Sisi Spiritual Pernikahan dalam Islam
- 03 Mei 2026 05:32 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Pernikahan dalam Islam tidak hanya dipahami sebagai ikatan lahiriah antara dua insan, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Hal ini disampaikan oleh Zidni Mawadah, S.Sos.I dalam program Mimbar Agama Islam Pro1 RRI Palangka Raya. Minggu, 3 Mei 2026.
Dalam pemaparannya, Zidni Mawadah menjelaskan bahwa dinamika rumah tangga sejatinya bukanlah hambatan, melainkan sarana untuk membersihkan diri. “Setiap dinamika yang timbul dalam rumah tangga kita jadikan sebagai laboratorium pembersihan diri atau tazkiyatunnah (pembersihan jiwa),” ujarnya.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan tujuan pernikahan, yakni untuk menciptakan ketenteraman, cinta, dan kasih sayang (sakinah, mawaddah, warahmah). Menurutnya, ayat tersebut menjadi dasar bahwa pernikahan dalam Islam bertujuan membangun keluarga yang harmonis dan penuh keberkahan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa ketenangan dalam rumah tangga tidak datang secara instan. “Ketenangan harus diperjuangkan melalui proses. Dalam kehidupan rumah tangga, kita dihadapkan pada berbagai ujian, seperti perbedaan pendapat, karakter, dan kebiasaan yang sering kali memicu konflik,” katanya.
Zidni Mawadah juga menekankan bahwa konflik dalam rumah tangga adalah hal yang wajar. Tidak ada keluarga yang sepenuhnya bebas dari konflik, karena menyatukan dua individu dengan latar belakang berbeda bukanlah perkara mudah, di situlah letak nilai spiritual pernikahan.
Ia menguraikan bahwa pernikahan memiliki dimensi transendensi spiritual, di mana seseorang belajar melampaui ego pribadi. “Seringkali kita ingin menang sendiri dan ingin dipahami tanpa memahami. Dalam pernikahan, kita belajar menahan amarah dan mengedepankan kasih sayang. Ini adalah jihad terbesar, yaitu melawan hawa nafsu,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pernikahan juga merupakan ibadah berkelanjutan sepanjang hayat. Aktivitas seperti memberi kasih sayang, melayani pasangan, mendidik anak, dan menjaga keharmonisan rumah tangga akan bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.
Selain itu, pernikahan menjadi sarana muhasabah atau introspeksi diri. Pasangan hidup, menurutnya, sering kali menjadi cermin yang menunjukkan kekurangan diri.
“Apa yang kita lihat pada pasangan bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri,” katanya.Ia juga menyebut pernikahan sebagai “madrasah kehidupan”, tempat seseorang belajar kesabaran, tanggung jawab, dan cinta yang tulus.
Tidak ada sekolah kehidupan yang lebih nyata dibandingkan rumah tangga. Di akhir tausiyahnya, Zidni Mawadah mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam pernikahan.
“Jika kita memandang pernikahan hanya sebagai rutinitas dunia, kita akan mudah lelah dan kecewa. Namun jika kita memandangnya sebagai jalan menuju Allah, maka setiap ujian akan terasa ringan dan penuh makna,” ujarnya.
Ia pun mengajak umat Islam untuk menjadikan pernikahan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah . Menjalani sisi pernikahan dengan niat yang ikhlas dan kesungguhan dalam menjalani setiap dinamika kehidupan rumah tangga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....