Mengenal "Spons Raksasa" Bumi yang Menjaga Kita dari Bencana ( SUMBER Foto tidak ada)

  • 01 Sep 2026 05:24 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Di balik citranya yang kerap dianggap sebagai kawasan sepi, berlumpur, dan kurang produktif, lahan basah menyimpan kekuatan besar yang menentukan masa depan planet bumi.

Ekosistem ini, mulai dari rawa gambut, hutan mangrove, hingga daerah aliran sungai bekerja diam-diam dalam menjaga stabilitas iklim global dan menyokong kehidupan ribuan spesies.

Salah satu keunggulan terbesar lahan basah terletak pada kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon. Meskipun luas lahan basah hanya menutupi sebagian kecil permukaan bumi, ekosistem gambut dan mangrove sanggup mengikat karbon hingga beberapa kali lipat lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan dengan luas yang sama.

Tumbuhan dan vegetasi yang mati di kawasan tergenang air terurai secara sangat lambat karena kondisi anaerobik (kurang oksigen). Hal ini membuat karbon terkunci di dalam tanah selama ratusan hingga ribuan tahun, bukannya terlepas ke atmosfer sebagai gas rumah kaca. Selain penyerapan karbon, lahan basah berfungsi sebagai spons raksasa yang menampung limpasan air saat hujan deras untuk mencegah banjir, sekaligus melepaskannya perlahan saat musim kemarau.

Sayangnya, pemahaman yang minim kerap membuat lahan basah dipandang sebagai lahan tidur yang perlu diubah fungsinya. Alih fungsi menjadi kawasan pemukiman, industri, atau perkebunan skala besar sering kali diawali dengan pengeringan saluran air.

Ketika lahan basah mengering, proses pembusukan bahan organik yang terhenti selama ribuan tahun mendadak aktif kembali. Karbon yang tersimpan terlepas ke udara secara masif. Lebih buruk lagi, lahan gambut yang kering menjadi sangat rentan terhadap kebakaran lahan yang sulit dipadamkan, menghasilkan kabut asap tebal yang mengancam kesehatan respirasi masyarakat serta merusak kualitas udara wilayah sekitar.

Pelestarian lahan basah bukan lagi sekadar pilihan proteksi lingkungan, melainkan langkah krusial untuk mitigasi bencana dan ketahanan air.

Upaya pemulihan seperti pembasahan kembali (rewetting) kawasan gambut yang terdegradasi, penanaman kembali vegetasi lokal, dan perlindungan zona tangkapan air harus terus diprioritaskan.

Menjaga kelestarian lahan basah berarti memelihara benteng pertahanan alami yang menjaga kualitas udara, mengendalikan krisis iklim, dan memastikan ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....