Islam Ingatkan Sifat Lupa sebagai Sarana Introspeksi Diri
- 29 Mar 2026 12:04 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Sifat lupa merupakan bagian dari kodrat manusia yang tidak bisa dihindari. Dalam kehidupan sehari-hari, lupa kerap terjadi di berbagai aktivitas, baik dalam pekerjaan, urusan rumah tangga, maupun dalam menjalankan ibadah.
Allah memberi karunia dalam bentuk daya ingat kepada manusia untuk membantu tugasnya sebagai khalifah di bumi. Daya ingat memudahkan melakukan kegiatan sehari-hari. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hasyr ayat 19 agar manusia tidak menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.
Ustadzah Mujibah, S.Ag, saat mengisi program mutiara pagi di Pro 1 RRI (29 Maret 2026), menjelaskan bahwa sifat lupa adalah bagian dari fitrah manusia yang harus disikapi dengan bijak. Menurutnya, lupa terjadi karena keterbatasan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.
“Dalam Islam, lupa bukanlah dosa selama tidak disengaja. Namun, lupa bisa menjadi peringatan agar manusia lebih mendekatkan diri kepada Allah dan memperbanyak dzikir,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa hati yang jauh dari mengingat Allah cenderung lebih mudah diliputi kelalaian.
Adapun doa yang dapat anda panjatkan agar dilindungi dan dihindarkan dari sifat lupa.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ نَفْسِيْ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ
Allâhumma ij’al nafsî muthmainnatan, tu’minu bi liqâika wa tardlâ bi qadlâika.
Artinya: “Ya Allah, jadikan jiwa kami menjadi tenang, beriman akan adanya pertemuan dengan-Mu, dan rela atas garis yang Engkau tentukan.”
selain itu juga membaca Surah Al Baqarah 286
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat
sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”
Oleh karena itu, Islam memberikan solusi untuk mengatasi sifat lupa melalui amalan spiritual seperti memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta menjaga kualitas ibadah dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan menjadikannya sebagai bahan introspeksi, sifat lupa dapat menjadi pengingat bagi manusia untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....