Arena ‎Lomba Tradisional FBIM 2026 Dipadati Masyarakat

  • 19 Mei 2026 22:00 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Ajang lomba tradisional, seperti Menyipet dan Habayang dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) tahun 2026 ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang menyaksikan kemeriahan budaya di Kalimantan Tengah.

‎Lomba-lomba tersebut digelar, Senin 18 Mei 2026 secara bersamaan di GOR Indoor Serbaguna Jalan Tjilik Riwut Km 5 Palangka Raya diikuti oleh 11 peserta kontingen dari kabupaten dan kota.

‎Antusiasme penonton terlihat dari ramainya arena perlombaan yang dipadati warga lokal maupun wisatawan luar daerah.

‎Selain menampilkan hiburan, lomba tradisional ini juga dinilai mampu memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Tengah kepada generasi muda serta meningkatkan sektor pariwisata daerah.

‎Salah seorang juri lomba balogo, Grironi M Tambang, mengatakan Habayang merupakan permainan tradisional Suku Dayak yang awalnya dimainkan oleh masyarakat Dayak. Permainan ini bisanya dimainkan saat musim panen yang kini diperlombakan dalam setiap kegiatan kebudayaan.

‎"Tahun ini ada 11 putra, 11 putri. Habayang ini kita dulu kan hanya untuk misalnya ada panen gitu kan, mereka adakan Habayang. Kita ada panen buah, padi, diadakan habayang.

‎Nah itu, jadi tidak ada yang cuma olahraga tradisional saja," ujarnya.

‎Sementara itu, di tempat terpisah, arena

‎lomba menyipet atau menyumpit juga dipenuhi oleh masyarakat yang ingin melihat perlombaan ini dari dekat.

‎Menurut Tenaga Ahli Cagar Budaya Provinsi Kalimantan Tengah, Markorius, daya tarik dari lomba menyipet, yakni penggunaan benda sejenis tombak yang ditiup untuk melontarkan anak sipet atau damek.

‎Sipet merupakan alat pertahanan Suku Dayak atau senjata khas selain Mandau untuk melindungi diri dari musuh dan digunakan untuk berburu.

‎"Sangat bagus sekali, kalau bisa satu tahun itu tiga kalilah diselenggarakan, tapi ini tergantung dana kesiapannya. Lomba-lomba ini yang menonjolkan ciri khas budaya kita, ciri khas identitas kita, nanti bisa tidak diminati karena kan sekarang sudah ada ponsel, anak-anak senangnya main ponsel atau main game. Tapi saya salut dengan Pemprov Kalteng mengadakan ini, salah satu untuk mencegah tergerusnya permainan tradisional ini," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....