Cara Melembutkan Hati dalam Islam
- 07 Sep 2026 23:27 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Setiap manusia yang bernyawa pada akhirnya akan merasakan kematian. Kesadaran terhadap kepastian tersebut hendaknya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk mempersiapkan perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat. Hal itu disampaikan H.M. Ansori, S.Sos.I., M.Pd dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Senin, 7 September 2026.
H.M. Ansori menjelaskan, Rasulullah mengingatkan bahwa apabila manusia mengetahui hakikat kehidupan setelah kematian, termasuk dahsyatnya alam kubur dan hari kiamat, maka manusia akan lebih banyak menangis dan sedikit tertawa. Menurutnya, kesadaran tersebut bukan untuk membuat seseorang larut dalam ketakutan, tetapi menjadi motivasi untuk memperbaiki diri dan melembutkan hati.
| Baca juga: Memaknai Semangat Baru di Tahun Baru Hijriah |
“Perubahan itu dari yang jelek menuju baik, dari kemunafikan menuju istiqamah, dari keraguan menjadi keyakinan, dari kesombongan menjadi ketundukan kepada Allah, serta dari kemarahan menjadi kasih sayang,” ujarnya. Ia menambahkan, manusia juga perlu berubah dari sikap sewenang-wenang dan zalim menuju kejujuran serta keadilan, sehingga sifat dan watak yang buruk dapat ditinggalkan menuju pribadi insan Islami yang lebih baik.
Ia menilai, salah satu penghalang perubahan diri adalah kelalaian manusia terhadap kematian. Kesibukan mengejar kekayaan, kedudukan dan berbagai kenikmatan dunia terkadang membuat seseorang lupa bahwa semua itu pada akhirnya akan ditinggalkan. Karena itu, mengingat kematian seharusnya mendorong manusia untuk lebih dekat kepada Allah dan tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan utama.
Menurut H.M. Ansori, cara melembutkan hati dapat dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah, antara lain dengan mendatangi masjid, menegakkan salat lima waktu dan salat sunah, melaksanakan puasa Ramadan, menunaikan zakat serta ibadah haji bagi yang telah mampu. Selain itu, orang tua juga memiliki peran penting dalam membimbing anak-anak dengan pendidikan Islam dan menanamkan kesadaran untuk selalu memperbaiki diri.
“Segeralah bertobat, karena pintu tobat masih terbuka lebar sebab rahmat dan ampunan Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa manusia,” katanya. Ia mengajak umat Islam menjadikan tobat sebagai momentum meninggalkan perbuatan buruk dan menggantinya dengan kebaikan, sehingga hati menjadi lebih lembut, kehidupan lebih bermakna, dan semakin dekat dengan rahmat serta ampunan Allah
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....