Hari Raya Galungan 2026, Momentum Perkuat Dharma dan Kebersamaan Umat Hindu
- 18 Jun 2026 07:59 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Hari Raya Galungan tahun 2026 yang jatuh pada Rabu, 17 Juni, kembali menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk memperingati kemenangan Dharma atau kebaikan atas Adharma atau kejahatan. Perayaan ini tidak hanya dimaknai sebagai hari suci keagamaan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya, nilai spiritual, serta kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian perayaan Galungan akan berakhir dengan Hari Raya Kuningan yang diperingati sepuluh hari kemudian, tepatnya pada Sabtu, 27 Juni 2026. Selain sarat dengan makna religius, Galungan juga identik dengan berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi pemasangan penjor, persiapan sesajen, hingga kegiatan gotong royong menjelang hari raya menjadi bagian penting yang mempererat hubungan antarsesama umat. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan meski masyarakat kini hidup di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Hindu IAHN-TP Palangka Raya, Komang Widyana, mengatakan perayaan Galungan memiliki kontribusi besar dalam memperkuat identitas budaya dan keagamaan umat Hindu. Menurutnya, tradisi seperti pembuatan penjor dan budaya gotong royong menjelang Galungan merupakan warisan budaya yang perlu terus dilestarikan oleh generasi muda.
"Perayaan Galungan itu walaupun zaman sudah mulai berubah, yang penting esensi dari perayaan Galungan itu secara umum adalah hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Dan juga bagi generasi muda khususnya ini jangan sekali-kali kita melupakan tradisi kita," ucapnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Komang menambahkan, modernisasi tidak boleh menghilangkan makna utama Galungan sebagai sarana pengendalian diri dan penguatan nilai-nilai kebaikan. Ia mengajak umat Hindu untuk tidak hanya merayakan secara seremonial, tetapi juga memahami filosofi dan ajaran yang terkandung dalam Hari Raya Galungan.
Sementara itu, umat Hindu di Palangka Raya, Widhiasih, mengungkapkan bahwa persiapan Galungan telah dilakukan sejak beberapa hari sebelum puncak perayaan. Mulai dari menyiapkan banten atau sesajen, membuat makanan tradisional, hingga melaksanakan persembahyangan bersama keluarga dan umat di pura. Baginya, Galungan menjadi momen yang sangat berharga untuk mempererat hubungan keluarga dan menjaga keharmonisan.
"Galungan ini penting untuk umat Hindu ya, karena ini merupakan hari kemenangan Dharma. Dharma ini merupakan kebaikan melawan Adharma atau kejahatan. Nah ini untuk menjadi pengingat biar umat Hindu itu selalu menjalankan ajaran kebaikan dalam kehidupan sehari-harinya," katanya.
Di kalangan generasi muda, perayaan Galungan juga dimaknai sebagai pengingat untuk tetap berpegang pada jalan kebenaran. Pemuda Hindu, Mulyadi, menilai nilai-nilai Dharma yang diajarkan dalam Galungan dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Ia juga melihat media sosial sebagai sarana efektif untuk mengenalkan makna Galungan kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
"Media sosial itu sangat efektif untuk menjelaskan makna Galungan itu kepada masyarakat luas. Terutama kita generasi muda, itu bisa memanfaatkan sosial media tersebut. Apalagi zaman sekarang AI itu sudah berkembang," ujarnya.
Melalui perayaan Hari Raya Galungan tahun ini, umat Hindu diharapkan tidak hanya menjaga tradisi yang telah diwariskan leluhur, tetapi juga terus mengamalkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Semangat kebaikan, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama menjadi pesan utama yang diharapkan dapat terus hidup di tengah masyarakat hingga perayaan Hari Raya Kuningan mendatang. (Hesa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....