Mengenang Konferensi Meja Bundar dan Perjuangan Kedaulatan Indonesia

  • 23 Agt 2026 19:28 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Setiap 23 Agustus diperingati sebagai Hari Peringatan Konferensi Meja Bundar (KMB), sebuah momentum penting dalam sejarah perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan. KMB berlangsung di Den Haag, Belanda, pada 23 Agustus hingga 2 November 1949, dengan melibatkan perwakilan Indonesia, Belanda, dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg).

Dilansir dari laman Rumah Kebangsaan Pancasila, peringatan KMB mengingatkan kembali perjalanan panjang Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika Belanda masih berupaya menguasai kembali wilayah Indonesia. Konflik tersebut berlangsung melalui perjuangan bersenjata sekaligus berbagai jalur diplomasi, termasuk Perjanjian Linggarjati, Renville, dan Roem–Roijen.

Kegagalan sejumlah perundingan sebelumnya mendorong keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Commission for Indonesia (UNCI). Upaya tersebut kemudian membantu membuka jalan bagi pelaksanaan KMB sebagai forum untuk mengakhiri konflik Indonesia-Belanda dan membahas penyerahan kekuasaan.

Dalam KMB, salah satu keputusan terpenting adalah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Kesepakatan tersebut juga mencakup berbagai persoalan, termasuk hubungan Indonesia-Belanda, bidang ekonomi, sosial dan militer, serta pembentukan sejumlah perangkat persatuan.

Penyerahan kedaulatan secara resmi kemudian dilaksanakan pada 27 Desember 1949 di Den Haag dan Jakarta. Momen tersebut menjadi tonggak penting karena menandai pengakuan de jure atas kedaulatan Indonesia oleh Belanda setelah rangkaian panjang perjuangan diplomasi dan politik.

Meski demikian, hasil KMB tidak sepenuhnya lepas dari kontroversi, terutama mengenai bentuk negara federal dan kewajiban Indonesia mengambil alih utang Hindia Belanda yang disebut mencapai sekitar 4,6 miliar gulden. Kendati mendapat kritik, KMB tetap dipandang sebagai titik balik yang mengakhiri konflik militer dan diplomatik Indonesia-Belanda serta memperkuat pengakuan internasional terhadap Indonesia.

Peringatan Hari KMB menjadi kesempatan untuk mengenang pentingnya diplomasi dalam mempertahankan kemerdekaan sekaligus memahami proses panjang terbentuknya Indonesia sebagai negara berdaulat. Semangat perjuangan melalui dialog, diplomasi, dan kepentingan nasional yang tercermin dalam KMB dapat menjadi pelajaran bagi generasi masa kini untuk menjaga kedaulatan dan persatuan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....