Opistotonus Gejala Kejang Kaku Penderita Infeksi Tetanus
- 10 Jul 2026 07:31 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Warga diimbau untuk waspada terhadap gejala opistotonus, gangguan saraf berupa kejang kaku ekstrem yang sering menyerang penderita infeksi tetanus.
Kondisi ini menyebabkan seluruh otot menegang hebat hingga tulang belakang melengkung kaku menyerupai busur panah dari kepala sampai kaki. Tim medis menegaskan bahwa munculnya gejala tersebut menandakan racun bakteri telah menyerang saraf pusat dan butuh penanganan darurat.
Dokter spesialis saraf menjelaskan bahwa opistotonus terjadi akibat paparan toksin berbahaya bernama tetanospasmin dari bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka terbuka yang kotor atau tusukan paku berkarat. Racun tersebut kemudian memblokir sinyal saraf yang berfungsi mengendurkan otot, sehingga tubuh mengalami kontraksi masif tanpa bisa dikendalikan.
Efek dari kejang kaku ini tidak hanya menimbulkan rasa nyeri luar biasa, tetapi juga sangat mengancam keselamatan jiwa penderita. Ketegangan ekstrem pada otot dada dan leher dapat membuat pasien mengalami gagal napas akut akibat saluran udara yang tertutup rapat. Selain itu, kekuatan kontraksi otot yang terlalu hebat bahkan berisiko memicu patah tulang belakang serta robekan jaringan.
| Baca juga: Penyebab Sakit Kepala yang Sering di Abaikan |
Masyarakat diingatkan untuk segera membawa pasien ke rumah sakit apabila menemui gejala awal kaku rahang atau sulit menelan. Penanganan medis di ruang intensif mutlak diperlukan untuk pemberian serum anti-tetanus, penenang otot, dan alat bantu napas. Warga dilarang keras mencoba menangani kejang ini secara mandiri karena rangsangan fisik sekecil apa pun bisa memperparah kaku tubuh.
Penyebarluasan informasi ini diharapkan mendorong masyarakat untuk mengutamakan tindakan pencegahan melalui kelengkapan imunisasi tetanus secara berkala. Menjaga kebersihan luka sekecil apa pun dengan cairan antiseptik merupakan langkah awal efektif guna memutus risiko masuknya spora bakteri. Dengan respons cepat dan pemahaman medis yang benar, risiko kematian akibat gangguan saraf ini dapat ditekan maksimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....