Memahami Logika Takdir dalam Islam

  • 01 Sep 2026 21:28 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Memahami takdir dalam Islam bukan berarti manusia hanya pasrah tanpa melakukan usaha. Setiap Muslim tetap diperintahkan untuk berikhtiar, menjaga diri, dan melakukan hal-hal yang dapat dilakukan sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah . Hal tersebut disampaikan Ahmad Hanafi, S.E.I., M.E., dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Selasa, 1 September 2026.

Ahmad Hanafi menjelaskan, manusia meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam ketentuan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qamar ayat 49, bahwa segala sesuatu diciptakan menurut ukuran atau ketentuan-Nya.

Namun, manusia tidak mengetahui takdir yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, tugas manusia bukan menebak-nebak takdir, melainkan menjalankan perintah Allah dan melakukan ikhtiar yang benar pada hari ini. Menurutnya, ketidaktahuan terhadap takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Manusia memang tidak mengetahui apakah esok akan sakit atau sehat, hujan atau tidak, tetapi manusia mengetahui bahwa menjaga kesehatan, menghindari bahaya, serta melindungi keluarga merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus dilakukan. “Kita tidak diperintahkan mengetahui takdir sebelum terjadi, tetapi kita diperintahkan melakukan ikhtiar yang benar,” ujarnya.

Ia menegaskan, konsep tawakal juga tidak berarti berhenti berusaha. Tawakal dilakukan setelah seseorang mengerjakan ikhtiar secara maksimal.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menghadapi kondisi udara yang buruk akibat kabut asap. Masyarakat dapat mengurangi paparan asap, menggunakan masker ketika berada di luar ruangan, menjaga kesehatan keluarga, serta segera memperhatikan keluhan kesehatan, setelah berusaha, barulah hasilnya diserahkan kepada Allah .

Ahmad Hanafi kemudian mengingatkan kisah Khalifah Umar bin Khattab ketika menghadapi wabah di wilayah Syam. Umar memilih tidak memasuki wilayah yang sedang dilanda wabah.

Ketika ditanya apakah keputusan tersebut berarti menghindari takdir Allah, Umar menjawab, “Kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah.” Menurutnya, menghindari bahaya bukan berarti melawan takdir, karena usaha manusia untuk menjaga keselamatan juga berada dalam ketentuan Allah.

Karena itu, Ahmad Hanafi mengajak umat Islam memahami takdir melalui rangkaian iman, ikhtiar, tawakal, dan sabar. Sabar bukan berarti diam dan pasrah tanpa tindakan, melainkan tetap melakukan hal yang benar ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan.

Dengan pemahaman tersebut, manusia dapat menerima ketetapan Allah sekaligus tetap bertanggung jawab melakukan usaha terbaik dalam kehidupannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....