RRI Edukasi Pelajar Waspadai Penyebaran Radikalisasi di Media Sosial
- 22 Jul 2026 20:45 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Radio Republik Indonesia (RRI) Palangka Raya melalui program Pro 2 Goes To School mendorong peningkatan literasi digital di kalangan pelajar. Salah satunya melalui kegiatan talkshow di SMA Negeri 2 Palangka Raya tentang bahaya radikalisasi digital yang dapat menyebar melalui media sosial dan game online.
Kegiatan ini menjadi upaya memperkuat kemampuan pelajar dalam menyaring informasi, sekaligus membangun ketahanan mental dan karakter agar tidak mudah terpengaruh paham radikal.
Narasumber dari Densus 88 Anti Teror Polri, Iptu Ganjar Satriyono, mengatakan perkembangan media sosial yang semakin masif turut dimanfaatkan kelompok radikal dan kelompok kekerasan untuk menyebarkan paham serta merekrut anak dan remaja. Menurutnya, media sosial menjadi salah satu sarana yang efektif bagi kelompok tersebut untuk menjangkau generasi muda.
“Tentunya para pelajar harus saring sebelum sharing. Kita ketahui bila mana di lingkungan sekolah pelajar bisa menanyakan langsung kepada tenaga pendidik apakah konten tersebut konten yang bisa dinikmati atau dilihat itu sudah sesuai dan merupakan konten yang berguna. Bila mana di lingkungan rumah atau di lingkungan sekitar rumah bisa menanyakan langsung dengan orang tua,” ujarnya, Selasa, 21 Juli 2026.
Ganjar menekankan pentingnya keterbukaan antara anak dan orang tua. Menurutnya, kondisi anak harus menjadi perhatian bersama supaya anak tumbuh positif dan bisa meraih cita-citanya.
Sementara itu narasumber lainnya, Psikolog Rensi menjelaskan remaja menjadi kelompok yang rentan terpapar paham radikal karena masih berada dalam tahap perkembangan psikologis, termasuk dalam pengambilan keputusan dan melihat potensi risiko. Di sisi lain, remaja juga sedang mencari identitas dan penerimaan, sehingga dapat lebih mudah tertarik pada kelompok atau paham yang memberikan rasa diterima dan dianggap memiliki tujuan.
“Baik orang tua maupun lingkungan sekolah berperan sangat penting, karena pada usia remaja tentunya lingkungan utamanya tidak hanya keluarga tapi juga adalah lingkungan sekolah. Sangat berperan sekali bagaimana menciptakan lingkungan yang positif, kalau di rumah keluarga tentunya membangun komunikasi yang efektif, sehingga anak cenderung menjadi lebih terbuka ketika menghadapi sesuatu atau mengalami sesuatu, mereka mampu mengungkapkan, mampu menceritakan, sehingga itu bisa menjadi dasar untuk kita mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Dari lingkungan pendidikan, Kepala SMAN 2 Palangka Raya, M. Rifani, menegaskan sekolah memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada pelajar tentang bahaya radikalisme digital. Menurutnya, dunia pendidikan juga perlu menjadi lingkungan yang mampu membekali pelajar dengan pemahaman yang baik, sehingga mereka tidak mudah menerima informasi secara mentah dan terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
“Kita harus memberikan pemahaman bahwasanya menggunakan media sosial itu dengan bijaksana dan bertanggung jawab agar setiap segala sesuatu yang mereka lihat, mereka dengar tidak langsung ditelan mentah-mentah, tetapi bagaimana bisa mereka menyaring dan menyikapinya dengan baik dan benar,” ujarnya.
Melalui program Pro 2 Goes To School, RRI terus berupaya menghadirkan edukasi yang relevan bagi generasi muda, termasuk memperkuat literasi digital, ketahanan mental, dan peran sekolah dalam mencegah radikalisasi di era digital. Dengan kolaborasi antara media, sekolah, keluarga, dan berbagai pihak terkait, pelajar diharapkan mampu menjadi pengguna media sosial yang kritis, bijak, dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mengarah pada radikalisme. (Enjang Dwi Hapsari)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....