Memaknai Arti Bahagia Dunia dan Akhirat

  • 29 Jun 2026 12:20 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Kebahagiaan dalam hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, jabatan, maupun pencapaian duniawi. Manusia perlu menyiapkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan bekal menuju akhirat. Pesan tersebut disampaikan oleh H.M. Ansori, S.Sos.I., M.Pd dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Palangka Raya, Senin, 29 Juni 2026.

H.M. Ansori menyampaikan bahwa manusia hendaknya tidak menunda amal sholeh dan ibadah dengan alasan masih muda. Menurutnya, umur merupakan rahasia Allah dan tidak ada yang mengetahui kapan ajal akan datang.

“Jangan lupa amal sholeh, beribadah jangan menunggu tua, karena kalau sudah tua belum tentu kita masih mampu melakukan banyak hal. Umur kita tidak tahu batasnya, bahkan orang-orang yang dipanggil Allah bukan hanya mereka yang sudah tua, tetapi siapa saja yang Allah kehendaki,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu penyebab manusia lalai terhadap akhirat adalah karena terlalu mencintai kehidupan dunia. Banyak orang merasa memiliki waktu panjang sehingga melupakan persiapan untuk kehidupan setelah kematian.

Padahal, menurutnya manusia perlu mencari bekal dunia tanpa meninggalkan persiapan untuk akhirat. “Manusia bisa memiliki banyak ilmu, bahkan mampu mencapai hal-hal yang dulu hanya menjadi impian seperti menjelajah luar angkasa, tetapi ada satu hal yang tetap menjadi rahasia, yaitu kematian.

Itu adalah urusan Allah, manusia hanya diberikan ilmu sedikit,” katanya.Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa harta benda, jabatan, dan segala yang dimiliki manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawaban.

Dunia hanyalah tempat membangun perjalanan menuju kehidupan berikutnya, sementara amal kebaikan menjadi penerang dalam kehidupan akhirat. Salah satu bekal yang dapat dibawa adalah membaca dan mengamalkan Al-Qur’an serta memperbanyak amal kebajikan.

H.M. Ansori juga mengajak masyarakat untuk memperpendek angan-angan terhadap dunia, menjaga perkataan, menjauhi perkara yang tidak bermanfaat, serta tidak menunda taubat. Ia menegaskan bahwa kecintaan berlebihan kepada dunia dapat membuat hati keras dan membuat manusia lalai menjalankan kewajibannya.

“Mumpung masih muda, mari terus berbuat kebaikan, mencegah kemungkaran, dan jangan pernah putus asa dalam berdakwah,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....