Sekolah Gratis di Kalteng Memutus Mata Rantai Kemiskinan

  • 08 Mar 2026 20:37 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah meluncurkan program sekolah gratis bagi pelajar SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKH) sebagai upaya meningkatkan akses pendidikan serta kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut. Program ini mencakup bantuan perlengkapan sekolah senilai Rp1 juta, simpanan pelajar sebesar Rp500 ribu di Bank Kalteng, serta dukungan melalui program Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang terintegrasi dengan Kartu Huma Betang.

Selain itu, pemerintah provinsi juga menyediakan bantuan seragam, buku, dan alat tulis bagi sekitar 60 hingga 90 ribu siswa SMA/SMK/SKH negeri maupun swasta pada tahun 2026. Secara keseluruhan, program sekolah gratis ini menjangkau lebih dari 97 ribu siswa di Kalimantan Tengah.

Sementara itu, program kuliah gratis Kalteng Berkah disediakan bagi sekitar 10 ribu mahasiswa yang menempuh pendidikan di 32 perguruan tinggi negeri dan swasta di provinsi tersebut. Program ini juga didukung oleh Beasiswa Tabe Berkah yang menyasar hingga 20 ribu mahasiswa.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.

“Pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas SDM di Kalimantan Tengah. Skema program pendidikan ini dirancang agar bantuan benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan peserta didik,” ujarnya, Jumat, 6 Maret 2026.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, menyampaikan bahwa pemerintah kota saat ini menerapkan program wajib belajar selama 13 tahun, termasuk satu tahun pendidikan di taman kanak-kanak (TK).

“Untuk wilayah Kota Palangka Raya diterapkan wajib belajar 13 tahun, termasuk satu tahun di TK. Dengan demikian, hingga jenjang SMA siswa dapat memperoleh pendidikan gratis, serta didukung program Indonesia Pintar,” katanya.

Di sisi lain, aktivis perempuan Kalimantan Tengah, Irene Natalia Lambung, menilai program sekolah gratis di Kalimantan Tengah sangat penting untuk segera direalisasikan.

Menurutnya, kondisi geografis wilayah yang luas serta jarak antar desa yang jauh kerap menjadi kendala akses pendidikan. Selain itu, angka putus sekolah juga dipengaruhi faktor ekonomi, seperti anak-anak yang harus membantu orang tua bekerja di perkebunan sawit maupun tingginya angka pernikahan dini di daerah tersebut.

Melalui program sekolah gratis ini, pemerintah berharap dapat memperluas akses pendidikan sekaligus mendorong lahirnya sumber daya manusia unggul yang mampu berkontribusi bagi pembangunan Kalimantan Tengah di masa depan.

Rekomendasi Berita