Tradisi Ketupat Menguatkan Silaturahmi di Hari Lebaran
- 28 Feb 2026 22:54 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Tradisi ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri atau Lebaran di Indonesia.
Ketupat yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda dan diisi beras ini biasanya disajikan bersama opor ayam, rendang, atau sayur santan.
Mayoritas masyarakat Muslim di berbagai daerah Nusantara menjadikannya simbol kebersamaan dan perayaan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Secara filosofis, dalam budaya Jawa, ketupat sering dimaknai sebagai simbol pengakuan kesalahan dan saling memaafkan.
Istilah “kupat” dikaitkan dengan “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Tradisi ini diyakini berkembang luas melalui dakwah para Wali Songo, terutama , yang menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di tanah Jawa.
Selain disajikan pada hari pertama Idulfitri, di sejumlah daerah tradisi ketupat juga dirayakan pada hari ketujuh setelah Lebaran, yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat.
Momentum ini menjadi ajang silaturahmi lanjutan antar keluarga dan masyarakat, sekaligus mempererat hubungan sosial setelah sebulan penuh berpuasa.
Ketupat dibuat dengan cara menganyam daun kelapa muda menjadi selongsong berbentuk belah ketupat, lalu diisi beras dan direbus hingga matang.
Proses ini bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi juga simbol kerja sama dan kebersamaan, karena sering dilakukan secara gotong royong di lingkungan keluarga atau masyarakat.
Karena ketupat bukan hanya makanan, melainkan simbol kemenangan, kebersihan hati, dan eratnya tali persaudaraan. Di tengah modernisasi, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai warisan budaya Islam Nusantara yang memperkaya makna spiritual dan sosial dalam perayaan Idulfitri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....