Makna Mendalam Sungkeman dalam Perayaan Idul Fitri

  • 21 Mar 2026 08:27 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Sungkeman merupakan salah satu tradisi yang lekat dengan perayaan Idul Fitri di Indonesia, khususnya dalam budaya Jawa. Istilah ini merujuk pada prosesi seorang anak atau yang lebih muda berlutut di hadapan orang tua atau orang yang dituakan, seraya menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf. Tradisi ini biasanya dilakukan setelah salat Idul Fitri atau saat momen silaturahmi keluarga.

Secara etimologis, kata sungkeman berasal dari bahasa Jawa sungkem yang berarti sikap hormat dengan cara menundukkan diri hingga kepala mendekati lutut orang yang dihormati. Gestur ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kerendahan hati, pengakuan atas kesalahan, serta keinginan untuk memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.

Dalam konteks Idul Fitri, sungkeman menjadi perwujudan nyata dari makna kembali ke fitrah. Setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, umat Muslim diajak untuk membersihkan diri, tidak hanya secara spiritual tetapi juga dalam hubungan sosial. Sungkeman menjadi momen penting untuk saling memaafkan secara tulus, terutama antara anak dan orang tua.

Lebih dari sekadar tradisi, sungkeman mengandung nilai-nilai moral yang mendalam. Di dalamnya terdapat ajaran tentang pentingnya menghormati orang tua, menjaga etika, serta menyadari posisi diri dalam keluarga. Tradisi ini juga mengajarkan bahwa meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dan keberanian untuk mengakui kesalahan.

Menariknya, meskipun berasal dari budaya Jawa, praktik sungkeman kini telah meluas dan diadopsi oleh berbagai kalangan di Indonesia, bahkan dengan variasi yang berbeda. Ada yang melakukannya dengan cara mencium tangan, memeluk, atau sekadar mengucapkan permohonan maaf secara langsung, namun esensi penghormatan dan ketulusan tetap terjaga.

Di tengah perkembangan zaman dan gaya hidup modern, tradisi sungkeman tetap relevan. Justru di era digital yang serba cepat ini, momen tatap muka seperti sungkeman menjadi semakin berharga. Ia menghadirkan kehangatan emosional yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh pesan singkat atau panggilan video.

Dengan demikian, sungkeman bukan hanya tradisi seremonial, melainkan sarana untuk mempererat hubungan keluarga dan memperdalam makna Idul Fitri itu sendiri. Melalui sungkeman, nilai-nilai kasih sayang, penghormatan, dan keikhlasan diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikannya bagian penting dari kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....