Perayaan Nyepi Jadi Simbol Harmoni dan Keberagaman di Kalteng

  • 17 Mar 2026 14:42 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kalimantan Tengah menjadi momentum penting dalam mempererat tali persaudaraan di tengah keberagaman bangsa. Melalui dialog "Kalteng Menyapa" di RRI Palangka Raya, Selasa 17 Maret 2026, ditegaskan bahwa nilai-nilai Nyepi selaras dengan semangat moderasi beragama dan kearifan lokal masyarakat Dayak.

Komitmen untuk menjaga suasana Nyepi yang khidmat bagi para mahasiswa telah disampaikan oleh Rektor IAHN Tampung Penyang Palangka Raya, Dr. Mujiyono, S.Ag., M.Ag. Disebutkan bahwa nilai-nilai agama dan kearifan lokal Kalimantan senantiasa dijunjung tinggi oleh seluruh civitas akademika sebagai wujud dari Kampus Budaya.

"Nilai-nilai agama dan kearifan lokal Kalimantan dijunjung tinggi oleh seluruh civitas akademika sebagai wujud dari Kampus Budaya," ujar Mujiyono

Ia menyampaikan bahwa integrasi Hindu Kaharingan dengan tradisi lokal telah dibuktikan sebagai wujud nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat identitas institusi.

Sementara itu, dalam perspektif keagamaan, Ketua PHDI Pemurnian Kalteng, Prof. Dr. I Nyoman Sudana, M.Sc., menjelaskan bahwa Nyepi tahun ini mengusung misi kepedulian sosial. Di tengah bulan Ramadan, umat Hindu diajak untuk mempraktikkan ajaran Vasudhaiva Kutumbakam—kita semua bersaudara. Toleransi lintas iman juga telah diwujudkan dengan memberikan ruang bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa dengan nyaman.

"Toleransi lintas iman diwujudkan dengan memberikan ruang bagi saudara umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa dengan nyaman," ucap Prof. Nyoman.

Strategi harmonisasi ini diibaratkan seperti instrumen gong; meski memiliki bunyi yang berbeda-beda, keindahan akan tercipta jika diatur dalam irama yang selaras. Selain refleksi diri, perayaan ini juga membawa pesan persatuan nasional di tengah situasi global yang penuh tantangan.

Prof. Nyoman juga menjelaskan, rangkaian ritual keagamaan telah diawali dengan pelaksanaan upacara Melasti di Sungai Kahayan, yang bertujuan untuk menyucikan diri dan alam semesta. Melalui upacara melasti segala kekotoran diri dilarutkan ke dalam air yang mengalir agar kesiapan dalam memasuki titik nol saat Nyepi dapat dicapai. Setelah masa hening dilalui, perayaan akan diakhiri dengan Ngembak Geni, yang di dalamnya tradisi saling mengunjungi (Simakrama) dilaksanakan guna mempererat kembali hubungan antarmanusia.

"Segala kekotoran diri dilarutkan ke air mengalir agar umat siap memasuki titik nol saat Nyepi," kata Prof. Nyoman menambahkan

Melalui perayaan Nyepi ini, IAHN-TP Palangka Raya dan PHDI Kalteng berharap pesan perdamaian dan solidaritas dapat terpancar dari Kalimantan Tengah untuk Indonesia yang lebih bersatu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....