Masyarakat Hindari Suuzon demi Jaga Harmoni Sosial

  • 22 Feb 2026 18:21 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya- Prasangka buruk atau suuzon terhadap orang lain dinilai dapat merusak hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Sikap ini kerap muncul akibat kurangnya komunikasi, kesalahpahaman, hingga informasi yang belum tentu benar. Dalam kehidupan sehari-hari, suuzon bisa terjadi di keluarga, lingkungan kerja, pertemanan, bahkan di media sosial.

Fenomena ini semakin sering muncul di era digital ketika arus informasi begitu cepat dan tidak selalu terverifikasi. Banyak orang mudah menarik kesimpulan tanpa klarifikasi, sehingga memicu konflik, renggangnya hubungan, bahkan perpecahan di tengah masyarakat. Padahal, hubungan sosial yang sehat dibangun atas dasar saling percaya dan komunikasi terbuka.

Dalam perspektif ajaran Islam, suuzon juga dilarang karena dapat merusak persaudaraan. Melalui laman resminya, mengingatkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menjauhi prasangka buruk sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12, yang melarang banyak berprasangka karena sebagian prasangka adalah dosa. Pesan tersebut menegaskan pentingnya menjaga kehormatan dan perasaan sesama.

Dampak suuzon tidak hanya merugikan pihak yang dicurigai, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis pelakunya. Prasangka yang dibiarkan tumbuh dapat menimbulkan kecemasan, emosi negatif, dan sikap defensif. Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak reputasi seseorang serta menciptakan suasana lingkungan yang tidak nyaman.

Untuk mencegah dampak tersebut, masyarakat perlu membiasakan sikap tabayun atau mencari klarifikasi sebelum mempercayai informasi. Komunikasi langsung, keterbukaan, dan empati menjadi kunci untuk menghindari kesalahpahaman. Dengan membangun budaya saling percaya dan berpikir positif, harmoni sosial dapat tetap terjaga di tengah keberagaman.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....