin menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan dan satwa liar,” ujar Frankie Wirada pada Sabtu, 05 September 2026.

Ia mencontohkan orangutan yang membutuhkan konektivitas habitat untuk menjaga keberlangsungan populasinya. Orangutan jantan dapat menjelajah beberapa kilometer untuk mencari pasangan dengan keragaman genetik yang berbeda. Karena itu, terputusnya habitat dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan perkawinan sekerabat atau inbreeding yang dapat mengurangi ketahanan populasi.

Sementara itu, Koordinator Humas dan Kerja Sama Balai Taman Nasional Sebangau, Novianti Nugraheni, mengatakan kawasan Taman Nasional Sebangau saat ini masih menjadi habitat yang relatif aman bagi populasi orangutan. Namun, konektivitas dengan kawasan hutan di luar taman nasional tetap diperlukan untuk menjaga ketahanan habitat dalam menghadapi perubahan lingkungan dan tekanan di masa depan.

“Untuk masa depan, kami akan terus menggaungkan konservasi, perlindungan, dan pemanfaatan. Mudah-mudahan masyarakat semakin sadar terhadap lingkungan, karena jangan sampai merusak atau membakar, sebab untuk memulihkannya membutuhkan waktu yang sangat lama,” kata Novianti.

Upaya menjaga konektivitas habitat dapat dilakukan melalui pembangunan koridor ekologis, seperti jembatan satwa (ecoduct), jalur vegetasi, maupun pemeliharaan kawasan hutan di sepanjang sempadan sungai. Selain pembangunan infrastruktur yang ramah satwa, para narasumber menekankan pentingnya restorasi lahan, pencegahan kebakaran, serta pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Langkah tersebut dinilai penting agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan keberlangsungan ekosistem dan satwa endemik Kalimantan Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....